Bank Bermasalah Diminta Segera Merger

Ketimbang Diakuisisi Asing

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta--- Bank-Bank swasta yang tidak sehat atau bermasalah sebaiknya berinisiatif untuk melakukan merger dengan bank-bank besar nasional daripada diakuisisi oleh bank milik asing. "Lebih baik bank-bank swasta (bermasalah) yang berinisiatif terlebih dahulu untuk merger dengan bank besar nasional sebelum diambil alih asing," kata Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti di Jakarta, Rabu,24/7

Lebih jauh kata Destry, seiring berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/8/PBI/2012 perihal kepemilikan saham bank umum yang membuka peluang bank-bank besar baik nasional maupun asing untuk mengakuisisi bank yang kesehatannya rendah. "Aturan itu akan membawa peluang besar bagi bank asing untuk mengakuisisi bank-bank lokal, sementara bagi bank-bank nasional akuisisi bukan hal yang gampang dan murah," tambahnya

Menurut Destri, bank-bank nasional keberadaannya harus tetap diutamakan. Di Singapura, dia mencontohkan, terdapat peraturan Monetary Authority of Singapure (MAS) untuk tetap mengutamakan eksistensi bank-bank nasionalnya serta mempersulit bank asing untuk masuk ke sana.

Dosen FEUI ini menambahkan di Indonesia bank-bank asing dapat dengan mudah berekspansi. "Yang lebih menarik adalah mereka (bank asing) dapat mengakuisisi dengan kepemilikan saham 99% bank lokal yang tidak sehat," ujarnya

Memang, dia menambahkan, Indonesia tidak boleh menutup diri dengan bank-bank asing namun dalam perjalanannya harus tercipta suatu "treatment" yang ideal.

Gubernur BI Darmin Nasution Sebelumnya mengatakan BI akan mendorong bank-bank swasta yang tidak sehat untuk melakukan konsolidasi agar bisa dimerger atau diakuisisi bank-bank besar nasional.

Untuk mempermudah bank nasional mengakuisisi bank lokal, dia mengatakan aturan single present policy (SPP) tidak lagi dilaksanakan dengan ketat. "Intinya adalah jangan kemudian dibacanya (aturan kepemilikan saham) bank yang kurang sehat didorong dan dibiarkan oleh BI untuk dibeli asing," kata Darmin.

Kemarin, Executive Vice President Head of Corporate Affair BNLI Leila Djafaar mengungkapkan dengan adanya peraturan tersebut dapat membantu masyarakat dalam menentukan pilihan yang aman untuk melakukan sebuah transaksi keuangan. "Tapi mungkin yang jadi latar belakang adalah bank di Indonesia banyak sekali sampai 120-an dan perlu membantu untuk menjaga keamanan nasabah. Jadi bank-bank itu otomatis akan terseleksi dari 120 mungkin akan terseleksi menjadi jumlah bank yang memang benar-benar baik itu untuk masyarakat. Jadi tujuan akhirnya bank melindungi nasabah," ungkapnya

Leila melanjutkan, peraturan tersebut membantu dunia perbankan semakin kuat di Indonesia karena masih bergejolaknya perekonomian di dunia. "Untuk mengantisipasi semua kita juga ingin meyakinkan bahwa Indonesia baik perbankan maupun industri-industri financial-nya akan kuat," paparnya. **ria/cahyo