Kinerja Dua Emiten Rokok Melempem di Semester Pertama

NERACA

Jakarta – Lantaran beban penjualan tinggi terutama cukai, membuat dua produsek rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba di semester pertama 2012. GGRM meraup laba Rp 2,12 triliun di semester I-2012, turun Rp 196,853 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 2,32 triliun.

Informasi tersebut disampaikan dalam laporan kinerja keuangan perseroan di Jakarta, Selasa (31/7). Kendati mengalami penurunan laba, penjualan perseroan tercatat naik dari Rp 19,84 triliun di paruh pertama tahun lalu menjadi Rp 23,55 triliun tahun ini.

Namun, beban pokok penjualan naik lebih tinggi di waktu yang sama, yaitu menjadi Rp 19,1 triliun di enam bulan pertama tahun ini dari sebelumnya hanya Rp 15 triliun. Sehingga, laba kotor perseroan hanya Rp 4,54 triliun, turun dari sebelumnya Rp 4,77 triliun.

Setelah ditambah pendapatan lain serta beberapa beban lain, maka laba usaha perseroan dibukukan Rp 3 triliun dari sebelumnya Rp 3,1 triliun. Setelah dipotong pajak, maka laba bersih perseroan juga ikut turun. Sedangkan laba per saham GGRM turun juga dari Rp 1.192 per lembar menjadi hanya Rp 1.092 per lembar.

GGRM juga mencatat terdapat penurunan aset sebesar Rp 387,854 miliar, dari Rp 39,088 triliun pada 31 Desember 2011, menjadi Rp 38,700 triliun pada 30 Juni 2012. Perseroan juga mencatat jumlah yang sama pada liabilitas dan ekuitas. Di sisi lain, GGRM mencatat kenaikan pada arus kas di akhir Juni ini. Kas Gudang Garam naik Rp 78,878 miliar, dari Rp 1,998 triliun menjadi Rp 2,077 triliun.

Sebelumnya, sehari yang lalu, emiten rokok lainnya PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) mencatat kerugian Rp 156,138 miliar di paruh pertama 2012, dari tahun sebelumnya pada periode yang sama meraup laba Rp 235,148 miliar. Kerugian diakibatkan tingginya beban pokok penjualan dan operasional.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan RMBA tahun buku semester I-2012, pendapatan perseroan hanya naik tipis, dari Rp 4,7 triliun tahun lalu menjadi Rp 4,793 triliun. Sayangnya, beban pokok penjualan naik tinggi menjadi Rp 4 triliun dari sebelumnya hanya Rp 3,59 triliun.

Ditambah beban operasional yang juga naik, dari Rp 736,6 miliar tahun lalu menjadi Rp 878,6 miliar di enam bulan pertama tahun ini. Sehingga, perseroan menderita rugi usaha sebesar Rp 147,26 miliar dari keuntungan usaha di tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp 371,12 miliar. Laba per saham perseroan ang tadinya Rp 32,5 per lembar menjadi rugi per saham Rp 21,6 per lembar. (didi)

BERITA TERKAIT

Bisnis Rokok 2018 Ditaksir Makin "Mengepul" - Kenaikan Cukai Lebih Rendah

NERACA Jakarta – Kepulan asap bisnis rokok di tahun depan, diprediksi masih akan tetap tebal seiring dengan rencana anggaran pendapatan…

Summarecon Sasar Dua Tipe Konsumen Pameran 2017

Summarecon Sasar Dua Tipe Konsumen Pameran 2017 NERACA Bekasi - PT Summarecon Agung Tbk tengah menyasar dua tipe konsumen Indonesia…

Sanksi Delisting Pilihan Pahit Bagi Investor - Tertibkan Emiten Tidak Disiplin

NERACA Jakarta – Memberikan efek jera terhadap emiten-emiten nakal yang tidak disiplin memenuhi aturan pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…