Target Produksi Terus Meleset, Industri Gula Butuh Road Map Baru

Kamis, 26/07/2012

NERACA

Jakarta - Produksi gula nasional masih terhimpit banyak masalah. Beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan kebijakan perekonomian nasional. Jika pemerintah tak kunjung membenahi, maka bisa dipastikan target swasembada gula nasional pada 2014 akan mengalami kegagalan.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan gula kristal putih (GKP) untuk komsumsi merupakan penyebab harga gula fluktuatif. “Target produksi setiap tahun tidak tercapai, sangat disayangkan kemampuan PTPN gula untuk mensuplai dan mendistribusikan gula komsumsi di seluruh pelosok di Indonesia sudah tidak bisa lagi dipertahankan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Rabu (25/7).

Karena beberapa daerah tidak mendapatkan suplai gula dari PTPN, kata Natsir, pemerintah perlu membuat roadmap yang baru tentang produksi-distribusi-perdagangan supaya persoalan pergulaan nasional tidak terjadi berulang-ulang. “Ibarat lingkaran setan yang tidak dapat terselesaikan, penataan manajemen pergulaan nasional tidak bisa lagi berdasarkan adhoc, kalau saya lihat kemampuan PTPN untuk mensuplai gula komsumsi hanya di pulau Jawa saja, lalu bagaimana daerah di luar Jawa yang selalu mempunyai masalah distribusi dan harga tinggi,” tukasnya.

Pihaknya menilai bahwa saat ini sangat penting dibuat roadmap yang baru, dibuat oleh pemerintah bersama Kadin, serta melibatkan asosiasi supaya peta pergulaan nasional dapat diketahui secara tepat. Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan pemerintah perlu meningkatkan produktivitas tanaman tebu untuk mencapai swasembada gula 2014.

Menurut dia, dengan rata-rata tingkat rendemen tanaman tebu saat ini hanya 7% dengan luas areal 450 ribu hektare, maka produksi per hektare sekitar 5,2 ton. Untuk mencapai swasembada gula kristal putih (GKP) 2,9 juta ton pada 2014, maka setidaknya produktivitas minimal 6,3 ton.

Produktivitas Rendah

Rendahnya produktivitas dan tingkat rendemen ini, lanjut Soemitro, lantaran pabrik gula di Indonesia sudah dalam kondisi memprihatinkan. Dari 62 pabrik gula yang ada di dalam negeri, sebanyak 51 pabrik gula milik BUMN. “Kondisi pabrik gula milik BUMN ini tidak bagus sehingga rendemen rendah, bukan karena kualitas tebu petani yang jelek,” katanya.

Langkah pemerintah yang justru menurunkan target swasembada gula dinilai tidak masuk akal. Padahal target swasembada masih bisa dicapai tanpa harus mengandalkan penambahan areal tanaman tebu.

Dia menceritakan, dengan lahan terbatas, Indonesia bisa mencapai swasembada. Pada tahun 1929, pemerintah mampu memproduksi gula hingga 3 juta ton dengan areal hanya 200 ribu hektare. Pencapaian itu didorong oleh tingginya tingkat rendemen tanaman tebu rata-rata 15 ton per hektare. Jumlah pabrik gula saat itu juga diketahui sebanyak 179 perusahaan. “Untuk mencapai swasembada yang tinggal dua tahun lagi, perlu ada peningkatan rendemen, bukan perluasan lahan,” katanya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir mengatakan pemerintah terpaksa merevisi target produksi swasembada gula 2014. Dalam roadmap awal, produksi gula pada 2014 ditargetkan 5,7 juta ton, namun kini direvisi menjadi 4,81 juta ton.

Menurut dia, revisi target pencapaian swasembada produksi gula itu akibat sulitnya merealisasikan penambahan lahan tanaman tebu baru. Asumsi penetapan target itu, Kementerian Pertanian bisa mendapat lahan tambahan seluas 350 ribu hektare, ternyata tambahan lahan itu belum juga bisa direalisasikan."Sekarang kami realistis saja, tidak mengharapkan lagi adanya penambahan lahan. Target saat ini tidak lagi memperhitungkan tambahan lahan, tapi kami tetap optimistis swasembada bisa tercapai pada 2014," katanya.