Awal Pekan Rupiah Naik 16 Poin

NERACA

Jakarta—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal pekan menunjukkan tanda-tanda penguatan, bahkan terangkat naik 16 poin. Hal ini dipicu dari pertumbuhan Amerika Serikat yang melambat pada kuartal ke dua tahun ini.

Berdasarkan catatan, menurut analis Monex Investindo Futures Johanes Ginting, apresiasi mata uang rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta Senin sore bergerak menguat menjadi Rp9.464 dibanding posisi sebelumnya senilai Rp9.480 per dolar AS. "Laporan Departemen Perdagangan AS menunjukkan pertumbuhan ekonominya melambat pada kuartal ke II, kondisi itu memicu dolar AS melemah terhadap mata uang dunia lainnya," ujarnya

Bahkan Ginting, menambahkan produk domestik bruto (GDP) AS hanya tumbuh di angka 1,5 persen sepanjang periode April-Juni, yang merupakan laju pertumbuhan terlemah sejak kuartal ke tiga tahun 2011.

Namun, lanjut Ginting, perlambatan itu dinilai pasar belum cukup mengkhawatirkan untuk mendesak Federal Reserve AS dalam mendorong lebih banyak uang ke dalam perekonomian. "Data GDP masih sesuai perkiraan, hal itu dianggap cukup kuat untuk mendukung pandangan bahwa the Fed masih akan memantau pertumbuhan ekonomi selanjutnya dari dua data ketenagakerjaan berikutnya, sebelum memutuskan peluncuran pelonggaran kuantitatif tambahan," tambahnya

Dikatakan Ginting, penguatan rupiah juga termotivasi dari Kanselir Jerman dan Presiden Perancis yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan apa saja guna menyelamatkan negara-negara kawasan Euro.

Selain itu, lanjut Ginting, Menteri Keuangan Jerman yang mendukung komitmen Presiden ECB Mario Draghi juga turut mendorong pemulihan mata uang euro. "Pekan lalu Presiden ECB tersebut berjanji pihaknya akan melakukan apa saja guna meyelamatkan mata uang tunggal Euro. Hal itu akan membawa dampak positif bagi mata uang rupiah terhadap dolar AS nantinya," imbuhnya

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Senin (30/7) tercatat mata uang rupiah tidak bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.485 per dolar AS.

Ditempat terpisah, pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova, penguatan rupiah dipicu oleh komitmen bank sentral Eropa (ECB) dalam penyelesaian krisis utang di Eropa. "Pihak ECB berkomitmen untuk melakukan apa saja dalam menyelesaikan krisis utang di Eropa, dengan begitu maka nilai tukar euro akan kembali stabil," ungkapnya

Rully menambahkan, ECB memberikan kepastian untuk menjaga likuiditas pasar obligasi negara terutama di Spanyol, Italia dan beberapa negara lain yang terkena krisis utang sehingga yield obligasi di negara-negara krisis akan menjadi rendah.

Lebih lanjut Rully mengatakan, komitmen yang dikemukakan ECB memberikan keyakinan kepada investor pasar uang untuk kembali menempatkan dana investasinya ke dalam aset-aset berisiko. "Kondisi itu akan membuat rupiah kembali mempunyai ruang penguatan pada awal pekan seiring masih kuatnya euforia dari pernyataan ECB itu. **ria

BERITA TERKAIT

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

Mengurangi Tekanan Rupiah, Surplus Perdagangan Perlu Dijaga

        NERACA   Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya meminta pemerintah terus meningkatkan surplus neraca perdagangan…

Harga Premium Batal Naik, Pemerintah Malah Dikritik

  Oleh: Fajar Zulfadli S, Mahasiswa FISIP UNJ   Pemerintahan Indonesia era Presiden Joko Widodo cukup menarik perhatian berbagai kalangan.…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Titik Keseimbangan Rupiah Di Posisi Rp15.000

      NERACA   Jakarta - Ekonom Agustinus Prasetyantoko menilai level Rp15.000-an per dolar AS saat ini merupakan titik…

Peringkat Daya Saing Indonesia Diurutan ke 45

    NERACA   Jakarta - Indeks Daya Saing Global atau Global Competitiveness Index 4.0 dengan metodologi baru edisi 2018…

BI Perkirakan Anggaran Penerimaan Operasional Naik 7,9%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan anggaran penerimaan operasional meningkat 7,9 persen menjadi RpRp29,1 triliun pada…