Krisis Tempe di Indonesia

Kamis, 26/07/2012

Di waktu lalu tempe dipandang sebagai makanan yang murah, namun sekarang tidak lagi. Terus melonjaknya harga kedelai membuat harga bahan pangan penuh gizi itu turut membubung. Begitu tingginya kontribusi kedelai dalam hal penyediaan bahan pangan bergizi bagi manusia sehingga kedelai biasa dijuluki sebagai gold from the soil, mengingat kualitas asam amino proteinnya yang tinggi, seimbang dan lengkap.

Tidaklah heran kebiasaan masyarakat Indonesia menyantap tempe, sempat mendapat pujian dari WHO karena ternyata tempe selain kaya protein. Juga, di dalamnya terkandung banyak senyawa gizi yang bermanfaat untuk kesehatan dan kebugaran, antara lain lesitin penghambat penyakit serangan jantung mendadak (koroner) serta antioksidan, antibiotika, antivirus dan zat pengatur tumbuh yang memiliki manfaat tinggi untuk kesehatan dan kebugaran.

Selain tempe, kedelai bagi industri pengolahan pangan di Indonesia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu, kecap maupun tauco. Banyaknya industri pengolahan berbahan baku kedelai menyebabkan tingginya tingkat kebutuhan kedelai yang mencapai lebih dari 2,24 juta ton setiap tahunnya. Padahal, kenyataannya kapasitas produksi nasional tahun 2000 hanya mampu menghasilkan 1,19 juta ton. Ini berarti ketergantungan akan suplai kedelai impor setiap tahunnya bisa mencapai di atas 1,16 juta ton.

Ketertinggalan tersebut bukannya tidak disadari pemerintah, yang sudah sejak tahunan lalu telah mengupayakan untuk meningkatkan produksi kedelai melalui berbagai program pendekatan seperti Program Pengapuran, Supra Insus, Opsus Kedelai, dan terakhir Program Gema Palagung (Gerakan Mandiri Padi Kedelai Jagung). Yaitu, melalui salah satu cara dengan peningkatan Index Pertanaman (IP) 300 menuju swasembada kedelai tahun 2001. Anehnya, sampai saat ini Indonesia belum mampu melakukan swasembada kedelai.

Yang terjadi sekarang, para perajin tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) resmi kompak menghentikan pasokan tempe/tahu di pasar sekitar Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Banten. Dampaknya, tempe menjadi barang makanan paling langka sejak kemarin (25/7).

Tidak hanya di Jabodetabek, pada waktu yang sama ratusan perajin kedelai dan pedagang tahu menggelar aksi di pertigaan jalan utama, tepatnya di Tugu Kartasura. Jalur di pertigaan yang menjadi persimpangan menuju Yogyakarta, Solo, dan Semarang pun sempat tersendat.

Aksi perajin tersebut mengecam pemerintah yang dianggap gagal melindungi mereka sebagai perajin industri kecil. Harga kedelai yang semakin tidak terjangkau membuat pasokannya sulit dicari. Dalam orasinya, salah satu peserta aksi mengatakan, harga kedelai kini mencapai Rp 8000 per kilonya, membuat anak anak mereka tidak lagi bersekolah, karena orangtua mereka bangkrut.

Akibat mogok produksi oleh perajin tempe dan tahu di sebagian besar wilayah Jawa, salah satu menu favorit keluarga Indonesia tersebut hilang di pasaran. Kondisi ini terjadi di Pasar Inpres Kramat Jati, Jakarta Timur. Mogok produksi tersebut merupakan respon atas kenaikan harga kedelai di Indonesia.

Impor kedelai yang dilakukan pemerintah merupakan jalan pintas untuk memasok kekurangan dalam negeri, namun jelas merugikan petani karena harga komoditas cenderung melemah. Meski di sisi lain diharapkan bisa memacu petani untuk mengusahakan pertanaman kedelai secara efisien dan menerapkan teknologi tepat guna, ketidakterpaduan kebijakan perkedelaian di negeri ini membuat harapan ini tak semudah itu terwujud. Swasembada kedelai malah jauh dari panggang api di negara agraris seperti Indonesia.