Pembangunan JSS Mendapat Penolakan

Rabu, 25/07/2012

NERACA

Jakarta---Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapat penolakan dari 14 elemen masyarakat. Alasanya, proyek JSS dinilai mengingkari jati diri sebagai negara kepulauan. Dan hanya menguntungkan bagi pelaku ekonomi bermodal besar di lintas Merak-Bakauheni. "Kami atas nama 14 elemen masyarakat menolak keras rencana itu karena itu pengingkaran terhadap jati diri sebagai negara kepulauan," kata Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi di Jakarta, Selasa.

Menurut Siswanto, berdasarkan deklarasi Juanda, laut antar pulau di Indonesia adalah jembatan penghubung dengan kapal-kapal sebagai jembatannya. "Penggagas JSS berarti tidak mengerti akan konsep ini," katanya.

Dia menyebut, sejumlah negara kepulauan lainnya seperti Jepang dan Filipina, sampai saat ini tidak punya rencana pembangunan jembatan di selat-selat mereka. "Mereka mengandalkan armada kapal feri," katanya.

Oleh karena itu, dia mengkhawatirkan, jangan-jangan nantinya akan dibangun Jembatan Jawa Bali, Jembatan di atas selat-selat Kalimantan, Sulawesi dan lain lain. "Informasi dari elemen transportasi penyeberangan di Surabaya sudah disebutkan bahwa Jembatan Suramadu, kini sudah dibatasi hanya untuk truk di bawah 30 ton. Yang lebih dari itu, harus pakai feri. Tapi, ferinya kini sudah dialihkan ke lintasan lain di Indonesia karena di sana sudah sepi setelah jembatan Suramadu beroperasi," katanya.

Selain itu, tujuan pembangunan Jembatan Suramadu, untuk membantu pertumbuhan ekonomi warga Pulau Madura, belum beranjak karena justru dengan adanya jembatan itu, masyarakat Madura jadi berbondong-bondong ke Surabaya sebagai urban komuter. **cahyo