Digemari Pasar Dunia, Ekspor Kopi Makin “Harum”

NERACA

Jakarta - Jepang dan Amerika Serikat (AS) adalah dua negara yang paling menggemari kopi lokal. Keduanya sepanjang tahun 2011 tercatat telah mengimpor kopi Indonesia sebanyak 100,11 ribu ton dengan nilai transaksi mencapai US$ 413,1 juta. Data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menunjukkan, Jepang telah mengimpor 55 ribu ton kopi lokal senilai US$ 161,101 juta. Sementara AS mencatat volume impor kopi 45.118 ton senilai US$ 252,001 juta.

Wakil Ketua Umum Bidang Bina Tani Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, Salmi Saleh mengatakan, nilai transaksi AS memang lebih tinggi meski volumenya jauh lebih rendah. AS mampu menghargai kopi Indonesia jauh lebih mahal yaitu US$ 52 per pon.“Sepanjang 2011 tercatat volume ekspor ke kedua negara turun dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan AEKI, tahun 2010 volume eskpor kopi ke Jepang berada di angka 58.477 ton. Sedangkan volume ekspor kopi ke AS mencapai 58.736 ton,” ungkapnya saat dihubungi Neraca, Selasa (31/7).

Untuk keseluruhan ekspor, Salmi mengungkapkan Indonesia telah mencatatkan sejarah dengan pencapaian ekspor menembus angka US$ 1 miliar lebih. "Belum pernah terjadi ekspor 2011 mencapai angka US$ 1 miliar," terangnya.

Tahun ini, pelaku industri kopi mengharapkan pertumbuhan nilai ekspor kembali terjadi. Pertumbuhan ekspor ditargetkan menembus angka US$ 1,2 miliar. Saat ini, data mencatat produksi kopi Indonesia mencapai 700 ribu ton per tahun, mencakup 140 ribu ton untuk Kopi Arabika dan 560 untuk Kopi Robusta. "Tahun ini ditargetkan produksi mencapai 900 ribu ton, 180 ribu ton untuk Arabika, sisanya Robusta," tandasnya.

Sementara itu Brand Marketing Manager Top Kopi, selaku anak perusahaan PT Harum Alam Segar (Wingsfood), mengatakan potensi pasar kopi serbuk instan sangat besar sejalan dengan jumlah peminum kopi di Indonesia. “Untuk membantu program hilirisasi industri kopi, PT Harum Alam Segar (Wings Food) tergerak untuk menjajal pasar kopi di dalam negeri. Dengan mengusung merek dagang Top Kopi, Wings Food menjadi anak baru di persaingan segmen kopi,” katanya.

Jessica menuturkan, Wings Food menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menyiapkan produk ini. Persiapannya sendiri berupa proyeksi pasar, persiapan promosi, terutama komposisi. “Kami membutuhkan waktu persiapan yang lama karena tidak ingin mengecewakan konsumen di mana nama Wings Food telah memiliki nama yang baik di mata konsumen. Persiapan terlama dibutuhkan untuk menciptakan komposisi yang merupakan campuran dari kopi robusta dan Arabica. Dan inilah produk kopi instan pertama di Indonesia yang merupakan hasil 'blending' dari kedua jenis kopi tersebut,” paparnya.

Adapun Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wachyudi mengungkapkan sedang menyusun road map untuk program hilirisasi industri kopi nasional dan pengembangan specialty coffee, yang menjadi bagian dari program tersebut.

“Kemenperin sedang meng-update sejumlah kondisi yang dialami sektor kopi. Programnya menyeluruh mulai dari hulu yakni peningkatan produksi petani hingga ke hilir, termasuk memperhitungkan aspek perdagangannya,” katanya.

Benny menyatakan industri hilir kopi di dalam negeri menunjukkan pertumbuhan potensial, meskipun sporadis dan tidak dalam magnitude besar. “Investasi di sektor kopi itu agak berbeda. Karena berupa consumer goods, ekspansinya bergantung pada pasar atau market driven,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Industri Galangan Kapal Perlu Manfaatkan Peluang Tol Laut - Dunia Usaha

NERACA Jakarta – Pemerintah telah mengalokasikan anggaran bagi pembangunan kapal-kapal negara untuk memenuhi kebutuhan moda transportasi laut di dalam negeri.…

Sari Roti Masuk Pasar Korea Selatan - Gandeng Kerjasama Caffebene

NERACA Jakarta –  Sukses membuka pasar di Filipina dengan membangun pabrik baru, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebagai perusahaan…

MNC Leasing Bidik Pasar Pembiayaan Alkes

NERACA Jakarta – Besarnya potensi pasar industri alat kesehatan (Alkes) di Indonesia, menjadi ceruk pasar yang cukup menjanjikan. Oleh karena…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Tingkatkan Daya Saing - Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…