Harga Komoditas Turun, Permintaan Alat Berat Mulai Lesu

NERACA

Jakarta - Terpuruknya harga komoditas di pasar internasional menyebabkan permintaan alat berat di dalam negeri mulai lesu. Memang, pada semester I 2012, penjualan alat berat masih tumbuh 45% dibandingkan periode yang sama di 2011.Namun, belakangan, penjualan alat berat mulai melandai. Tak heran, produsen alat berat merevisi target mereka. Langkah serupa juga diikuti distributor alat berat.

Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), Pratjojo Dewo mengungkapkan, pihaknya telah memangkas target produksi alat berat di dalam negeri sebesar 15% untuk tahun ini. Jika, sebelumnya produksi alat berat ditargetkan mencapai 10.000 unit, maka target tersebut direvisi menjadi hanya 8.500 unit.

Menurut Pratjojo, faktanya, harga komoditas global melandai seiring lemahnya permintaan. "Hal ini berimbas pada penurunan permintaan alat berat di di dalam negeri, sehingga kami harus merevisi target produksi tahun ini," katanya saat dihubungi Neraca, Senin (30/7).

Namun, dia berharap, perekonomian global bisa membaik pada awal kuartal keempat tahun ini. Sehingga sebelum tutup tahun, produksi alat berat bisa digenjot untuk mencapai target tahunan itu. Distributor alat berat juga sudah merasakan penurunan penjualan di paruh pertama tahun ini. Salah satunya adalah PT United Tractors Tbk yang hanya mencatatkan penjualan 4.231 unit alat berat pada semester I 2012. Jumlah penjualan tersebut turun 2,35% dibanding penjualan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 4.333 unit.

Investor Relation United Tractors, Ari Setiyawan bilang, penjualan melempem lantaran permintaan alat berat dari sektor tambang surut. Akibat penurunan harga komoditas tambang, terutama batubara dan nikel, perusahaan pertambangan pun ragu untuk menambah investasi, termasuk mengurungkan niat untuk membeli alat berat.

Sektor Tambang Surut

Surutnya permintaan dari sektor tambang berdampak besar bagi United Tractors. Pasalnya sektor ini menjadi kontributor utama penjualan alat berat anak usaha Astra International Tbk ini. "Sektor pertambangan berkontribusi 60% terhadap total penjualan kami," jelasnya. Sedangkan, sektor agro menyumbang 21,2% penjualan alat berat United Tractors. Selanjutnya sektor konstruksi 12,6% dan kehutanan 5,6%.

Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan juga imbas dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai titah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014.

Ari mengaku, strategi mengalihkan fokus pasar ke ke sektor lain untuk menambal lesunya permintaan dari pertambangan tidak mudah. Pasalnya persaingan alat berat makin ketat dengan datangnya produk-produk baru di pasaran.

Persaingan paling ketat terutama untuk alat berat ukuran kecil berbobot 20 ton yang bisa digunakan untuk berbagai sektor, mulai dari pertambangan hingga konstruksi. "Alat berat ukuran kecil digunakan untuk melengkapi operasional yang tidak bisa dilakukan dengan ukuran besar. Sehingga pemainnya banyak, baik produksi lokal maupun impor," jelasnya.

Padahal, Ari memproyeksi, penurunan permintaan akibat turunnya harga komoditas masih akan berlanjut hingga kuartal ketiga tahun ini. Tak heran, United Tractors juga merevisi target penjualan tahun ini, dari semula 9.500 unit menjadi 8.500 unit. Pemangkasan target itu pun dilakukan setelah mengevaluasi realisasi penjualan pada semester I-2012.

BERITA TERKAIT

Trimuda Tetapkan Harga Rp 150 Persaham - Bidik Dana IPO Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan yang bergerak di bidang kargo dan logistik PT Trimuda Nuansa Citra berencana untuk menjual saham ke…

BEI Tolak Permintaan Suspensi BFI Finance - Dinilai Menyalahi Aturan

NERACA Jakarta –Sengketa hukum antara PT BFI Finance Tbk dengan PT Aryaputra Teguharta, menuai reaksi dari PT Bursa Efek Indonesia.…

Satgas Temukan Harga Beras di Tangerang Turun

Satgas Temukan Harga Beras di Tangerang Turun NERACA Serang - Hasil monitoring Satuan Tugas (Satgas) Pangan Provinsi Banten di Kota…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…