Penyediaan Lapangan Kerja Belum Maksimal

NERACA

Jakarta—Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakui pemerintah terus berupaya menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas dan bisa memberikan pendapatan yang lebih baik. "Peningkatan lapangan kerja itu “inline” dengan pertumbuhan ekonomi kita, ini (penciptaan lapangan kerja) memang satu hal yang tidak bisa segera dilakukan, namun pemerintah akan berupaya secara maksimal," kata Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo di Jakarta

Namun kata Lukita, saat ini perekonomian Indonesia dalam kondisi baik meski perekonomain dunia masih dalam situasi yang penuh ketidakpastian. "Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat baik, maksudnya, pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 6,3%. Itu adalah salah satu yang tertinggi di atas level 6%,” tambahnya

Menurut Lukita, sementara negara-negara seperti China dan India melambat akibat krisis yang terjadi, namun Indonesia tetap di posisi sama dengan tahun sebelumnya. "Ini adalah suatu kinerja yang baik karena pemerintah mempunyai kebijakan kebijakan yang tepat sehingga kondisi perekonomian baik," ucapnya

Ditambahkan Lukita, kinerja perekonomian Indonesia juga bisa terlihat dari adanya stabilitas keuangan yang terjaga serta inflasi yang terkendali. Pihaknya dengan demikian optimistis perekonomian Indonesia masih akan tumbuh sesuai dengan prognosis APBNP 2012, kira-kira 6,5% hingga 6,7%, jika berjalan sesuai skenario.

Selain itu, lanjut Lukita, kondisi perbankan nasional saat ini juga dalam kondisi yang tetap terjaga stabilitasnya dan sehat dengan fungsi intermediasi yang terus meningkat dalam mendukung pembiayaan perekonomian.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), industri perbankan menunjukkan kinerja yang semakin solid sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/capital adequacy ratio) yang berada jauh di atas minimum 8,0% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/non performing loan) gross di bawah 5,0%.

Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Mei 2012 mencapai 26,3% (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,3% (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 28,9% (yoy) dan 20,3% (yoy).

Lukita menambahkan, meskipun ekspor terkoreksi, indikator makroekonomi lainnya menunjukan kinerja yang cukup baik. Pengelolaan ekonomi Indonesia yang mengandalkan pasar domestik mulai ditiru oleh China dan India yang mulai bergeser dari negara eksportir dan investasi menjadi negara konsumer. "Cara itu dianggap sebagai kunci dalam meningkatkan daya saing ekonomi suatu negara di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat krisis Eropa.," pungkasnya. **bari

BERITA TERKAIT

Lion Air Rencanakan IPO - BEI Pastikan Belum Terima Dokumen Resmi

NERACA Jakarta – Wacana Lion Air bakal menggelar penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek…

Menteri Luar Negeri RI - Kerja Sama Konkret Indo-Pasifik Selaras Visi Poros Maritim

Retno Marsudi Menteri Luar Negeri RI Kerja Sama Konkret Indo-Pasifik Selaras Visi Poros Maritim  Jakarta - Menteri Luar Negeri RI…

KTP Belum Bisa Jawab Semua Masalah Publik

  Oleh : Sugeng Hermansyah, Pemerhati Masalah Sosial Politik Dalam debat putaran ketiga yang mempertemukan kedua cawapres, KH Ma’ruf Amin…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Data Eksplorasi Migas Indonesia Masih Lemah

  NERACA   Jakarta - Anggota legislatif Komisi VII DPR Tjatur Sapto Edy menilai bahwa sistem data eksplorasi minyak dan…

Imperva Bangun Scrubbing Center di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Imperva Inc, perusahaan cybersecurity mengumumkan hadirnya DDoS Scrubbing Center pertama di Indonesia. Menurut Wakil…

Pemda Diminta Lapor Penggunaan Dana DBHCT

  NERACA   Karawang - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah daerah harus melaporkan penggunaan dana…