Aneh, Menteri BUMN Resmikan Proyek Swasta

Senin, 30/07/2012

NERACA

Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan kembali bikin sensasi. Setelah sebelumnya pernah naik kereta KRL jurusan Bogor-Jakarta, membuka paksa pintu tol, mandi di toilet stasiun Gambir, dan getol menggunakan mobil listrik, kali ini justru terlibat dalam peresmian Kota Kasablanka yang megah di Jalan Prof Dr Satrio atau Jalan Casablanca Jakarta Selatan senilai Rp2,1 triliun.

Sabtu (29/7) itu, Dahlan muncul dan naik ke atas panggung untuk menemani jajaran Direksi Pakuwon Group dan investor serta kontraktor pembangunan mal Kota Kasablanka. Dahlan yang datang dengan pakaian khasnya baju putih dan celana hitam plus sepatu kets andalannya ikut dalam menabuh gendang. Sekitar dua menit Dahlan asik memukul gendang.

Setelah usai ikut membuka mal tersebut, Dahlan pun duduk bersama direksi dan pejabat Pakuwon Group untuk bersama-sama mengikuti upacara pembukaan.

Tak pelak, kehadiran Menteri BUMN tersebut di sana menjadi bahan gunjingan sejumlah kalangan. Ada apa (Lagi), Pak Dahlan?

Lihat saja, anggota DPR Komisi VI dari Fraksi Demokrat Ferrari Romawi menilai, kemunculan Dahlan Iskan dalam peresmian Kota Kasablanka tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedudukannya selaku Menteri BUMN. Pasalnya, Grup Pakuwon adalah perusahaan swasta.

“Selaku pribadi ya wajar-wajar saja. Mungkin saja dia diundang rekannya yang berasal dari pejabat Pakuwon Group selaku pengembang mal tersebut. Tapi, selaku menteri BUMN, hal tersebut tidak ada urusannya sama sekali dengan Dahlan karena Pakuwon sendiri kan perusahaan swasta,” tandas dia kepada Neraca, Minggu (29/7).

Ferrari melihat hal tersebut sebagai sebuah pencitraan (lagi) dari Dahlan. “Bisa jadi itu pencitraan lagi. Zaman sekarang pencitraan itu kan sudah biasa,” sindir dia lagi.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio memiliki pandangan serupa. Menurut Agus, hal itu seharusnya tak terjadi. “Apakah ada muatan politiknya atau pencitraan, saya tidak tahu karena itu urusan politik. Akan tetapi seharusnya dia tidak menghadiri acara peresmian tersebut,” ujarnya kemarin.

Kalau pun ada dalam pembangunan Mal Kasablanka tersebut melibatkan BUMN maka yang semestinya hadir yaitu Menteri Pekerjaan Umum (PU). “Akan tetapi kalau yang membangun semacam PT Adhi Karya atau pun perusahaan BUMN lainnya maka akan menjadi wajar,” papar Agus.

Sementara Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Uchok Sky Khadafi menilai, langkah Dahlan itu untuk melakukan pendekatan dengan Grup Pakuwon selaku pengusaha properti terkemuka. “Tentu ada tujuan tertentu. Saya melihatnya sebagai pedekate untuk cari dukungan pengusaha. Ujungnya, ya, pencapresan tahun 2014,” ungkap Uchok kepada Neraca, Minggu.

Akan tetapi, Uchok belum memperoleh data dan informasi bahwa kedatangan Dahlan Iskan di peresmian properti kemarin adanya dugaan penerimaan suap atau mendapat jabatan sebagai komisaris. “Saya belum ada data mengenai itu,” tegas dia.

Meski begitu, Uchok berharap, seharusnya yang dilakukan Dahlan Iskan adalah membereskan perusahaan-perusahaan plat merah bermasalah serta meningkatkan kinerja BUMN. “Kalau mau cari perhatian, ya perbaiki kinerja BUMN dong. Kalau itu dilakukan maka masyarakat dengan sendirinya akan menilai dia. Sekarang-sekarang ini saya meilhat Dahlan mencari perhatian ke publik untuk pribadi, atau bahasa kerennya narsis,” ungkap Uchok.

Sedangkan pengamat Politik UI Iberamsjah melihat cara Dahlan Iskan itu dari sisi dua hal, yaitu pencitraan dan ingin tampil beda. Yang dimaksud tampil beda, lanjut dia, adalah yang selama ini Dahlan Iskan lakukan. “Dia ingin menarik perhatian masyarakat dengan caranya sendiri. Seperti tidak senang cara formal dan cenderung sederhana. Saya lebih melihat ke arah situ ketimbang pencitraan,” jelas Iberamsjah kepada Neraca, Minggu.

Iberamsjah menjelaskan, saat ini pencitraan sudah usang dan tidak menarik lagi setelah kegagalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam mengelola negara. “Pencitraan itu munafik. Sedangkan tampil beda itu beda dengan pencitraan,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah mantan dirut PLN itu berambisi menjadi presiden pada Pemilu 2014 mendatang, dosen ilmu politik UI ini mengatakan tidak. Iberamsjah beralasan karena kondisi fisik Dahlan Iskan yang tidak bagus. “Dia itu habis melakukan transplantasi hati di China. Saya tidak melihat dia mau menjadi RI-1,” tukas dia.

Lebih jauh dari itu, Iberamsjah pun mengakui langkah Dahlan Iskan memperbaiki kinerja perusahaan BUMN hanya sedang-sedang saja. Pasalnya, BUMN itu sarang penyamun dan kebanyakan mafia. “Isinya kan mantan pejabat negara dan petinggi militer serta kepolisian. Dahlan tahu itu. Meski begitu, dia tetap mengerjakan apa sudah menjadi tugasnya sajalah,” papar Iberamsjah lagi. tim