Percepat Industrialisasi, Kemenperin Fokus Garap Tiga Sektor

NERACA

Jakarta – Pekan lalu di lantai dua ruangan Garuda gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Tak seperti biasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mengadakan rapat kerja terkait bidang industri, perdagangan dan investasi di kantor sebuah kementerian.

Pada kesempatan itu, mereka membahas semua sektor tersebut kurang lebih mencapai empat jam tiga puluh menit. Presiden SBY pun sampai melakukan ibadah holat Jum'at di lingkungan Kementerian Perindustrian. Usai sholat Jum'at barulah Presiden SBY memberikan pidato tentang kinerja rapat terbatas tersebut. Meskipun dunia mengalami krisis, SBY menyatakan keyakinannya tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa di atas angka 6%. Syaratnya sektor perindustrian, perdagangan dan investasi yang merupakan sektor penting dalam perekonomian dan pertumbuhan, terus bisa berkembang dengan baik.

Para pejabat yang mengikuti sidang kabinet terbatas itu antara lain Wakil Presiden Boediono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Menkeu Agus Martowardoyo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisyahbana, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Mentan Suswono, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo dan tentu saja Menteri Perindustrian MS. Hidayat.

Presiden menyatakan, sektor perindustrian, merupakan sektor yang penting dalam perekonomian dan menjaga pertumbuhan. “Sektor perindustrian memiliki peran penting dalam hal menumbuhkan industri dalam negeri dan membuka peluang tenaga kerja, serta upaya bangsa kita menuju negara maju di abad 21 ini,” kata Presiden.

Sasaran Industri

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan industri merupakan sektor yang strategis dalam pembangunan nasional. Pada tahun 2011, sektor industri memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 24,28%, terbesar dibandingkan sektor-sektor lainnya. Jumlah industri besar sedang lebih dari 24 ribu unit dan IKM sebanyak 3,8 juta unit, dimana sektor industri mampu menyerap tenaga kerja 14,5 juta orang dan ekspor tahun 2011 sebesar US$ 122,18 miliar 60% dari ekspor nasional.

Hidayat juga mengungkapkan untuk mempercepat proses industrialisasi, pada tahun 2012-2014 pengembangan industri nasional difokuskan pada tiga program utama, yaitu hilirisasi Industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral, peningkatan daya saing industri existing dan yang terakhir adalah pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Program hilirisasi industri berbasis agro, migas dan bahan tambang mineral dilatarbelakangi oleh masih banyaknya ekspor bahan mentah/bahan baku komoditi tersebut. Hilirisasi industri di dalam negeri akan mampu menghasilkan nilai tambah, memperkuat struktur industri, serta menyediakan lapangan kerja dan peluang usaha di dalam negeri.

Sementara itu Program Peningkatan Daya Saing Industri Existing dilatarbelakangi oleh ketergantungan impor bahan baku dan bahan penolong yang cukup tinggi, teknologi industri banyak yang masih tertinggal, serta Kualitas SDM yang relatif rendah. Untuk itu, pemerintah menjalankan berbagai kebijakan dan program, antara lain, pemberian insentif fiskal, program low carbon emission technology, Restrukturisasi permesinan industri TPT dan alas kaki, Peningkatan kemampuan SDM industri,Promosi investasi dan produk industri, serta Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

Yang terakhir, ungkap Menperin, program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) dilatarbelakangi oleh nilai strategis IKM bagi perekonomian nasional, antara lain terbukti mampu bertahan dalam krisis, terdapat 3,8 juta unit dengan 8,2 juta tenaga kerja, penunjang dan pemerataan ekonomi kerakyatan yang mandiri, serta sangat strategis untuk mendukung ketersediaan pangan nasional.

“Kebijakan dan program yang dijalankan melalui penumbuhan wirausaha industri, penguatan kelembagaan IKM, restrukturisasi mesin peralatan IKM, keterkaitan dengan perusahaan besar, program pengembangan SDM pendamping IKM, Promosi IKM, pembiayaan melalui KUR dan rintisan modal ventura dan pembinaan IKM di daerah perbatasan dan tertinggal terutama di Wilayah Indonesia Timur,” jelas Hidayat.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Susun Pedoman Pengembangan Kawasan Industri 4.0 - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian telah menyusun pedoman untuk pengembangan kawasan industri generasi keempat atau disebut Eco Industrial Park. Upaya…

Kemenperin Terus Kembangkan Industri Fesyen Muslim Indonesia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih mengatakan fesyen Indonesia saat ini masih menjadi andalan untuk…

Superkrane Raih Kontrak Baru Rp 40 Miliar - Garap Dua Proyek PLTU

NERACA Jakarta – Di sisa akhir tahun 2018, PT Superkrane Mitra Utama Tbk (Superkrane) belum lama ini mengantongi dua kontrak…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…