Mendorong Apresiasi Musik Indonesia

Direktur Keuangan PT Warner Music Indonesia: Rachmad Husnianto

Sabtu, 28/07/2012

NERACA

Industri musik di Tanah Air, babak belur? Yup dan inilah yang terjadi. Selain persoalan pembajakan yang tak berujung solusi, penurunan pemasukan dari Ring Back Tone (RBT) menjadi pukulan hebat industri musik Indonesia. Demikian ungkap Rachmad Husnianto, Direktur Keuangan PT Warner Music Indonesia. “Kita harus survive dengan mencari terobosan baru,” ujarnya.

Ditemui Neraca, Rachmad akrab ia disapa menuturkan wajah industri musik Indonesia yang mulai terjun bebas. Sejak awal 2011, ujarnya, tren pemasukan dari penjualan fisik (kaset, CD, dan DVD) memang cenderung terus menurun.

“Bahkan pendapatan dari RBT yang sebelumnya mencapai 90% hanya tersisa 10-20% pemasukan,” tegas pria kelahiran Kota Malang, 1 November 1969 silam ini.

Penjualan fisik, jelas lulusan Universitas Brawijaya jurusan Akutansi tahun 1993 ini, memang terus cenderung menurun dibandingkan dengan penjualan digital.

“Hampir diseluruh belahan dunia, penjualan secara fisik sudah mulai meredup,” ungkap suami dari perempuan cantik berdarah Kota Surabaya, Ayu K. Niartu, yang telah memiliki 3 orang putra tercinta; Nabila, Elvira, dan Razzan.

“Saat ini, penjualan fisik lebih pada tujuan marketing tools,” ujarnya. Sedangkan penjualan digital, lanjut Rachmad, masih diharapkan mampu menjadi front liner dalam bisnis musik. “Kami sangat berharap dalam penjualan digital, di tengah maraknya pembajakan yang kasat di depan mata,” ungkapnya.

Menurut Rachmad, kondisi tersebut tidak terlepas dari buntut kasus sedot pulsa yang berujung pada penghentian RBT selama beberapa bulan, yang konon membuat pendapatan perusahaan rekaman musik di Tanah Air mengalami terjun bebas.

Pemilik label, artis, produser, dan banyak pihak terkait harus mengelus dada. Ia menilai, kondisi kian diperparah dengan kurangnya apresiasi baik pemerintah dan masyarakat terhadap industri musik di Indonesia dinilai masih sangat rendah.

“Apresiasi pemerintah terhadap musik Indonesia masih rendah,” ungkap sosok yang juga aktif dalam WPP Group, sebuah perusahaan multinational advertising asal Inggris ini.

Ia mencontohkan, bila pembajakan dapat ditekan hingga 50% saja, rasanya industri musik sudah sangat terbantu. “Kami ingin pemerintah serius memberantas pembajakan keping kaset CD dan DVD dengan serius, dan masyarakat pun dapat memiliki kesadaran untuk tidak membeli kaset bajakan,” ungkapnya berharap.

Menurut dia, untuk menghasilkan sebuah karya musik tidak mudah dan murah. “Banyak pihak yangterlibat untuk menghasilkan sebuah karya musik, baik produser, komposer, artis, musisi, dan pihak lainnya,” jelasnya, dan mereka harus terpukul dengan pembajakan yang tidak menentu pemberantasannya.

Dia berharap, dengan infrastruktur yang semakin baik di Indonesia, maka bisnis musik yang kini mengandalkan RBT akan mulai bergeser melalui full track download, yaitu penjualan sebuah single album (atau bahkan lebih) melalui jaringan internet, baik komputer maupun ponsel.

Sistem full track download sebenarnya sudah menjadi tren di banyak negera, seperti Singapura, Hongkong, atau Korea.

“Namun untuk memasuki era digital dalam bisnis musik, dukungan infrastruktur dalam akses internet harus lebih baik dan lebih cepat,” ujarnya.

Dia memandang perbaikan infrastruktur ini menjadi perhatian pemerintah dan provider untuk meningkatkan layanan yang dapat mendukung banyak sektor bisnis di Indonesia, termasuk industri musik.

Rachmad memandang, masih banyak konten musik yang belum digarap di Indonesia.

“Negara kita sangat besar, bukan hanya karena wilayahnya tapi juga budaya dan keseniannya,” ujarnya, maka dapat dibayangkan besarnya potensi musik daerah bila digarap dengan baik. Mulai dari alat musik, penyanyi, lagu, dan lainnya.

“Kita punya potensi yang luar biasa, namun belum mendapat perhatian apresiasi yang serius layaknya sebuah industri,” ungkapnya.

Menurut dia, bangsa Indonesia patut berbangga karena tidak sedikit karya anak bangsa yang diterima di luar negeri, bahkan menjadi idola di banyak negara tetangga,“Ini tantangan bagi kalangan pebisnis musik. Untuk dapat terus berkiprah dengan karya-karya yang terbaik,” ungkapnya berharap.