Relokasi Kendaraan Berat Dari Pantura

Kurangi Beban Jalan

Rabu, 25/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerinta diminta merelokasi traffic kendaraan berat di jalur Pantura. Sehingga beban jalan tersebut bisa dikurangi dan lebih banyak menggunakan moda transporasi kereta api. “Kendaraan berat yang melintasi Pantura segera direlokasikan agar tak lagi menggunakan truck setiap harinya tapi bisa menggunakan moda tranportasi seperti kereta api,” kata pengamat transportasi UGM, Danang Parikesit kepada Neraca,24/7

Menurut Guru Besar UGM ini, perbaikan jalan di daerah Pantura lebih disebabkan masalah pada struktur dasar tanah yang terlalu banyak kadar air-nya. Sehingga menyebabkan kerusakan jalan terus tejadi. “Struktur tanah Pantura yang menyebabkan perbaikan selalu dilakukan,” ungkapnya

Selain itu, kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) UGM ini, ada hal lain yang ikut memperparah kerusakan jalan, yakni pengerjaan perbaikan jalan itu dilakukan dalam cuaca yang tak menentu berakibat mempengaruhi kualitas jalan tersebut.

Yang jelas Danang mengakui, traffic yang tinggi di Pantura adalah salah satu penyebab cepatnya kerusakan jalan. Setidaknya ada sekitar 40 ribu kendaraan perhari berlalu lalang di Pantura. “Pantura adalah salah satu jalan yang paling sibuk setiap harinya. Hal itulah dampak dari kerusakan,” tambahnya

Danang memperkirakan untuk bisa membangun jalan yang cukup baik maka memerlukan dana Rp10 miliar per kilometer. “Biasanya untuk setiap kilometernya menelan Rp3 miliar. Namun kalau yang lebih bagus lagi bisa mencapai Rp10 miliar,” tegasnya.

Dikatakan Danang, dengan biaya sekitar Rp10 miliar tersebut, maka jalan aspal hanya bertahan dalam kurun waktu 10-15 tahun. Namun dengan penggunaan jalan beton maka akan bertahan hingga mencapai 25 tahun. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana tak lebih dari Rp30 triliun guna memperbaiki, merawat dan membangun jalan baru di Indonesia.

Sementara itu, pakar transportasi lainnya, Darmaningtyas menduga pengerjaan perbaikan jalan Pantura hanya sekadar proyek yang dibagi-bagi. “Proyek perbaikan adalah proyek yang dibagi-bagi secara legal dan melalui proses tender yang sah,” ujarnya

Sejauh itu, kata Darmaningtyas menilai ada sekitar 10 perusahaan yang diduga ikut terlibat dan menikmati proses perbaikan jalan. “Kalaupun ada proyek perbaikan yang nilainya tinggi maka akan diberikan kepada BUMN,” paparnya.

Mengenai jumlah alokasi dana yang dikeluarkan oleh pemerintah guna memperbaiki jalan yang rusak, menurut Darmaningtyas, pemerintah mengeluarkan Rp1,025 triliun pada 2012. Jumlah tersebut akan selalu meningkat setiap tahunnya tergantung dari seberapa banyak dan besar kerusakan jalan.

Ditempat terpisah, Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU) Djoko Kirmanto mengklaim kondisi jalan Pantura merupakan jalur paling berat dan terpadat di dunia. Setiap hari di jalur pantura rata-rata dilalui 40.000 kendaraan. “Dibandingkan dengan Negara China, jalur Pantura masih lebih berat bebannya. Setiap hari paling tidak ada 40.000 kendaraan yang lewat Pantura (Jawa), berarti jalur ini merupakan terpadat di dunia,” katanya

Djoko menuturkan jalur ini bukan hanya dilalui oleh jumlah kendaraan yang sangat padat, namun harus menanggung beban yang tinggi. Menurutnya tingkat keawetan jalan Pantura dan jalan di Indonesia sangat bergantung pada jumlah kendaraan dan beban yang melewati. “Kedua faktor tersebut yang membuat ruas jalan dan jembatan rusak sebelum waktunya,” tambahnya

Dikatakan Djoko, semua perbaikan jalan di seluruh Indonesia tak hanya dilakukan jelang Lebaran saja. Bahkan diibaratkan, jalan dan jembatan memiliki umur seperti halnya manusia, jika suatu saat umurnya sudah habis maka harus diperbaiki atau diganti. **bari