Puncak Inflasi Diprediksi Juli-Agustus 2012

Jumat, 27/07/2012

NERACA

Jakarta--Adanya faktor musiman yakni bulan puasa dan Lebaran 2012 serta tahun ajaran baru maka puncak inflasi 2012 diperkirakan pada bulan Juli dan Agustus. "Juli ini kan masih termasuk tahun ajaran baru, ditambah lagi adanya bulan puasa dan memasuki musim Lebaran, saya perkirakan inflasi pada bulan Juli dan Agustus adalah inflasi tertinggi tahun ini, kira-kira untuk dua bulan ini inflasinya bisa saja dikisaran satu persen karena adanya faktor musiman tadi," kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono di Jakarta, Kamis.

Toni menambahkan inflasi pada puasa ini cukup tinggi, karena adanya kenaikan harga untuk beberapa kebutuhan. Untuk itu, pemerintah perlu mencermati secara serius peningkatan harga yang terjadi setiap memasuki bulan puasa. "Ini (inflasi) perlu keseriusan untuk mengatasinya, jangan sampai nanti pemerintah seperti tidak bisa menjaga inflasi saat puasa dan lebaran, seolah-olah ada pembiaran oleh pemerintah," tambahnya

Menurut Toni, masalah inflasi yang terjadi selama puasa memang disebabkan antara lain oleh lemahnya distribusi logistik. Apalgi distribusi logistik ini belum didukung infrastruktur yang memadai. Selain itu, kenaikan harga transportasi menjelang lebaran juga menjadi elemen yang dapat menjadikan inflasi pada bulan Juli-Agustus tinggi. "Jadi, angka inflasinya, dalam dua bulan Juli dan Agustus nanti diperkirakan masing-masing sekitar satu persen per bulan. Memang cukup tinggi. Bulan kemarin saja sudah sekitar 0,7%, pada Juni kemarin itu sudah tinggi, karena masalah liburan saja. Sekarang ini bulan puasa ditambah masa masuk sekolah. Dipicu makanan, transportasi, jasa-jasa naik. Jadi puncak inflasinya bisa di dua bulan itu," tegasnya.

Lebih jauh Tony memperkirakan inflasi akan kembali melandai setelah melewati bulan Juli dan Agustus 2012. Bahkan, diperkirakan pada September 2012 akan terjadi deflasi, sehingga sampai akhir tahun inflasi diperkirakan mencapai angka 5,0%.

Ditempat terpisah, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan konsumsi masyarakat terhadap kebutuhan pokok pada pekan pertama bulan Ramadhan 1433 Hijriah meningkat sekitar 15%-20% daripada awal pekan pada bulan biasa. "Kalau dilihat dari kecenderungan baik harga maupun volume barang, terjadi peningkatan konsumsi yang cukup besar, sekitar 15%-20%," ungkapnya

Menurut Wamen, jumlah tersebut adalah perbandingan dari tingkat konsumsi masyarakat pada pekan di bulan biasa atau pada bulan yang sama di 2011. Karena itu, masyarakat seharusnya tidak berlebihan dalam menyambut Ramadhan, dan harus lebih mengendalikan sifat konsumtif agar harga barang tidak melonjak akibat jumlah permintaan yang meninggi.

Kemendag memantau, produk yang paling diminati oleh masyarakat pada pekan pertama Ramadhan terdiri dari bahan pokok untuk makanan dan produk makanan. "Mungkin Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengeluarkan datanya pada 1 Agustus 2012 dan saya tidak akan terkejut kalau mereka akan mengatakan bahwa kontribusi inflasi terbesar datang dari bahan makanan," tegas Bayu.

Menurut Wamen, tren jumlah konsumsi masyarakat yang terjadi pada pekan pertama Ramadhan setiap tahunnya selalu meningkat. Hal ini disebabkan meningkatnya jumlah warga berekonomi menengah dan warga ekonomi kelas atas karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin baik.

Dikatakan Bayu, tren setiap tahun pada bulan Ramadhan adalah pada satu pekan menjelang dan dalam bulan Ramadhan jumlah konsumsi naik. Kemudian pada pekan kedua Ramadhan konsumsi sedikit menurun lalu pada pekan ketiga konsumsi akan kembali meningkat dalam memenuhi stok saat pekan Hari Raya Idul Fitri. **cahyo/novi