Transaksi Saham di BEI Terpukul Krisis Eropa

Kinerja Semester I

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta– Melorotnya nilai transaksi haria di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester pertama 2012, kata Direktur Utama BEI Ito Warsito karena dampak negatif dari indeks global. Dimana krisis yang menerpa Eropa dinilai berdampak pada perekonomian global dan membuat transaksi di pasar-pasar saham dunia juga mengalami penurunan.

Sebagaimana diketahui, pada semester I-2012, nilai transaksi harian BEI tercatat sebesar Rp4,53 triliun atau menurun sekitar 11,15% jika dibandingkan rata-rata nilai transaksi harian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak Rp5,03 triliun.“Hal ini pula yang terjadi pada nilai transaksi harian di BEI,” katanya di Jakarta, Rabu (25/7).

Hal senada diungkapkan Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, gejolak negatif dari bursa global membuat investor tidak berani mengerahkan kekuatannya untuk bertransaksi. Pasalnya, investor cenderung main short term dan asing juga lebih memilih net sell. Oleh karena itu, tidak heran perdagangan jadi menurun.

Edwin mengatakan, pengaruh negatif bursa global pada nilai transaksi harian semester I-2012 di BEI ini dipercaya akan terus berlanjut pada semester II-2012. Sementara terkait adanya fasilitas online trading yang memudahkan investor untuk melakukan transaksi, menurut Edwin, pengaruhnya memang ada, namun tidak begitu signifikan.“Memang akan berdampak pada transaksi, namun tidak begitu besar,” ujarnya

Selain itu, Ito juga mengungkapkan, saat ini tengah ada tren banyak perusahaan terbuka atau emiten yang akan melakukan pergantian bisnis. Pergantian bisnis tersebut, lanjut Ito memiliki latar belakang alasan yang bermacam-macam, namun mayoritas dari perusahaan tersebut beralasan melakukan pergantian bisnis untuk mencari peluang yang lebih baik agar dapat mendorong kinerja keuangan perusahaan.“Ada beberapa perusahaan yang mengajukan dokumen untuk melakukan pergantian core business, ada manufaktur, ada sektor properti,” ungkapnya.

Ganti Haluan Bisnis

Ito mengatakan, beberapa perusahaan yang ingin melakukan pergantian bisnis tersebut saat ini mengalami keterpurukan karena dampak dari krisis keuangan. Namun, pergantian bisnis ini juga membutuhkan proses yang panjang, oleh karena itu pihaknya masih enggan menyebutkan perusahaan-perusahaan mana yang melakukan pergantian bisnis.

Beberapa waktu yang lalu ada beberapa perusahaan yang mengalihkan bisnisnya karena berbagai alasan, di antaranya PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang awalnya pemain di bidang pembiayaan memutuskan untuk merubah bisnis intinya menjadi perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan dan pertambangan Nikel setelah mayoritas sahamnya dibeli oleh PT Jinsheng Mining yang berkonsentrasi pada bisnis perdagangan tembaga, nikel, zinc, serta besi.

Selain itu, ada juga perusahaan di sektor properti yaitu PT Laguna Cipta Griya Tbk (LCGP) yang juga beralih profesi ke sektor tambang setelah saham mayoritasnya dibeli oleh PT Saga Petroleum Indonesia, anak usaha dari perusahaan asal Amerika Serikat, Group Saga, yang memiliki izin untuk mengeksplorasi sumur minyak yang berkapasitas 1.000 barel per hari di Sumkatera Utara.

Sementara itu, ada juga perusahaan pengembang IT PT Myoh Technology Tbk (MYOH) yang juga melirik sektor pertambangan pasca mayoritas sahamnya dikuasai perusahaan asal Korea Selatan yang bergerak di bidang energy yaitu Samtan Co Ltd. Yang terakhir adalah PT Eatertainment Internasional Tbk (SMMT) yang bergerak di sektor jasa dan mengalihkan bisnisnya ke sektor pertambangan dengan melakukan akuisisi terhadap dua perusahaan tambang di Sumatera dan Kalimantan. (bani)