Kepemilikan Lokal ORI Perkuat Perekonomian Nasional

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta--Kepemilikan obligasi ritel Indonesia (ORI) oleh investor lokal dinilai memperkuat ketahanan perekonomian negara terhadap pengaruh luar. "Dengan pertimbangan tersebut, Kementerian Keuangan berharap jumlah surat utang negara yang dimiliki oleh investor lokal dapat terus meningkat," kata Pelaksana Tugas Direktur Jendral Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan di Jakarta,25/7.

Lebih lanjut Robert menjelaskan kepemilikan surat utang negara saat ini didominasi oleh investor asing, sehingga mengakibatkan perekonomian Indonesia nisbi rentan terhadap pengaruh luar. "Keluar masuknya dana pembelian surat berharga negara dari pembeli asing akan mempengaruhi nilai tukar rupiah, hal inilah yang berpotensi menganggu ekonomi makro kita," tambahnya

Menurut Robert, investor domestik untuk Surat Berharga Negara (SBN) terutama dalam jenis ORI dapat terus berkembang baik dari jumlah maupun volume untuk mengimbangi kepemilikan asing atas SBN.

Oleh karena itu, Robert berharap penjual ORI dapat meningkatkan kenerjanya, sehingga jumlah masyarakat Indonesia yang berinvestasi melalui instrumen surat utang negara dapat terus meningkat. "Saat ini salah satu program prioritas dan strategis pemerintah adalah pengembangan pasar domestik surat berharga negara," paparnya.

Saat ini, jumlah investor lokal yang membeli ORI dan Sukuk Ritel sejak pasar perdana enam tahun lalu berjumlah 168.409 dan berkontribusi sebesar tujuh persen dari keseluruhan "outstanding" SBN.

Dalam siaran persnya, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan menyebutkan pemerintah menjual sukuk negara atau surat berharga syariah negara (SBSN) sebesar Rp460 miliar melalui lelang pada Selasa (24/7) untuk menutup sebagian dari target pembiayaan APBN 2012. Lelang tersebut menggunakan sistem pelelangan Bank Indonesia dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp2 triliun

Adapun perincian jumlah penawaran yang masuk untuk seri SPN-S 25012013 sebesar Rp341 miliar, seri PBs001 sebesar Rp731 miliar, seri PBS002 sebesar Rp291 miliar, seri PBS003 sebesar Rp106 miliar, dan seri PBS004 sebesar Rp530 miliar.

Imbal hasil terendah yang masuk untuk seri SPN-S 25012013 sebesar 4,16%, seri PBS001 sebesar 5,63%, seri PB002 sebesar 6,25%, seri PB003 sebesar 6,69% dan untuk seri PB004 sebesar 6,66%.

Sementara itu, imbal hasil tertinggi tertinggi yang masuk untuk seri SPN-S 25012013 sebesar 5,00%, seri PBS001 sebesar 6,28%, seri PBS002 sebesar 6,63%, seri PBS003 sebesar 7,00%, dan seri PB004 sebesar 7,38%.

Pemerintah hanya memenangi penawaran yang masuk dari SBSN seri PBS004 sebesar Rp460 miliar, sementara penawaran dari empat seri lainnya tidak ada yang dimenangkan.

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) seri PBS004 akan jatuh tempo pada 15 Februari 2037, penyelesaian transaksi 26 Juli 2012, tanggal pembayaran imbalan 15 Februari dan 15 Agustus.

Jumlah nominal dimenangkan sebesar Rp460 miliar terdiri atas nominal kompetitif sebesar Rp360 miliar dan nonkompetitif sebesar Rp100 miliar. Imbal hasil rata-rata tertimbang seri PBS004 yang dimenangkan sebesar 6,69%, dengan tingkat imbalan sebesar 6,10%.

Sementara, pada lelang surat utang negara (SUN) Selasa (17/7), pemerintah menyerap dana sebesar Rp9 triliun dari penawaran yang masuk sebesar Rp27,6 triliun.

Dalam menanggapi minat pasar dalam lelang surat berharga negara (SBN) tersebut, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan hal itu merupakan sesuatu yang patut dihargai karena dengan demikian pemerintah masih memiliki sumber pembiayaan untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 2,3% tahun ini. **bari/cahyo