Potensi Kaum Diaspora

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kongres Diaspora Indonesia yang dihelat Kedutaan Besar RI untuk Amerika Serikat di Los Angeles Convention Center awal bulan ini benar-benar menghadirkan harapan baru dalam pembangunan Indonesia, utamanya pengembangan sektor ekonomi. Istilah “diaspora” dalam konteks ini merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah dan berjiwa Indonesia—baik yang masih berstatus WNI maupun yang sudah jadi WNA.

Kendati jumlah pastinya belum tercatat secara resmi, jumlah diaspora Indonesia diyakini jauh lebih banyak dari jumlah WNI di luar negeri yang pada 2010 lalu tercatat sekitar 3 juta orang. Tentu saja jumlah ini berpotenasi jadi kekuatan maha dahsyat. Meski hidup di negeri orang, mereka akan bisa menjadi penghubung gagasan, solusi, sumber daya, jaringan, dan modal guna membangun kesejahteraan Indonesia.

Lebih mudahnya, kita ambil contoh keberhasilan suatu negara mengelola kaum diaspora. China, misalnya, telah sukses memanfaatkan jutaan diaspora yang tersebar di seluruh dunia sebagai pemantik pertumbuhan ekonomi yang begitu gemilang di abad ke-21.

Diaspora kaum Yahudi yang konon berjumlah 14 juta orang telah terbukti mampu menjadi entitas ekonomi paling kuat di dunia. Yang juga tak kalah mencengangkan, diaspora Filipina setiap tahun mampu mengirim uang ke negaranya sejumlah 10% dari total PDB Filipina.

Di titik inilah, pengelolaan diaspora secara benar bakal menjadi pelopor kesejahteraan suatu bangsa. Paling tidak hal ini diperkuat oleh rilis Bank Dunia yang mencatat jumlah pengiriman uang dari diaspora berbagai bangsa di seluruh dunia ke kampung halaman mereka mencapai US$483 miliar sepanjang 2011 lalu.

Dalam tataran praksis, diaspora Indonesia tetap dapat berkontribusi dan menunjukkan kecintaannya ke Indonesia tanpa harus kembali ke tanah air. Mereka bisa bisa berkontribusi dalam pembangunan republik ini dengan membangun hubungan dengan Indonesia guna membangun kerjasama, kemitraan maupun melakukan investasi serta membangun citra positif Indonesia di mata dunia.

Dalam skala yang lebih sederhana, diaspora asal Indonesia bisa menjadi duta wisata. Mereka bisa menjadi “ujung tombak” dalam mempromosikan kebudayaan dan kuliner Indonesia. Lebih-lebih kuliner negeri ini bakal punya peran penting untuk meningkatkan promosi dan identitas Indonesia di luar negeri sehingga bisa berdampak positif bagi pariwisata.

Lantas bisakah Indonesia menggarap potensi diaspora yang begitu besar itu? Jawabannya harus bisa. Apalagi dalam tataran global, saat ini diaspora Indonesia telah diakui mempunyai kekuatan sebagai inovator, entrepreneur, pelopor, dan edukator yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan yang telah menggurita di lima benua.

Karena itu, jangan tinggalkan masyarakat diaspora Indonesia karena mereka bukan hanya aset nasional yang strategis namun juga aset nasional lintas negara yang mampu mencengkeram dunia. Pemerintah harus menyatukan kekuatan mereka yang kini masih tercerai berai, yang penuh potensi namun lemah koneksi.

Pendekatan diaspora juga mesti jadi kebijakan nasional dan sebuah strategi baru mempercepat pembangunan ekonomi. Lebih jelasnya, pemerintah harus mengembangkan kebijakan yang pro komunitas diaspora Indonesia di luar negeri agar tercipta sebuah sinergi pembangunan nasional yang lebih mantap.

BERITA TERKAIT

KTNA Depok Dorong Usaha Tani Mandiri Profesional - Potensi Omzet Miliaran/hari

KTNA Depok Dorong Usaha Tani Mandiri Profesional Potensi Omzet Miliaran/hari   NERACA Depok - ‎Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota…

"Leisure Economy" dan Potensi Basis Pajak Baru

Oleh: Mohamad Apip, Staf Direktorat Jenderal Pajak *) Pakar marketing, Yuswohady, dalam lamannya mengunggah tulisan berjudul “Welcome Leisure Economy”. Tulisan itu…

PT Anweca Terbantu dengan Kaum Disabilitas - Produksi Garmen

  NERACA   Jakarta - Menyambut hari Disabilitas Internasional yang selalu jatuh tanggal 3 Desember, PT Anugraha Wening Canada (Anweca)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…