Tips Sehat Berwisata kuliner pada Bulan Ramadan

Sabtu, 28/07/2012

NERACA

Wisata kuliner memang suatu kegiatan rutin yang selalu ditunggu-tunggu para penghobi yang doyan mencicipi kuliner atau jajanan-jajanan.

Wisata kuliner memang menghadirkan kesenangan dan kepuasan tersendiri kepada penghobinya, bukan hanya mencicipi berbagai makanan yang beraneka ragam, berwisata kuliner juga dapat menambah pengetahuan dan kultur juga budaya-budaya dari kuliner yang kita santap.

Namun berbeda saat bulan Ramadan, berwisata kuliner hanya bisa dilakukan pada malam hari saja, nah padahal sebenarnya makan banyak saat malam hari sebenarnya dianggap perilaku yang kurang baik.

Biasanya akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk berwisata kuliner bersama keluarga atau teman-teman. Selain karena biasanya pada akhir pekan sebagian orang libur untuk bekerja, pada umumnya para penghobi wisata kuliner ini memilih akhir pekan karena pada hari-hari ini biasanya pedagang atau penjual jajanan kuliner semakin banyak pilihannya.

Jadi tidak perlu bingung mencari tempat untuk berwisata kuliner. Namun pada bulan Ramadan, penjaja kuliner semakin banyak dan semakin beraneka ragam jenis kulinernya.

Jajanan kuliner yang beraneka ragam memang terkadang membuat para wisatawan kuliner ini lupa diri, lupa dengan segala penyakit yang dimilikinya yang terkadang memiliki pantangan makanan yang tidak boleh dimakan.

Namun terkadang kita lupa dengan kesehatan kita karena terlalu nikmatnya bersantap kuliner, alhasil segala penyakit pun timbul setelah menikmati wisata kuliner.

Waktu yang seharusnya menjadi waktu untuk bersenang-senang malahan menjadi waktu malapetaka yang tidak diharapkan, jadi sebaiknya kita memperhatikan beberapa tips sebelum berwisata kuliner pada bulan Ramadan.

Kebersihan

Kebersihan tempat dan kebersihan penjual adalah point penting. Misalnya meja makan dan sekitarnya tidak dikerumuni lalat. Penjualnya berpakaian rapi dan tampak bersih. Paling tidak hal ini sudah menjadi jaminan awal bahwa pengolahannya juga lumayan lebih bersih.

Ketersediaan air juga perlu dilirik. Batalkan rencana wisata kuliner anda jika di situ hanya ada seember kecil air untuk cuci piring dan gelas.

Pilihan hidangan

Sebisa mungkin carilah menu dengan sajian yang masih panas maupun baru dimasak, misalnya nasi goreng, soto panas, sate bakar, bubur panas, ikan bakar dan ikan goreng, cah sayuran segar yang baru ditumis. Penyajian dalam kondisi panas minimal akan mengurangi risiko ada kuman - kuman.

Hindari makanan yang tampaknya sudah dihangatkan berkali-kali. Kecuali kuliner sejenis es tidak mungkin panas, hati – hati juga jangan sampai meminum es teh dengan es batu yang balok, berpotensi mengandung kuman lho.

Kita tidak tahu air yang dipakai untuk membuat es diambil dari mana. Saran lebih baik minum air mineral saja.

Kekhasan bumbu

Mengukur kemampuan lambung dan diet khusus untuk yang mempunyai riwayat penyakit tertentu sebelum menikmati sajian atau menu baru. Menikmati asal tidak berlebihan dan mengukur batas kemampuan tubuh mencerna makanan tetap penting. Misalnya ada riwayat sakit mag hindari yang pedas dan asam, Diabetes kurangi sajian kuliner yang terlalu manis. Punya sakit hipertensi ya kurangi makanan yang asin.

Setiap daerah ada kekhasan bumbu yang dominan yang perlu diperhatikan, misalnya masakan Jawa tengah cenderung manis, masakan Padang cenderung pedas asin, masakan Maluku dan Indonesia timur cenderung beraroma rempah.

Kandungan Gizi

Nah ini penting. Dalam perjalanan wisata kadang kondisi tubuh kita agak drop. Jika ada referensi wisata kuliner yang cukup bersih dan bergizi itu jadi tujuan utama. Misalnya menu spesial susu madu jahe panas, cah daun ginseng, menu andalan sup ikan Tuna, menu sup brokoli, jus kesehatan segar, soto ayam kampung dan sebagainya.

Makanan yang dikukus atau direbus akan lebih sehat daripada gorengan. Hindari junk food dan makanan yang digoreng tapi dengan tampilan minyak goreng di wajan yang sudah menghitam. Segera balik kanan, telan ludah dan tinggalkan saja. Walaupun promosinya menggiurkan tapi pengolahannya berpotensi pencetus kanker dan kolesterol.

Pengunjung atau pembeli

Jumlah pengunjung atau pembeli ini bisa dijadikan salah satu jaminan bahwa masakan selalu baru dan cepat habis. Kadang rumah makan yang sepi pengunjung terpaksa menghangatkan sisa makanan dan dijual kembali.

Jika yang dihangatkan berkali - kali masakan bersantan bisa menumpuk kolesterol dalam tubuh. Belum lagi jika ada makanan berjamur dan bau, lebih baik relakan saja uangnya dan pindah tempat cari menu yang baru. Selamat berwisata kuliner semoga bermanfaat.