Perlindungan Investor di Atas Segala-galanya

Maraknya Analis Bodong

Senin, 30/07/2012

NERACA

Jakarta - Banyaknya oknum yang mengaku analis atau perekomendasi saham (analis bodong) disebabkan karena tidak semua pelaku pasar modal, khususnya investor pemula, memiliki peluang yang sama untuk mengakses informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini yang menyebabkan investor pemula sangat minim menerima keterbukaan informasi, khususnya kinerja emiten.

“Dengan begitu maka dapat menimbulkan apa yang dinamakan asymmetric information. Artinya, si penjual (analis bodong) lebih menguasai produk investasi yang akan dijual kepada si pembeli (investor pemula). Akibatnya si pembeli menjadi pihak yang sangat dirugikan karena telah ditipu,” kata Lektor Kepala FE Universitas Pancasila, Agus S Irfani, kepada Neraca di Jakarta, Jumat (27/7), pekan lalu.

Lebih lanjut Agus menuturkan, sisi lain, para investor pemula ini yang umumnya tidak mendapatkan akses informasi cenderung menggantungkan keputusan investasinya kepada analis bodong tersebut, sehingga sangat terbuka lebar untuk melakukan hidden information dan hidden action yang mengeksploitasi investor pemula.

“Ini lebih ke moral hazzard. Oleh karena itu, perlu upaya perlindungan investor yang lebih serius termasuk pemberian konsultasi investasi oleh Bapepam-LK serta asosiasi investor,” tukas dia.

Sementara itu, Isakayoga, selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), berpendapat, untuk memperoleh sertifikasi, harus melalui pendidikan dan uji profesi. Tujuannya untuk pengawasan, baik kualitas dan kuantitas maupun kode etik, analis pasar modal itu sendiri.

“Tidak semua orang dapat memberikan data serta analisa saham. Dengan sertifikasi ini maka investor pun bisa dilindungi,” tutur dia kepada Neraca, kemarin.

Dibekukan

Dia mencontohkan, apabila sang analis salah memprediksi pasar, secara otomatis harus bertanggung jawab secara profesional. Sebaliknya, jika analis tidak memiliki sertifikasi, maka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau bersertifikasi, seandainya mereka melanggar kode etik maka Bapepam akan memanggil dan sertifikatnya bisa dibekukan,” tegas dia. Dengan demikian, potensi kerugian terbesar jika berhubungan dengan analis bodong adalah investor dan emiten sendiri. Pasalnya, data yang didapat sang oknum tersebut bersifat ilegal.

Namun dirinya mengaku belum pernah mendengar tentang sertifikasi untuk analis pasar modal, namun untuk profesi yang lain seperti broker dealer dan akuntan publik memang sudah ada sertifikasinya.

“Untuk analis pasar modal, saya belum pernah dengar. Tapi kalaupun ada, misalnya, dari sebuah lembaga pendidikan. Apakah resmi dan diakui Bapepam-LK? Khusus sertifikasi broker dealer sudah ada lebih dari 15 tahun. Selain itu, ada juga sertifikasi untuk penjamin emisi (underwriter), manajer investasi, dan wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD). Ini semua dari Bapepam,” tandasnya.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Capital Bridge Indonesia, Aji Martono menilai, pihaknya bersama para analis, baik berasal dari perusahaan sekuritas maupun independen, akan membuat certificate securities analyze (CSA). Tujuannya memobilitas para analis untuk bisa mengarahkan investor dengan benar.

“Jadi kalau masih ada oknum yang menggiring investor pemula untuk membeli saham yang tidak bagus, bisa diminimalisir. Ini supaya investor bisa mengetahui secara teknikal dan fundamental, tidak asal beli saham. Program ini akan berjalan bulan September 2012,” kata Aji, pekan lalu. [ria/ardi]