Rupiah Terus Tertekan Hampir Rp9.500/Dolar

NERACA

Jakarta-- Sentimen negatif regional juga menekan nilai mata uang rupiah. Walau demikian, rupiah kali ini belum menembus level Rp9.500 per US$. “Terus tertekananya rupiah, karena menipisnya kepercayaan pelaku pasar atas kondisi terkini di kawasan Eropa cenderung berimbas pada minimnya dana asing yang masuk ke pasar keuangan domestic,” kata Head of Research Treasury Division BNI Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta,24/7

Menurut Eti, rencana lelang sukuk dengan target Rp500 miliar diprediksi mampu meramaikan perdagangan obligasi pemerintah. Begitu juga kabar baik Bank Indonesia (BI) atas pembelian obligasi China untuk meningkatkan hubungan baik kedua negara di bidang perdagangan internasional mengurangi tekanan rupiah. “Meskipun kenaikan NDF rupiah di pasar offshore ikut memberi sentimen negatif atas rupiah,” tambahya.

Rupiah, menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) menguat ke Rp9.488 per USD pada Selasa (24/7/2012), menguat dari periode perdagangan sebelumnya Ro9.493. Menurut Bloomberg, rupiah berada di Rp9.477 per USD. Sementara menurut yahoofinance, rupiah berada di posisi Rp9.472 per USD. Di mana kisaran perdagangan harian berada di level Rp9.502,5-Rp9.493.

Pada selasa pagi, rupiah melanjutkan pelemahan menjadi Rp9.455 didorong dari meningkatnya risiko di Uni Eropa (UE). Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak melemah 10 poin menjadi Rp9.455 dibanding posisi sebelumnya Rp9.445 per dolar AS. "Sentimen pasar kembali terganggu dengan meningkatnya risiko di UE. Sehingga menekan mata uang berisiko termasuk rupiah terhadap dolar AS," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistiningsih di Jakarta, Selasa.

Lana menambahkan, Yunani kemungkinan gagal memenuhi kewajiban yang ditetapkan sebagai prasyarat untuk dana talangan senilai 240 miliar euro. Diantara kewajiban itu adalah menekan rasio utang Yunani menjadi 120 persen dari PDB (produk domestik bruto).

Menurut dia, jika komitmen ini tidak terpenuhi Yunani diperkirakan membutuhkan tambahan pinjaman sebesar 10 miliar euro hingga 50 miliar euro, yang kemungkinan tidak bisa diperoleh dari IMF maupun UE. "Kemungkinan Yunani akan 'default' atas utang jatuh tempo senilai 3,1 miliar euro Agustus mendatang," ujarnya

Saat yang sama, lanjut Lana, situasi ekonomi dan politik di Spanyol memburuk. Imbal hasil obligasi pemerintah Spanyol jangka waktu 10 tahun naik menuju 7,57%. "Cepat atau lambat Spanyol kemungkinan akan meminta dana talangan," katanya.

Sementara itu, dikatakan Lana, lembaga pemeringkat internasional Moodys memangkas outlook Jerman, Belanda dan Luxemburg dari stabil menjadi negatif.Meski demikian, ia mengatakan, pergerakan rupiah masih terjaga seiring intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) agar nilai tukar dalam negeri tidak tertekan lebih dalam seiring dominannya sentimen negatif di pasar. **cahyo

BERITA TERKAIT

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengakui jika fasilitas khusus untuk…

Di Pemerintahan Jokowi Kemiskinan Terus Berkurang

Di Pemerintahan Jokowi Kemiskinan Terus Berkurang NERACA Jakarta - Kepastian pemerataan akses dan kualitas layanan pendidikan, kesehatan, dan insentif kepada…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Asosiasi Dukung Penindakan Fintech Ilegal

      NERACA   Jakarta - Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mendukung penindakan hukum terhadap aksi perusahaan teknologi finansial (tekfin)…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Adira Insurance Berikan Penghargaan 23 Kota - Sistem Tata Kelola Keselamatan Jalan

      NERACA   Jakarta - Asuransi Adira menyelenggarakan Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai upaya untuk menyadarkan pentingnya…