Potensi Kaum Diaspora

Kamis, 26/07/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kongres Diaspora Indonesia yang dihelat Kedutaan Besar RI untuk Amerika Serikat di Los Angeles Convention Center awal bulan ini benar-benar menghadirkan harapan baru dalam pembangunan Indonesia, utamanya pengembangan sektor ekonomi. Istilah “diaspora” dalam konteks ini merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah dan berjiwa Indonesia—baik yang masih berstatus WNI maupun yang sudah jadi WNA.

Kendati jumlah pastinya belum tercatat secara resmi, jumlah diaspora Indonesia diyakini jauh lebih banyak dari jumlah WNI di luar negeri yang pada 2010 lalu tercatat sekitar 3 juta orang. Tentu saja jumlah ini berpotenasi jadi kekuatan maha dahsyat. Meski hidup di negeri orang, mereka akan bisa menjadi penghubung gagasan, solusi, sumber daya, jaringan, dan modal guna membangun kesejahteraan Indonesia.

Lebih mudahnya, kita ambil contoh keberhasilan suatu negara mengelola kaum diaspora. China, misalnya, telah sukses memanfaatkan jutaan diaspora yang tersebar di seluruh dunia sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi yang begitu gemilang di abad ke-21.

Diaspora kaum Yahudi yang konon berjumlah 14 juta orang telah terbukti mampu menjadi entitas ekonomi paling kuat di dunia. Yang juga tak kalah mencengangkan, diaspora Filipina setiap tahun mampu mengirim uang ke negaranya sejumlah 10% dari total PDB Filipina.

Di titik inilah, pengelolaan diaspora secara benar bakal menjadi pelopor kesejahteraan suatu bangsa. Paling tidak hal ini diperkuat oleh rilis Bank Dunia yang mencatat jumlah pengiriman uang dari diaspora berbagai bangsa di seluruh dunia ke kampung halaman mereka mencapai US$483 miliar sepanjang 2011 lalu.

Dalam tataran praksis, diaspora Indonesia tetap dapat berkontribusi dan menunjukkan kecintaannya ke Indonesia tanpa harus kembali ke tanah air. Mereka bisa bisa berkontribusi dalam pembangunan republik ini dengan membangun hubungan dengan Indonesia guna membangun kerjasama, kemitraan maupun melakukan investasi serta membangun citra positif Indonesia di mata dunia.

Dalam skala yang lebih sederhana, diaspora asal Indonesia bisa menjadi duta wisata. Mereka bisa menjadi “ujung tombak” dalam mempromosikan kebudayaan dan kuliner Indonesia. Lebih-lebih kuliner negeri ini bakal punya peran penting untuk meningkatkan promosi dan identitas Indonesia di luar negeri sehingga bisa berdampak positif bagi pariwisata.

Lantas bisakah Indonesia menggarap potensi diaspora yang begitu besar itu? Jawabannya harus bisa. Apalagi dalam tataran global, saat ini diaspora Indonesia telah diakui mempunyai kekuatan sebagai inovator, entrepreneur, pelopor, dan edukator yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan yang telah menggurita di lima benua.

Karena itu, jangan tinggalkan masyarakat diaspora Indonesia karena mereka bukan hanya aset nasional yang strategis namun juga aset nasional lintas negara yang mampu mencengkeram dunia. Pemerintah harus menyatukan kekuatan mereka yang kini masih tercerai berai, yang penuh potensi namun lemah koneksi.

Pendekatan diaspora juga mesti jadi kebijakan nasional dan sebuah strategi baru mempercepat pembangunan ekonomi. Lebih jelasnya, pemerintah harus mengembangkan kebijakan yang pro komunitas diaspora Indonesia di luar negeri agar tercipta sebuah sinergi pembangunan nasional yang lebih mantap.