Saatnya Pasar Modal Bicara Kualitas dan Bukan Kuantitas

Tekan Jumlah Saham Tidur

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun industri pasar modal tengah dilanda sentimen negatif krisis Eropa, tidak membuat gentar minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal. Pasalnya, tidak ada alasan bagi perusahaan untuk menunda pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di dalam negeri, karena iklim investasi masih baik dengan dibuktikan pertumbuhan ekonomi masih positif dan inflasi masih terjaga baik.

Menjawab keraguan bila minat IPO seret lantaran krisis Eropa, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengungkapkan, saat ini ada tiga hingga empat perusahaan yang telah mengajukan IPO di semester kedua meski krisis ekonomi global masih membayangi, “Meski kondisi global masih bergejolak, beberapa perusahaan sudah ada yang mengajukan untuk melakukan IPO," katanya di Jakarta, kemarin

Dia menambahkan, perusahaan yang telah memasukkan dokumen pengajuan IPO itu diantaranya berasal dari sektor transportasi dan perkebunan. Perusahaan-perusahaan itu menggunakan buku laporan April, sehingga memiliki waktu efektif pada Oktober 2012.

Bahkan guna meningkatkan daya saing industri pasar modal dengan negara tetangga, pihaknya tengah berusaha mengaktifkan saham-saham yang masuk dalam kategori saham tidur atau tidak likuid diperdagangkan di pasar agar lebih aktif.

Sementara Direktur IT BEI Adikin Basirun menuturkan, industri pasar modal dalam negeri terbilang tahan banting terhadap sentimen krisis di Eropa. Alasannya, jumlah investor ritel saat ini tengah lagi digalakkan lebih banyak ketimbang institusi. Investor ritel lokal sendiri, diyakininya tahan terhadap goncangan jika terjadi fluktuasi pasar di tengah krisis Eropa.

Optimalkan Investor Ritel

Kata Adikin Basirun, investor ritel adalah penyeimbang dari jumlah investor institusi yang ada, terutama sebagai bentuk ketahanan mencegah jika ada goncangan pasar. “Kalau investor luar dan apalagi institusi, bila ada apa-apa mereka bisa saja langsung keluar," tuturnya.

Saat ini komposisi investor yang bermain di pasar modal Indonesia adalah 60 : 40. Artinya, 60% investor berasal dari luar dan 40% investor lokal. Diharapkan kedepannya, komposisi investor lokal bisa lebih banyak dan minimal 50: 50 agar ketahanannya bisa lebih baik.

Untuk menjaring semakin banyaknya investor ritel, sambung Adikin tidaklah mudah. Pasalnya, dibutuhkan sistem pemasaran yang lebih baik agar jumlahnya terus bertambah. Asal tahu saja, PT Bursa Efek Indonesia mengakui sulit mendongkrak jumlah investor domestik dalam menguasai industri pasar modal dalam negeri, kendatipun saat ini tren kepemilikan saham asing turun menjadi 60% dibanding sebelumnya 70%.

Bagi Direktur Pengawasan Anggota Bursa BEI Uriep Budhiprasetyo, komposisi jumlah investor domestik harus lebih besar dibandingkan asing. Tujuannya, agar bursa saham Indonesia tidak mudah disetir oleh investor asing,”Idealnya komposisi investor itu 70% untuk investor lokal dan 30% asing, bagus untuk menahan pasar saham kita agar tidak terlalu didikte asing,”ungkapnya.

Saham Tidur Menjamur

Bicara soal saham tidur, menurut Dirut BEI Ito Warsito, setiap pasar modal selalui ada saham tidur dan hal yang bisa dilakukan otoritas bursa adalah mendorong agar lebih aktif dan tetap stabil. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan bursa, saham tidur di BEI diperkirakan mencapai 100 perusahaan.

Meski demikian, jumlah itu cenderung turun dibanding tahun sebelumnya. Saat ini pihak bursa juga tengah memberikan workshop kepada emiten agar saham di pasar lebih likuid. "Bursa juga telah mengumpulkan saham-saham yang tidur, kemudian bursa meminta perusahaan untuk 'floating shares' (meningkatkan porsi saham beredar)," kata Ito.

Menurut dia, dengan bertambahnya jumlah saham yang beredar di pasar maka dapat meningkatkan likuiditas sahamnya, namun hal itu juga diiringi dengan aksi korporasi perusahaan dan kinerja keuangan yang positif.

Kata Ito, saham tidur ada di semua sektor. Awalnya, saham tidur itu dipicu dari krisis moneter di dalam negeri yang sempat terjadi, sehingga membuat beberapa perusahaan merugi dan membuat sahamnya tidak likuid. Meski demikian, dikatakan Ito, fenoma saham tidur itu bukan hanya dipicu dari krisis, setiap perusahaan mempunyai masalah yang berbeda-beda.

Sementara Kepala Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo paling keras bicara soal saham tidur, sebaiknya BEI melakukan delisting masal saham-saham tidur. Langkah ini dinilai lebih baik jika dibandingkan melakukan backdoor listing, “Saya setuju delisting massal saham-saham tidur. Itu langkah tepat daripada melakukan backdoor listing, yang menurut saya lebih banyak merugikan,”ungkapnya kepada Neraca.

Backdoor listing, sambung Satrio justru seringkali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal backdoor listing ini sebenarnya dipergunakan sebagai jalan keluar bagi perusahaan sakit agar menjadi sehat.

Terkait kasus Davomas dan Katarina yang lama disuspen karena lambat melaporkan keuangan, Satrio menuturkan bisa dikategorikan sebagai emiten nakal yang layak untuk didelisting. “Fundamental emiten ini sudah tidak ada, jadi sangat diragukan likuiditasnya. Apalagi harga sahamnya sudah mentok di angka Rp50 per lembar saham dan tidak bergerak. Harusnya didelisting segera,” tegas Satrio.

Sedangkan praktisi pasar modal Lucky Bayu Purnomo menuturkan, pemberian suspensi ini karena memang emiten tersebut tidak menjadi tujuan perdagangan utama (major trading) investor. Selain itu, pasar juga tidak mengapresiasi emiten saham tidur tersebut. “Kena suspensi karena frekuensi perdagangan sangat kecil. Ini yang dinamakan saham tidur atau defensive stock,” ujar dia.

Layak Didelisting

Lebih lanjut CEO Remax Capital ini menjelaskan, khusus saham Pool Advista, dirinya menduga adanya niat kurang baik dari manajemen perseroan. Pasalnya, emiten berkode POOL ini lebih sering terkena suspensi. Oleh karena itu, Lucky menegaskan potensi ke arah men-delisting-kan diri sangat terbuka lebar.

Tak hanya itu saja. Lucky pun berpendapat seharusnya Pool Advista meniru langkah Danone Aqua yang melakukan go private dengan itikad baik. Dia mengatakan bahwa saham terakhir Aqua sebelum delisting sebesar Rp500 lembar saham. Artinya, dari sisi harga pasar sudah sangat baik. Kendati demikian, Lucky melihat ada cara bagi emiten yang terkena suspensi untuk memperbaiki kinerja. Pertama, melaksanakan aksi korporasi yang jelas. Kedua, membuat sistem laporan keuangan terpadu.

Sedangkan analis Recapital Asset Management, Pardomuan Sihombing membandingkan saham tidur menjadi dua kategori. Yaitu, saham tidur yang kinerjanya baik tapi tidak likuid, serta saham tidur yang kinerjanya tidak bagus dan tidak likuid.

Dia menuturkan, emiten yang bisa didelisting hanyalah emiten berkinerja tidak bagus dan tidak likuid. “Di bursa yang terpenting adalah taat aturan. Selama emiten masih taat aturan seperti tidak telat laporan keuangan, ya, tidak masalah. Beda halnya jika emiten yang kinerjanya tidak bagus tapi sahamnya pun tidak likuid. Inilah yang pantas didelisting,” ujar Pardomuan.

Kendati demikian, imbuh dia, sebelum melakukan delisting sebagai langkah terakhir, ada baiknya otoritas bursa memberi teguran berupa pemberian suspensi. “Harus diingat juga, bursa itu untuk melakukan pembinaan bukan pembinasaan. Kalau langsung ‘dibinasakan’ (delisting) pasti pelaku pasar modal atau investor takut menanamkan modal. Imbasnya sangat negatif ke perkembangan pasar modal tanah air,” tegasnya.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan agar BEI melakukan cek dan ricek sebelum suatu calon emiten melantai di pasar modal. Contohnya, sebelum memasukkan perusahaan untuk mencatatkan saham, terlebih dahulu BEI harus melihat perkembangan usahanya. Kemudian kinerja serta prospek pasca melantai di bursa. (bani)

Topik Terkait

jumlah kuantitas saham