Perkembangan Ritel Modern Ancam Pasar Tradisional

NERACA

Jakarta - Sejalan dengan meningkatnya daya beli konsumen, usaha ritel tetap berkembang pesat di tahun 2012. Okupansi pada pusat ritel yang selesai pada tahun depan diperkirakan meningkatkan pertumbuhan permintaan sebesar 7,4% dengan proyeksi take up 213.200 meter persegi.

Terjadinya peningkatan tersebut, didorong oleh meningkatnya tren bagi orang untuk kembali pindah ke dalam wilayah kota Jakarta, dan masuknya merek asing ke Indonesia. Selama kuartal keempat 2011, beberapa merek internasional membuka tokonya yang pertama di Jakarta, antara lain Staccato dan Mango Touch di Pondok Indah, Stradivarius dan New Look di Central Park.

Selama tahun 2011 tercatat, ruang ritel baru yang selesai dibangun hanya seluas 75.200 meter persegi. Luasan ini merupakan penambahan pasokan tahunan terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Pada Desember 2011, jumlah pasok ruang ritel di Jakarta tercatat seluas 3.559.600 meter persegi, bertambah 1,6% tahun ke tahun yang terdiri atas 2.435.700 meter persegi (68,4%) ruang ritel sewa dan 1.123.900 meter persegi ruang ritel strata.

Diperkirakan 336.800 meter persegi ruang ritel akan masuk ke pasar sepanjang tahun 2012. Hampir 98,4% merupakan ritel sewa. Pada akhir tahun 2012, pasok ruang ritel di Jakarta akan mencapai 3.896.400 meter persegi.

Untuk harga sewa rata-rata toko (specialty shop) pada lantai dasar di lokasi premium, pada Desember 2012, tercatat Rp615.600 per meter persegi tiap bulannya, naik 3,0% tahun ke tahun. Adapun untuk biaya jasa (service charge) adalah Rp95.700, naik 5,35 tahun ke tahun dengan kisaran tariff antara Rp75.000 hingga Rp130.500. Harga sewa ruang retail dan biaya jasa relatif tidak berubah ini, tentu akan lebih menarik persaingan di pasar ritel dan diperkirakan terus berlanjut.

Menyikapi peningkatan ritel modern atau internasional di dalam negeri, Aris Yunanto, pengamat ekonomi mengatakan, dari sisi persaingan bisnis mungkin bisa dikatakan bagus. Akan tetapi, di sisi lain dapat mengancam pertumbuhan ritel lokal. “Pertumbuhan pasar ritel dalam negeri memang telah didesak oleh asing, namun pemerintah sebaiknya tidak lupa untuk memajukan ritel tradisional atau dalam negeri sendiri,” jelas Aris di Jakarta, kemarin.

Menurut Aris, melihat pertumbuhan ritel modern yang cukup signifikan karena pengaruh adanya pasar bebas, pemerintah berhak menerapkan non tariff barier dengan peraturan-peraturan mulai lokal, sampai nasional. Hal tersebut diharapkan agar tidak memukul pertumbuhan ritel tradisional di tanah air.

BERITA TERKAIT

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…