84% Bisnis di Indonesia Tak Mampu Pulihkan Data

NERACA

EMC Corporation mendapAtkan hasil “Survei Pemulihan Bencana 2012: Asia Pasifik dan Jepang”, yang menemukan bahwa 84% perusahaan di Indonesia tidak terlalu yakin bahwa sistem atau data mereka dapat pulih sepenuhnya setelah mengalami bencana dan 64% organisasi indonesia telah kehilangan data atau mengalami downtime sistem dalam 12 bulan terakhir. Temuan ini menunjukkan kebutuhan akan transformasi backup (cadangan) dari teknologi lama yang sudah tidak sesuai untuk pertumbuhan data saat ini dan ekspektasi ketersediaan.

Pergeseran solusi backup dan recovery ke generasi selanjutnya memastikan kelangsungan operasional perusahaan pada saat terjadinya becana alam, kegiatan berbahaya ataupun gangguan rutin dan umum pada sistem TI perusahaan. Bahkan, riset ini menunjukkan bahwa seringkali penyebab downtime sistem adalah gangguan umum yang biasa terjadi pada TI, seperti kegagalan peranti keras atau korupsi data, bukan bencana alam atau insiden besar lainnya.

Diinisiasi oleh EMC dan dilaksanakan oleh perusahaan riset independen Vanson Bourne, “Survei Pemulihan Bencana 2012: Asia Pasifik dan Jepang” melihat keadaan backup dan disaster recovery di wilayah untuk memahami bagaimana kesiapan perusahaan terhadap kehilangan data dan downtime sistem.

menurut Shane Moore, Director APJ Backup and Recovery System, EMC bahwa Asia Pasifik dan Jepang tidak imun terhadap ketidakpastian ekonomi waktu berhadapan dengan negara lainnya di dunia. Berhadapan dengan latar belakang tersebut, penting bagi perusahaan untuk memastikan bahwa mereka terlindungi dari downtime sistem dan kehilangan data atau mereka akan menghadapi efek kerugian dari kehilangan produktivitas dan pendapatan.

"Dengan membangun backup dan recovery yang terencana dan pendekatan strategis yang memanfaatkan solusi generasi mendatang yang ada saat ini, perusahaan dapat menghadapi konsekuensi dari gangguan sehari-hari ataupun peristiwa yang lebih serius. Pada saat yang sama perusahaan juga dapat menurunkan total biaya kepemilikan sistem backup mereka," terangnya.

Temuan Survei:

Gangguan terjadi: downtime dan kehilangan data lebih sering disebabkan oleh masalah TI dibandingkan karena bencana alam. Riset menunjukkan bahwa bukan hal luar biasa yang memunculkan masalah, hanya dibutuhkan kesalahan kecil untuk menyebabkan berbagai gangguan, bahkan yang sesederhana korupsi data sekalipun. Tiga penyebab paling umum yang memicu kehilangan data dan downtime di Indonesia adalah:

1. Kegagalan peranti keras: 52% 2. Data korup: 47% 3. Kehilangan daya: 47%

Hal tersebut dibandingkan dengan hanya 17% responden yang menyatakan bahwa bencana alam merupakan penyebab terjadinya downtime sistem atau kehilangan data, dan 19% responden menyatakan sabotase oleh pekerja yang menyebakan downtime sistem atau hilangnya data. Terlepas dari penyebabnya, 75% organisasi di Indonesia mengkaji dan mengubah prosedur backup dan recovery mereka setelah terjadinya insiden.

Lebih jauh, 50% perusahaan Indonesia menambah pengeluaran mereka untuk backup dan recovery setelah terjadinya bencana. Hal ini bertentangan dengan 27% organisasi Indonesia yang disurvei tidak merasa bahwa mereka telah mengeluarkan anggaran yang cukup untuk backup dan recovery. Rata-rata, riset ini menemukan bahwa perusahaan di Indonesia membelanjakan 12,85% anggaran TI mereka untuk backup dan recovery.

Kegagalan sistem rata-rata menyebabkan hilangnya 3 hari kerja bagi perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam survei. Berdasarkan rata-rata delapan jam kerja per hari, hal ini setara dengan 48.000 jam kerja karyawan untuk perusahaan Indonesia yang mempekerjakan sekitar 2.000 karyawan. Selain itu, setiap organisasi kehilangan data rata-rata 102GB dalam kurun waktu 12 bulan. Jika 1MB data diperkirakan setara dengan 25 dokumen email, maka kehilangan data 102GB akan setara dengan kehilangan 2,55 juta email.

Perusahaan di Indonesia gagal memanfaatkan manfaat premi asuransi yang dapat disediakan oleh rencana pemulihan bencana yang komprehensif. Sebanyak 64% perusahaan di Indonesia diwajibkan oleh penyedia asuransi atau persyaratan peraturan untuk memiliki rencana pemulihan bencana.

Lebih penting lagi, 41% organisasi Indonesia yang disurvei ditawarkan potongan premi oleh penyedia asuransi mereka, berdasarkan kekuatan sistem backup TI mereka atau strategi pemulihan bencana. Namun, 36% organisasi Indonesia tidak mengetahui jika penyedia asuransi mereka menyediakan potongan premi, atau mereka tidak pernah mempertimbangkannya. Hal ini menunjukkan hilangnya kesempatan bagi banyak perusahaan.

Solusi yang sudah ketinggalan zaman: 20% masih mengandalkan pita dan 40% masih menggunakan CD Rom untuk backup dan recovery, namun mereka merencanakan perubahan.

Untuk tujuan backup dan recovery, 30% organisasi Indonesia masih bergantung pada pita. Melihat biaya operasional yang dikaitkan dengan pita, organisasi di wilayah Asia Pasifik dan Jepang rata-rata menghabiskan lebih dari USD 58.821 termasuk transportasi, penyimpanan, pengujian dan penggantian pita untuk kepentingan pemulihan bencana di luar (offsite).

Sementara itu, 40% perusahaan Indonesia bergantung pada CD-ROM yang ketinggalan zaman untuk penyimpanan backup. Lebih mengejutkan, 18% organisasi Indonesia memiliki karyawan yang membawa salinan backup mereka kerumah untuk disimpan.

Namun, 49% perusahaan di Indonesia sudah menggunakan solusi backup dan recovery modern berbasis disket. Tren ini diperkirakan akan meningkat, dengan 98% organisasi yang menggunakan pita mempertimbangkan untuk beralih dari pita.

Kesiapan untuk gangguan rutin atau kejadian yang lebih signifikan dimulai dengan pendekatan backup generasi selanjutnya yang memanfaatkan cakram dengan duplikasi data dan teknologi replikasi berbasis jaringan.

Survei menunjukkan reaksi setelah gangguan adalah mengeluarkan lebih untuk backup dan recovery, namun kerusakan telah terjadi dalam hal waktu dan uang selama masa downtime, juga kerusakan jangka panjang pada kesetiaan pelanggan. Dengan meningkatkan visibilitas masalah umum yang dihadapi perusahaan saat ini dan keterkaitan konsekuensi ekonomi, organisasi secara proaktif dapat meninjau strategi backup dan recovery mereka, untuk memastikan mereka memenuhi ketentuan bisnis yang ada.

Menurut Aakash Gandhi, Chief Technology Officer, Infoplex bahwa riset ini mengemukakan beberapa isu menarik seputar backup dan recovery, selain itu perusahaan perlu mengambil pendekatan proaktif untuk memastikan sistem mereka dapat tertangani dengan baik sebelum peristiwa terjadi.

Dari pengalaman kami, sepertinya terlihat jelas bahwa pendekatan berbasis cakram generasi selanjutnya untuk backup dan recovery adalah penempatan terbaik untuk membuat aplikasi bisnis penting aktif dan berjalan secepatnya, sehingga dampak ekonomi dari peristiwa ini terminimalisasi. Dengan perencanaan yang hati-hati dan memastikan, kami melakukan investasi yang tepat. Kami yakin bahwa kami telah siap menghadapi downtime sistem, apapun penyebabnya.

Related posts