Impian Mobil Listrik

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Era mobil listrik Indonesia segera tiba, kalimat itulah yang selalu di suarakan Menteri Negara (BUMN) Dahlan Iskan pasca melakukan uji coba mobil listrik dari Depok sampai gedung BPPT dengan jarak 50 kilo meter. Uji coba mobil listrik ini terbilang sukses, kendati sempat mogok lantaran masalah teknis. Kehadiran mobil listrik menjadi impian bangsa ini ditengah gempuran mobil buatan Jepang, Korea dan China yang menguasai pasar industri otomotif dalam negeri.

Oleh karena itu, pemerintah mempunyai komitmen akan mengembangkan mobil listrik menjadi mobil nasional (Mobnas). Dimana tahun 2014, mobil listrik ini nantinya akan di produksi sebanyak 10 ribu unit. Kesuksesan mobil listrik yang dibuat alumnus ITB Dasep Ahmadi ini menjadi deretan panjang setelah LIPI juga memproduksi kendaraan listrik bus dan juga berbagai macam kendaraan city car.

Gagasan mobil listrik menjadi Mobnas, juga dibuktikan pemerintah dengan rencana membentuk Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri Otomotif. Pusat ini akan melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, dan BUMN. Lalu, Pemerintah akan menyelesaikan semua peraturan pemerintah yang terkait dengan insentif dan disinsentif.

Bukan kali ini saja pemerintah selalu sesumbar untuk mendukung mobil nasional yang merupakan hasil karya cipta anak bangsa. Sebelumnya, ada mobil Timor, Tawon, Komodo dan yang teranyar Esemka (SMK) hasil kreasi anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Solo, Jawa Tengah, yang dipopulerkan Wali Kota Solo Joko Widodo. Ironisnya, kehadiran mobil-mobil buatan anak bangsa ini kandas di tengah jalan lantaran dukungan pemerintah masih setengah hati.

Maka tak ayal, usulan mobil listrik menjadi Mobnas juga masih menyimpan keraguan bakal sukses sebagai program mobil nasional yang benar-benar dipatenkan. Alasannya, dibalik banyaknya dukungan ada pula penolakan yang kebanyakan disuarakan para agen pemegang merek tunggal (ATPM) karena keterbatasan komponen lokal hingga persoalan purna jual.

Intinya, keberatan mereka bertujuan agar proyek mobil listrik ini gagal karena bisa mengancam pasar penjualan mereka. Memang impian mobil listrik menjadi mobil nasional butuh proses pajang dan perlu komitmen dukungan penuh pemerintah dan bukan lips service. Karena sudah rahasia umum, setiap kebijakan yang diambil pemerintah akan berubah seiring dengan pemerintahan yang baru.

Alhasil bila sudah demikian, soal mobil listrik menjadi Mobnas hanya menjadi impian di siang bolong dan bukan menjadi kenyataan, sebagaimana keberhasilan India dan Cina mampu memproduksi mobil sendiri.

Seandainya mobil listrik menjadi mobil nasional dan bisa dipasarkan secara massal, dipastikan seburuk apapun hasilnya, masyarakat Indonesia akan mengapresiasi karena ada suatu kebanggan bisa memiliki hasil karya anak negeri dan tentunya memberikan nilai positif bagi sisi perekonomian.

BERITA TERKAIT

Skema PPnBM Diubah untuk Pacu Pengembangan Mobil Listrik

Pemerintah siap memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Dalam aturan baru ini, PPnBM tidak…

Jaguar Land Rover Tarik 44.000 Mobil Karena Problem Emisi

Produsen mobil mewah Jaguar Land Rover (JLR) yang berada di bawah naungan perusahaan India Tata Motors, akan menarik kembali sebanyak…

Peduli Sentani Jayapura - Gandeng PMI, Indosat Terjunkan Mobil Klinik

Musibah banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura Papua menjadi duka bagi bangsa ini. Berdasarkan data, Rabu (20/3), korban meningal dunia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bianglala Keuangan Inklusif

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sebagai masyarakat demokrasi yang harus terlibat dalam partisipasi, publik dibuat bertanya – tanya, entah…

Menjawab Kasus Kartel

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Dalam diskusi tempo hari, penulis sudah membeberkan fakta-fakta yang memperkuat dugaan penulis tentang adanya kartel…

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…