PTBA Belum Berniat Tambah Saham di BATR - Targetkan Laba Rp 3,4 Triliun di 2012

NERACA

Jakarta – PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan belum berniat menambah saham di PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR), akan tetapi perseroan lebih fokus mengembangkan infrastrukturnya.

Direktur Utama Milawarma mengatakan, prioritas perseroan bukan menambah saham, tetapi rekonstruksi tambang dan infrastrukturnya, “Target struktur kepemilikannya selesai, fokusnya masalah pendanaan dan pembebasan lahan dan kalau tambah saham itu belakangan,"katanya di Jakarta kemarin.

Sebagai informasi, PTBA sejak tahun lalu berencana menambah kepemilikan saham di BATR. Perseroan akan membeli saham milik Rajawali Corporation yang menguasai 80% saham BATR, dengan dana yang dibutuhkan mencapai US$320 juta.

Selain itu, dia juga menuturkan, perseroan akan melakukan selective mining untuk dapat meraih target laba sekitar Rp3,4 triliun pada 2012. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan strategi untuk mengejar target kinerja sebesar 20% pada 2012. Pertama, pihaknya akan melakukan selective mining. Perseroan memiliki kalori batu bara mulai tingkat rendah hingga tinggi."Kami akan meningkatkan produksi kualitas batu bara berkalori tinggi yaitu kalori 7.000. Batu bara kalori tinggi memiliki margin cukup tinggi," ujar Milawarma.

Lebih lanjut dia mengatakan, perseroan memproduksi batu bara kalori tinggi sekitar 25% pada semester pertama 2012. Perseroan menargetkan dapat memproduksi batu bara kualitas tinggi sekitar 35% pada semester kedua 2012. Selain itu, Kedua, perseroan juga akan mengendalalikan biaya dan alat.

Milawarma mengatakan, dengan strategi yang dilakukan perseroan tersebut diharapkan kinerja tumbuh 20% pada 2012. "Kami mengharapkan dapat meraih laba bersih sekitar Rp3,4 triliun pada tahun ini," kata Milawarma.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan pendapatan Rp5,79 triliun hingga semester pertama 2012 atau naik 13% dari semester pertama 2011 Rp5,11 triliun. Kontribusi pendapatan berasal dari volume penjualan sebesar 7,36 juta ton atau naik 13% hingga semester pertama 2012 dibandingkan semester pertama 2011 sebesar 6,54 juta ton.

Harga jual rata-rata Rp785,043 hingga semester pertama 2012 dari harga jual rata-rata semester pertama 2011 sebesar Rp781.228. Namun, Laba bersih turun 3% menjadi Rp1,56 triliun hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp1,61 triliun. Laba usaha turun 5% menjadi Rp1,97 triliun hingga semester pertama 2011 sebesar Rp1,97 triliun.

Milawarman menuturkan, penurunan laba tersebut dikarenakan harga komoditi turun pada semester pertama 2012. Hal itu seiring ada perlambatan ekonomi di China Selatan sehingga kebutuhan akan energi menjadi turun. "Stok batu bara melebihi stok normal. China banyak menunda mengambil batu bara, dan kontingen Amerika Serikat juga menjual batu bara," tutur Milawarma. (bani)

BERITA TERKAIT

Perketat Saham-Saham Bermasalah - BEI Bakal Tambah Jumlah Kriteria I-Suite

NERACA Jakarta – Kebijakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimplementasikan sistem i-suite pada saham emiten yang bermasalah, direspon positif pelaku…

Berikan Payung Hukum Khusus - Pemerintah Kritik Unicorn Yang Belum IPO

NERACA Jakarta – Desakan pemerintah lewat Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar empat perusahaan starup…

Penjelasan Belum Memuaskan - BEI Bakal Kembali Panggil Manajemen SOCI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali meminta manajemen PT Soechi Lines Tbk (SOCI) meminta penjelasan terkait dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…