Middle Income Trap dan Industrialisiasi

Senin, 30/07/2012

Oleh : Prof. Firmanzah Ph.D

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Pada tahun 2011, PDB/kapita Indonesia mencapai US$ 3.542,9 dan menjadikan Indonesia masuk sebagai negara berpenghasilan menengah (middle income countries). Ini sesuai standard Bank Dunia, negara yang diklasifikasikan sebagai berpendapatan rendah ketika PDB/kapita < US$ 1.005, menengah-bawah antara US$ 1.006-US$ 3.975, menengah-atas antara US$ 3.976- US$ 12.275, dan tinggi > US$ 12.275. Sejumlah negara dinyatakan masuk ke dalam jebakan negara berpenghasilan menengah dan sulit naik kelas ke kelompok berpenghasilan tinggi. Sejumlah hipotesa dikembangkan untuk menjalaskan fenomena ini. Salah satunya adalah, faktor kurangnya industrialisasi dan penguasaan dan pemanfaatan teknologi dalam industrialisasi.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan ada geliat industri pengolahan non-migas Indonesia. Walau sempat terpuruk pada saat krisis ekonomi 1998, pertumbuhan industri pengolahan non-migas menunjukkan kebangkitan kembali. Di tahun 2011, pertumbuhan industri pengolahan non-migas tercatat 6,83% melampaui pertumbuhan PDB nasional sebesar 6,46%. Sehingga diharapkan pertumbuhan industri sektor itu pada 2012 berada di kisaran 7%. Pada 2011, nilai ekspor industri non-migas berjumlah US$ 122,18 miliar atau 60 % dari total ekspor nasional.

Hal ini juga diperkuat oleh data Kemendag dimana terdapat peningkatan impor pada periode Januari-Mei 2012 untuk barang modal mencapai US$ 58,4 miliar, atau naik 13,1% dari periode yang sama pada 2011, dan bahan baku penolong US$ 15,9 miliar atau meningkat 37,1%. Meningkatnya impor barang modal dan bahan baku penolong merupakan salah satu indikasi bergeliatnya industri dalam negeri khususnya sektor manufaktur, yang juga mengindikasikan meningkatnya aktivitas investasi. Supply barang modal dan bahan baku penolong diharapkan akan tercukupi oleh produksi dalam negeri ke depan setelah proses industrialisasi tertata kembali.

Program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah pengolahan barang mineral seperti bauksit, nikel, bijih besi dan tembaga perlu terus dilakukan. Selain itu, program hilirisasi untuk pengolahan hasil perkebunan (CPO, karet dan cokelat), pertanian, peternakan dan perikanan menjadi keniscayaan untuk membangun struktur industri berbasis keunggulan komparatif. Proporsi ekspor barang mentah Indonesia perlu terus dikurangi agar nilai tambah, tenaga kerja dan lapangan usaha baru terus berkembang dalam sistem rantai nilai produksi.

Pada tahapan kedua adalah, membangun basis dan struktur teknologi pendukung untuk menjadikan industri nasional berdaya saing di tingkat global. Keinginan sejumlah investor baik dalam negeri dan asing berinvestasi di sektor manufaktur membutuhkan dukungan SDM yang kompetitif. Optimalisasi lembaga-lembaga penelitian dan riset nasional perlu diintensifkan untuk menunjang proses industrialisasi nasional.

Dengan hilirisasi dan ditunjang oleh pengembangan dan pemanfaatan teknologi diharapkan Indonesia bisa meningkatkan output/PDB nasional. Pemanfaatan dan pengembangan teknologi dalam proses hilirisasi perlu dilakukan untuk menunjang baik produktivitas dan efisiensi proses produksi nasional. Apalagi didukung dengan konsumsi domestik yang tinggi, diharapkan Indonesia akan segera masuk ke kelompok negara berpenghasilan menengah-atas dan segera masuk ke dalam negara berpenghasilan tinggi. Dengan demikian predikat middle-income trap dapat dihindari.