Teknologi dan Solusi Kedelai

Oleh: Telisa Aulia Falianty

Ekonom EC-Think Indonesia

Penggunaan teknologi di bidang pertanian kedelai seyogianya mampu menjadi solusi krisis kedelai jangka panjang. Sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas kedelai dalam negeri, maka itulah gunanya teknologi modern pertanian

Apalagi Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk mengembangkan teknologi di bidang pertanian, meskipun membutuhkan waktu panjang. Meski lahan yang tersedia masih terbatas untuk ditanami kedelai, dengan teknologi pertanian yang dikembangkan mampu menjadi jalan keluar dan membuat Indonesia tidak terlalu bergantung pada kedelai impor. Apalagi tidak mencapai swasembada, minimal tidak terlalu tergantung dengan negara lain dengan mengimpor kedelai

Kebijakan pemerintah untuk membebaskan bea masuk kedelai yang semula 5% menjadi 0% dinilai tepat sebagai solusi jangka pendek. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mencari solusi untuk jangka panjang dan tidak melupakannya ketika harga kedelai mulai turun.

Kebijakan tersebut saat ini, karena memang urgent. Tapi solusi jangka panjang harus terus menerus dicari. Jangan sampai kalau harga kedelai sudah stabil kemudian dilupakan. Dan pada akhirnya harga pulsa lebih mahal dari harga kedelai

Berdasarkan data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), total konsumsi kedelai Indonesia mencapai 2,4 juta ton per tahun. Sementara produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memproduksi 700 ribu ton per tahun, sehingga, pemerintah harus mengimpor sisanya sebesar 1,7 juta ton.

Di sisi lain pemerintah juga tak salah jika menggunakan dana kontingensi pangan pada APBN 2012 untuk mengatasi krisis kedelai. Apalgi saat ini, DPR telah menganggarkan Rp 2 triliun pada APBN 2012 sebagai dana darurat ketahanan pangan.

Kalau semula seluruhnya diproyeksikan untuk darurat beras, pemerintah bisa men-switch sebagian anggaran tersebut untuk insentif penanaman kedelai pada musim tanam (MT) III/2012, mengingat pada ARAM II BPS diproyeksikan pertumbuhan produksi gabah sudah berada di level yang cukup aman pada 4,31 persen

Dengan insentif petani untuk Upsus (Upaya Khusus) kedelai sebesar Rp 1 juta per ha, pada MT III/2012 bisa dialokasikan 500 ribu ha, sehingga total bisa dialokasikan Rp 500 miliar.

Dengan adanya Upsus untuk tambahan luas tanam 500 ribu ha dan produktivitas yang meningkat mencapai 1,75-2 ton per ha, maka akan ada tambahan produksi 875 ribu-1 juta ton produksi kedelai pada akhir MT III/2012. Sehingga dengan proyeksi produksi kedelai ARAM II BPS pada 779 ribu ton, total dengan tambahan Upsus dari dana kontingensi bisa mencapai antara 1,654 juta ton sampai dengan 1,779 juta ton. Maka pada akhir tahun ini mudah-mudahan krisis kedelai bisa diakhiri.

BERITA TERKAIT

Jakarta Perlu Lakukan Pengawasan dan Penegakan Hukum Pencemaran Udara

Jakarta Perlu Lakukan Pengawasan dan Penegakan Hukum Pencemaran Udara NERACA Jakarta - Jakarta perlu melakukan pengawasan dan penegakan hukum terkait…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif NERACA Jambi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan pendampingan terhadap pelaku Usaha…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Debat Capres

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Debat pilpres tahap pertama akan dilaksanakan pada 17…

Sharia Good Governance

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Tata kelola perusahaan yang baik selama ini dikenal dalam istilah Good Corporate Governance…