Indef: Pertumbuhan PMA Perlu Diwaspadai

Sektor Pertambangan Dibanjiri Investor Asing

Jumat, 27/07/2012

NERACA

Jakarta – Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami peningkatan sebesar 28,1% dari Rp115,6 triliun pada semester I 2011 menjadi Rp148,1 triliun pada semester I 2012. Kendati investasi PMA naik cukup siginifikan, namun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih tergolong kecil, realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) masih kalah dibandingkan dengan PMA.

Atas dasar ini, Pengamat Ekonomi dari Indef Enny Sri Hartati melihat ada ketimpangan yang terlalu jauh jika dibandingkan antara realisasi PMA dengan PMDN. “Kalau saja asing banyak yang berinvestasi di Indonesia tapi kenapa investor dari dalam negeri cenderung kecil. Apakah ada perbedaan kelakuan yang diterima antara investor asing dan investor dalam negeri,” ungkap Enny kepada Neraca di Jakarta, Kamis (26/7).

Dia mengatakan kalau investor asing mendapatkan intensif seperti tax holiday atau pembebasan lahan, apakah hal serupa juga diterima oleh investor lokal. “Hal ini lah yang memungkinkan investor lokal tak mau berinvestasi di Indonesia. Atau permasalahan yang fundamental karena telah menjadi karakter investor lokal yang lebih mencari keuntungan tanpa memperhatikan kemajuan bangsa,” tukasnya.

Selama ini, menurut Enny, investor asing yang berinvestasi di Indonesia lebih cenderung ke sektor-sektor tersier bukan di sektor primer yang banyak menyerap tenaga kerja. “Selama ini, asing di Indonesia berinvestasi di sektor tersier seperti otomotif, jasa keuangan, transportasi, elektronik. Semua sektor ini tidak banyak menyerap tenaga kerja, bermodal besar akan tetapi tidak banyak menyerap bahan baku dalam negeri,” imbuhnya.

Dengan banyaknya investor asing yang berinvestasi di sektor tersier, lanjut dia, maka tak heran laporan realisasi investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada semester I 2012 lebih banyak di Jawa. “Kalau investasi sektor tersier seperti di jasa keuangan itu lebih didominasi di Jawa karena jumlah populasinya yang banyak maka akan menjadi investasi yang menggiurkan dan menguntungkan,” katanya.

Menurut dia, pemerintah perlu mengatur agar investasi asing bisa menyerap tenaga kerja yang banyak seperti di sektor manufaktur, pertanian ataupun perkebunan. “Pemerintah harus bisa mengatur itu. Jangan sampai pula investasi asing menguasai investasi di Indonesia,” jelasnya.

Sektor Pertambangan

Seperti diketahui, pada triwulan II, realisasi PMA tercatat sebesar Rp56,1 triliun. Angka itu tumbuh sebesar 8,9% dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan, angka itu tumbuh 30,2%. Bila melihat data satu semester, PMA tercatat sebesar Rp107,6 triliun. Tumbuh 30,3% dari semester yang sama tahun lalu. Pertumbuhan keduanya jauh lebih tinggi dari penanaman modal dalam negeri. PMDN hanya tumbuh 10,1% pada triwulan II secara tahunan. Dan, pada semester I, PMDN tumbuh 22,7% secara tahunan.

Pada sisi sektor usaha, realisasi PMA paling besar berada di sektor pertambangan dengan nilainya US$1 miliar, sektor kimia dasar, barang kimia, dan farmasi dengan nilai yang sama pada triwulan II. Pada semester I, PMA juga mendominasi sektor yang sama. Berdasarkan asal negara, Singapura masih menjadi yang terbesar dalam hal investasi di Tanah Air dengan nilai US$0,8 miliar pada triwulan II dan US$2 miliar pada semester I.

“Investor tentu mencari tempat yang aman untuk investasi. Indonesia saat ini berhasil mengalahkan India, yang perekonomiannya tumbuh 5%, dan berhasil menduduki peringkat kedua setelah China,” jelas M. Chatib Bashri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, salah satu sektor yang berada di peringkat pertama pada realisasi penanaman modal asing di triwulan kedua, yaitu sektor pertambangan, sebesar US$ 1.0 miliar (16,3%), disusul kemudian sektor Idustri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi, sebesar US$ 1.0 miliar (16,0). Sementara berdasarkan asal negara, Singapura menempati posisi pertama sebesar US$ 0,8 miliar, kemudian disusul Amerika Serikat, sebesar US$ 0,7 miliar.

Dia menjelaskan, masih tingginya impor barang modal sejalan dengan rencana atau komitmen dari sejumlah investor asing yang akan masuk dalam negeri, pertumbuhan investasi masih akan bisa mengalami peningkatan sampai dengan kuartal ketiga 2012. "Dalam pipe line BKPM, investor asing akan masuk di hampir semua sektor, terutama yang bergerak pada bidang industri garam, ban, otomitif, pertambangan, dan energi," ujarnya.

Akan tetapi, yang tidak kalah penting untuk penguatan investasi, menurutnya adalah keharusan dukungan percepatan pembangunan infrastruktur dalam rangka kerja sama pemerintah swasta (KPS) oleh BUMN. Termasuk juga menerapkan kebijakan dan pengelolaan perekonomian yang prudent, dan koordinasi yang erat antarkementerian/lembaga, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, diyakini akan terjadi peningkatan dan penyebaran investasi yang lebih besar.

Dia mengatakan saat ini ada beberapa perusahaan asing yang menunjukkan expect interestnya untuk berinvestasi di Indonesia. Perusahaan asal Korea disebut-sebut sebagai salah-satu yang menunjukkan ketertarikannya untuk berinvestasi, namun sayangnya ia masih enggan untuk menyebutkan nama perusahaannya, karena masih dalam proses. Selain itu, menurutnya, ada satu perusahaan asal Amerika sudah menandatangani nota kesepahaman untuk bekerja sama dengan Pertamina.

Dari keterangan yang diperoleh melalui kementerian ESDM, perusahaan asing tersebut perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan bahan baku khusus, Celanese Corporation. “Masih sebatas MoU, dan selanjutnya akan masuk dalam proses teknikal, studi kelayakan,” kata Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir.

Menurut Ali, mereka tertarik bekerjasama dengan Pertamina untuk memproduksi etanol untuk batu bara. Ketertarikan asing terhadap sektor ini sejalan dengan peningkatan konsumsi bahan bakar di Indonesia. Diprediksikan permintaan bahan bakar transportasi di Indonesia tahun ini akan mencapai sekitar 25 juta ton dan akan meningkat 6% setiap tahunnya hingga 2020.