Kemenperin Dorong Peran Bulog Sangga Pasokan Kedelai

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian mengungkapkan, koperasi tempe dan tahu butuh penyangga dalam menjamin pasokan, seperti Perum Bulog dan untuk mengurangi beban, Bea Masuk (BM) kedelai 5% dihapus serta koperasi tempe tahu dibolehkan impor kedele sendiri.

"Peran Bulog memang sangat dibutuhkan untuk menyangga pasokan dan itu yang diharapkan koperasi tahu dan tempe," kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah di Jakarta, Rabu (25/7).

Sebanyak 70% kedelai digunakan untuk bahan baku tempe dan sebanyak 30% untuk bahan baku lain, seperti susu kedelai. Pihaknya menemukan ada dua jenis tempe yang dijual di pasaran, yakni tempe dengan kualitas bagus seharga Rp12 ribu per kilogram dengan tempe yang seharga Rp5 ribu per kilogram.

Dia menduga tempe seharga Rp8 ribu yang umumnya dijual di pasaran itu adalah campuran tempe dengan permukaan mulus dan berlubang. "Tempe yang berlubang itu untuk pakan ternak. Karena harga tempe yang kian mahal jadi terpaksa para produsen mencampurnya," katanya.

Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian dan Kementerian Pertanian (Kementan) menyelidiki mengenai 'hilangnya' pasokan tempe tersebut yang menimbulkan permasalahan baru seperi pencampuran kedua jenis tempe tersebut.

Saat ini Indonesia telah mengimpor 1,6 juta ton kedelai. Produksi dalam negeri hanya 600.000 ton. Namun pihak koperasi tidak mengetahui pasokan tersebut disimpan. Pihaknya masih mendalami alasan di balik penimbunan pasokan kedelai tersebut. "Kalau memang alasannya karena cuaca buruk, tidak seperti itu mekanismenya," jelas dia.

Subsidi Harga

Sementara itu, Sekretaris Primer Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia, Eko Raharjo meminta agar pemerintah ikut bertangung jawab memberikan subsidi harga beli kedelai impor. Permintaan ini terkait dengan keberatan para perajin yang mulai terdesak oleh kenaikan harga kedelai yang selama ini menjadi bahan baku utama untuk memproduksi salah satu makanan asli Indonesia ini. “Saya meminta pemerintah ikut bertanggung jawab untuk intervensi pasar dengan cara memberikan subsidi kepada perajin,” ujar Eko.

Menurut Eko, langkah ini sangat penting mengingat para perajin sudah mulai kewalahan menghadapi kenaikan harga kedelai yang terus melonjak. Bahkan Eko mengaku di antara anggota koperasi yang ia kelola sebagian besar sudah terjerat utang ke pedagang kedelai. “Kalau lama–lama dibiarkan, saya khawatir mereka akan tutup. Mereka sudah lama tak bisa membeli kedelai di koperasi,” jelasnya.

Saat ini harga kedelai impor yang masuk di pasar perajin Kota di beberapa bagian kota besar di Indonesia,mencapai Rp 7.600 hingga Rp 7.700 per kilogram. Kenaikan ini dia nilai sangat memberatkan dari harga sebelumnya pada kisaran Rp 6.500 hingga Rp 6.600 per kilogram.

Para perajin enggan menaikkan harga jual tempe atau tahu ke pelanggan maupun mengurangi kuantitas produksi. Mereka khawatir penentuan kenaikan harga ataupun pengurangan kuantitas berisiko terhadap para pelanggan. “Ada kekhawatiran pelanggan tempe beralih ke ikan asin atau lauk lain, seperti sayuran yang harganya lebih terjangkau,” katanya.