Waspadai Analis Bodong Berkeliaran di Bursa

INVESTOR PEMULA JADI TARGET SASARAN

Jumat, 27/07/2012

Jakarta - Belum tuntasnya penanganan kasus penipuan dan penggelapan uang investor oleh PT Sarijaya Permana Sekuritas, PT Optima Kharya Capital Securities, dan PT Batavia Prosperindo Sekuritas belum usai, pasar modal Indonesia kembali diguncang kasus penipuan berkedok investasi oleh oknum yang mengaku sebagai analis atau perekomendasi saham (analis bodong) supaya membeli saham emiten berfundamental buruk.

NERACA

Kepala Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menuturkan, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini sebenarnya bertujuan ‘menyesatkan’ investor. “Banyak investor pemula yang tertarik membeli saham tapi fundamentalnya tidak bagus. Ini akibat pengetahuan dan pendidikan tentang pasar modal sangat kurang,” ujar dia kepada Neraca, Kamis (26/7).

Lebih lanjut Satrio mengatakan, karena investor pemula ini belum paham, maka analis bodong ini segera melakukan aksi yang sebenarnya hanya menguntungkan kepentingan mereka. Alhasil, investor masuk perangkap dan kehilangan uang banyak. Sang analis bodong pun menikmati hasilnya.

Dia juga mengakui jika dalam pasar modal memang mengenal adanya risiko pasar. Akan tetapi, terkadang para investor pemula ini juga harus dibuat sadar untuk mengetahui serta paham niat dari para analis bodong tersebut. Bahkan, Satrio mencium kalau ada analis bodong yang sengaja dibekingi emiten untuk menarik banyak investor.

“Sudah banyak sekali (kasus penipuan seperti ini). Mereka (oknum analis) ini ada yang dibayar oleh emiten untuk mempengaruhi investor, atau biasa disebut market maker dari suatu emiten. Ada juga yang sudah terlanjur nyangkut di saham emiten yang fundamentalnya buruk, lalu merekomendasikan kepada investor lain,” tegasnya.

Mereka, lanjut Satrio, bahkan telah memiliki milis sendiri, penulis buku, serta yang berasal pialang (broker). Dengan modus seperti ini mereka berani memberi rekomendasi melalui jejaring sosial seperti twitter dan facebook, memberikan seminar dan pelatihan pasar modal, bahkan yang lebh parah lagi, mereka menggunakan identitas palsu.

“Yang paling bahaya itu kalau mereka sudah berhasil menyebarkannya lewat media massa, terutama media online, yang jumlahnya sudah banyak. Membuat seolah-olah menjadi berita, padahal hanya bersifat rumor, dan akhirnya, investor termakan oleh berita itu sendiri,” tandasnya.

Terkait rumor pemberitaan tersebut, Satrio melihat hingga saat ini belum ada aturannya. Apabila rumor ini menyesatkan dan merugikan investor, harusnya ada yang bertanggung jawab. Dia lalu menyerukan agar Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih memperhatikan hal tersebut agar nantinya investor ritel dapat terselamatkan.

“Inilah pentingnya sosialisasi dan edukasi pasar modal, khususnya bagi para investor pemula. Regulator dan otoritas bursa harus tanggap dan terus menggalakkan kedua program ini. Seperti apa pengertian saham, reksa dana, atau return risiko. Jangan sampai ada kasus barulah bertindak. Kan, selama ini seperti itu,” tegas Satrio.

Analis Bersertifikasi

Sementara itu, Managing Director Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, terdapat perbedaan antara analis bodong dengan analis bersertifikasi. Untuk analis bodong, meskipun berpenampilan meyakinkan, namun mereka mengincar investor pemula yang potensial. Dia lalu mencontohkan ibu-ibu arisan dan wirausaha sukses.

Kemudian, analis bodong ini dalam menawarkan produk sangat mirip dengan produk investasi. “Mereka menawarkan investasi perusahaan karet. misalnya. Nah, kalau tidak menjelaskan secara detail, jangan diterima. Jadi disini investorlah yang harus aktif mengorek informasi,” kata Reza.

Terakhir, analis bodong menjanjikan imbal hasil yang tinggi. Ini yang membuat investor pemula tergiur, dan akhirnya masuk perangkap mereka. “Indeks harga saham gabungan (IHSG) saja hanya menawarkan 8%-9% per tahun. Tapi mereka berani sampai 15%. Kalau investor jeli, harusnya bertanya, akan ditempatkan dimana uang mereka,” papar dia.

Untuk analis bersertifikasi, Reza menjelaskan dalam menawarkan produk investasi, mereka akan menerangkannya secara detail dan memperlihatkan lokasi dimana emiten tersebut beroperasi. Selain itu, analis ini tidak boleh menjanjikan return (keuntungan), namun hanya diperbolehkan menggambarkan kinerja historis saja. Hal ini sudah tercantum dalam Peraturan Bapepam No.V.G.I.

“Saya kasih asumsi begini. Kita punya produk reksa dana lalu berdasarkan kinerja historis, investor bakal dapat return 10%. Nah, apabila investor bertanya berapa return yang dia dapat ke depan, si analis hanya boleh mengatakan akan bertahan di posisi 10% tapi dengan asumsi. Artinya ada positif dan negatif di pasar,” ujar Reza.

Membuat CSA

Sedangkan pengamat pasar modal Capital Bridge Indonesia, Aji Martono menilai, pihaknya bersama para analis, baik berasal dari perusahaan sekuritas maupun independen, akan membuat certificate securities analyze (CSA). Tujuannya memobilitas para analis untuk bisa mengarahkan investor dengan benar.

“Jadi kalau masih ada oknum yang menggiring investor pemula untuk membeli saham yang tidak bagus, bisa diminimalisir. Ini supaya investor bisa mengetahui secara teknikal dan fundamental, tidak asal beli saham. Program ini akan berjalan bulan September 2012,,” kata Aji, kemarin.

Sementara itu, lanjut Aji, betapa pentingnya mengupayakan sosialisasi dan edukasi di pasar modal secara terus-menerus. Hal itu menjadi bagian dari tugas analis yang tergabung dalam Asosiasi Profesi Pasar Modal Indonesia (APPMI), bermitra dengan BEI, KSEI, KPEI, dan Bapepam-LK. “Ini berguna bagi investor untuk lebih memahami secara benar. Lalu tidak lupa juga untuk menambah jumlah investor yang saat ini masih sedikit,” tutup Aji.lia/ria/didi/bani/ardi