Sambut Lebaran, Penjualan Pakaian Naik 200%

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Daerah DKI Jakarta Handaka Santosa mengatakan, kebutuhan fashion masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri memang sangat tinggi, bahkan kenaikannya bisa dua kali lipat atau 200% dibanding bulan-bulan biasanya.

Di antara cara meningkatkan jumlah pengunjung, selain menawarkan diskon, banyak mall yang memperpanjang waktu operasionalnya karena jumlah pengunjung baru mulai ramai saat menjelang senja. Hal itu membuat kebanyakan pusat perbelanjaan tutup lebih lambat, yaitu menjelang pukul 24.00 WIB.

Menurut catatan API, nilai impor produk pakaian jadi setiap bulan bisa mencapai US$15 juta, namun ketika menjelang Lebaran bisa melonjak hingga US$ 25 juta. Dari catatan tersebut, impor pakaian berasal dari China, Korea, Taiwan, India bisa meningkat hingga 20%dibanding bulan-bulan lainnya. Angka tersebut didominasi dengan pakaian anak yang mencapai 80%, selebihnya adalah pakaian orang dewasa.

Tingginya permintaan terhadap pakaian impor memang diklaim karena memang harganya murah dan pada umumnya mampu memberikan kualitas yang lumayan. Pengamat ekonomi FEUI Aris Yunanto menjelaskan, tingginya impor memang sulit dibendung karena dalam mekanisme perdagangan bebas tidak boleh ada hambatan bagi produk untuk masuk ke suatu negara.

Akan tetapi, lebih lanjut Aris menilai, lemahnya pemerintah dalam menegakkan aturan terkait impor. “Pemerintah mestinya memperhatikan hal ini, bukan semua dengan pasar bebas. Salah satunya yaitu menekan ekonomi biaya tinggi agar produk pakaian lokal mampu bersaing dengan produk impor, terutama saat menjelang lebaran,” tandas Aris, kemarin.

Di lain pihak, bulan Ramadan dan saat jelang lebaran adalah ajang bagi para pedagang dan pengusaha untuk meningkatkan penjualan, dengan berbagai promosi dan diskon, khususnya untuk penjualan pakaian. Pasalnya, selain karena dianggap momen “spesial”, berbarengan dengan pembayaran tunjangan hari raya yang dibayarkan sebelum jelang lebaran.

Bahkan menurut pengakuan salah seorang pengusaha busana muslim asal Jakarta, Furkoni, yang memasok busana muslim untuk Indonesia dan luar negeri, seperti Brunei, sebelum Ramadan pihaknya memang telah mempersiapkan pasokan yang lebih besar dari biasanya, karena tingkat penjualan bisa dua kali lipat.”Jelang Idul fitri itu memang momennya,” jelasnya.

Pada hari pertama puasa, menurut dia, penjualan mulai kelihatan meningkat, dan diperkirakan akan terus meningkat pada 15 hari sebelum lebaran dan sampai dengan malam takbiran akan mengalami kenaikan lebih dari 50%.

Related posts