OJK Harus Dorong Perbankan Syariah

NERACA

Jakarta—Pihak Otoritas Jasa keuangan (OJK) selaku pengawas industri keuangan baru harus berusaha meningkatkan aspek kehati-hatian dalam bisnis perbankan syariah, dengan tetap menjaga pertumbuhan industri keuangan tersebut. "Saat ini jumlah perbankan syariah hanya sekitar 20% sampai 30% dari total perbankan nasional, sehingga OJK harus terus berusaha mendorong kinerja perbankan syariah untuk bisa memajukan industri keuangan itu, dengan tetap menjaga aspek kehati-hatian," kata Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Agus Eko Nugroho di Jakarta, Selasa.

Lebih jauh Agus Eko menambahkan Indonesia menganut sistem "dual banking" yakni bank konvensional dan bank syariah, sehingga OJK harus memberikan porsi pengawasan yang sama rata terhadap kedua industri keuangan itu layaknya yang telah dilakukan Bank Indonesia selama ini. "OJK harus mendorong kinerja perbankan syariah, termasuk juga meningkatkan unit usaha syariah yang dimiliki bank konvensional," ujar dia.

Selain itu, dia juga minta OJK bisa menciptakan regulasi baru yang dapat mendorong perbankan syariah melakukan pembiayaan ke sektor-sektor produktif.

Seperti diketahui, Mahkamah Agung pada Jumat (20/7) melantik jajaran Dewan Komisioner OJK, yang terdiri dari Muliaman Darmansyah Hadad selaku ketua, Nurhaida selaku anggota, Firdaus Djaelani (anggota), Nelson Tampubolon (anggota), Rahmat Waluyanto (anggota), Ilya Avianti (anggota), Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono (anggota), Halim Alamsyah (anggota) dan Anny Ratnawati (anggota).

Pada 2014, pengawasan perbankan yang selama ini menjadi tanggung jawab Bank Indonesia, akan resmi pindah ke OJK.

Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia Yuslam Fauzi mengharapkan pengembangan perbankan yang selama ini telah dilakukan Bank Indonesia bisa tetap dilakukan oleh OJK nantinya.

"Jangan sampai pengembangan tersebut dilepaskan begitu saja," kata Yuslam di Jakarta,24/7

Dia mengatakan optimistis OJK dapat memahami pengawasan yang selama ini dilakukan oleh Bank Indonesia sebab lembaga pengawas tersebut memiliki "ex-officio" yang nantinya juga akan berkoordinasi secara intensif dengan BI.

Terkait pro dan kontra soal posisi wamenkeu dalam ex officio, Ekonom Center Indonesia for Development and Studies (Cides) Umar Juoro mengatakan, sebetulnya jika dilihat secara fungsi, peran Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati sebagai Anggota Ex-Officio dari Kementerian Keuangan adalah untuk menjembatani antara pemerintah dan OJK. "Ya secara peran, mungkin minim," tuturnya.

Menurut Umar, poin krusial dari terpilihnya para Dewan Komisioner OJK adalah indepedensi dari institusi pengawasan keuangan itu sendiri. Hal itu dikarenakan, mayoritas orang yang terplih di OJK berasal dari BI dan Kementrian Keuangan. "Kondisi tersebut terkesan membuat OJK independensinya kurang dan apalagi nantinya sifat keputusannya bersifat kolegial," tukasnya. **cahyo

.

BERITA TERKAIT

Pengawasan Perbankan dan Harga Minyak

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, naiknya…

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

Peluang Bisnis Ritel Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Bisnis ritel di Indonesia—dalam beberapa tahun  akhir  ini mengalami kelesuan yang luar  biasa,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Profitabilitas Bank Tahun Depan Diprediksi Sulit Meningkat

      NERACA   Jakarta - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke…

BTN Telah Kucurkan KPR Rp230,2 triliun

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-41 Kredit Pemilikan Rumah…

Kebijakan Suku Bunga Bakal Dipengaruhi Dolar

    NERACA   Jakarta - Kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika…