Minim Investor, Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal Belum Efektif

NERACA

Jakarta – Ambisi industri pasar modal bisa meningkatkan edukasi dan jumlah investor, selama ini dinilai belum efektif karena pertumbuhan investor masih stagnan. Oleh karena itu, edukasi pasar modal yang dilakukan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bersama lembaga Self Regulatory Organization (SRO) dinilai perlu di perbanyak lagi skalanya.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan, edukasi pasar modal dan sosialisasi pasar modal perlu digalakkan lagi, karena kalau hanya sesekali dianggap tidak akan efektif, “Kalau perlu lembaga SRO dan otoritas bursa turun langsung ke lapangan untuk menemui organisasi yang ada di masyarakat,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (31/7).

Menurutnya, terbentuknya asosiasi apapun di pasar modal jika tidak ada program edukasi yang berkala maupun ajakan yang rutin kepada masyarakat untuk mengetahui pasar modal maka akan sangat sulit terwujud penambahan jumlah investor.

Bahkan, lanjutnya, kemitraan dengan lembaga SRO tersebut juga tidak akan efektif jika yang di edukasi adalah nasabah-nasabah pasar modal yang telah masuk dan bertransaksi di dalamnya.“Yang dibutuhkan ialah investor baru atau calon investor yang belum mengetahui pasar modal. Lalu di edukasi hingga akhirnya, mereka mau masuk ke pasar modal,”ungkapnya. Kata Reza, saatnya lembaga pasar modal harus membuka wawasan investor pemula tentang dunia keuangan dan bukan hanya perbankan melalui produk tabungan, deposito atau giro. Pasalnya, masih ada instrument investasi pasar modal yang menjadi tempat untuk menempatkan dana disana.

Perlu Turun Lapangan

Dia mencontohkan, banyak organisasi-organisasi yang ada di masyarakat menjadi sasaran empuk untuk menambah investor baru, mulai dari Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Himpunan Penguasan Muda Indonesia (HIPMI), Partai Politik hingga organisasi masyarakat baik yang bersifat umum maupun agama, “Jadi, yang turun ke lapangan bukan hanya sekuritas melalui marketing-marketingnya tapi perlu orang SRO dan otoritas pasar modal juga ikut terlibat,”tandasnya.

Sosialisasi yang terpenting lainnya menurut Reza, adalah melalui pemberitahuan di iklan dan di sekolah-sekolah. Menurutnya, kalupun ada iklan di media, maka lebih banyak ke media bersifat keuangan. “Perlu juga adanya iklan atau pemberitahuan di media-media lain selain media keuangan,” ungkapnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalin kerja sama dengan Muslimat Nahdathul Ulama (NU) untuk mendukung kegiatan sosialisasi dan perencanaan investasi di pasar modal dalam negeri. Kemudian BEI juga menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya untuk lebih mengenalkan pasar modal dan bagaimana berinteraksi di dalamnya termasuk bagaimana menambah jumlah investor.

Sinergis Dengan SRO

Sebelumnya, pengamat pasar modal dari Capital Bridge Indonesia Aji Martono mengungkapkan betapa pentingnya mengupayakan edukasi di pasar modal secara terus menerus. “Tugas kita di dalam Asosiasi Profesi Pasar Modal Indonesia (APPMI), bermitra dengan BEI, KSEI, KPEI, dan Bapepam-LK tidak henti-hentinya melakukan edukasi di pasar modal. Agar berguna bagi para investor lebih memahami investasi di pasar modal secara benar. Kemudian untuk menambah jumlah investor di pasar modal tanah air yang jumlahnya masih sedikit,” katanya.

Sementara di pihak President Direktur PT Indo Premier Securities Alpino Kianjaya mengungkapkan, edukasi mengenai industri pasar modal masih menjadi kendala sehingga jumlah investor di Indonesia masih rendah.

Dia menambahkan, pihaknya berharap dapat terus bekerja sama dengan BEI untuk memberikan pendidikan-pendidikan, maupun memberikan fitur produk-produk yang diluncurkan perusahaan. "Dalam menambah jumlah investor yang terpenting adalah edukasi pasar modal ke masyarakat. Bisa dikatakan Indonesia merupakan surga bagi investor," ujarnya.

Alpino Kianjaya meyakini, pihaknya dapat terus menambah jumlah nasabah terutama dengan melihat perkembangan infrastruktur dan teknologi yang ada saat ini. "Harusnya jutaan nasabah itu gampang. Namun, masih ada kelemahan yang membuat jumlah nasabah belum bisa maksimal, yakni 'awareness',"ungkapnya.

Maka untuk mendorong jumlah investor pasar modal, pihak Indo Premier secara terus menerus melakukan pembukaan kantor cabang di kota-kota besar. Saat ini, jumlah kantor cabang Indo Premier telah mencapai 17 kantor. (didi)

BERITA TERKAIT

Milenium Prudent Gaet Investor Tiongkok

PT Milenium Prudent menjalin kerja sama investasi dengan perusahaan Tiongkok, Cheng Xin Shang Hui, khususnya di bidang futures trading di…

Emiten Dituntut Transparan Prospek Usaha - Lindungi Investor Publik

NERACA Jakarta – Sikap ngotot PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tetap menghapus secara paksa pencatatan saham (forced delisting) empat emiten menuai…

Bank Sumut Minta Disuntik Modal Rp600 miliar

  NERACA Medan - PT Bank Sumut membutuhkan suntikan atau penambahan modal Rp600 miliar khususnya dari Pemerintah Provinsi Sumut untuk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Chandra Asri Raih Peringkat Ba3 dari Moody’s

Moody's Investors Service menyematkan peringkat Ba3 terhadap surat utang yang akan diterbitkan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Chandra Astri…

BFIN Tawarkan Kupon Obligasi Hingga 7,75%

PT BFI Finance Tbk (BFIN) akan melakukan penawaran umum obligasi berkelanjutan III tahap III tahun 2017 dengan jumlah pokok Rp835…

Pefindo Tawarkan Kredit Mudah dan Cepat

Proses analisa aplikasi kredit baru maupun pemantauan kredit debitor eksisting kini semakin cepat, efisien dan mudah. Cukup dengan dengan menjadi…