BRICS Akan Tambah Anggota Baru - Dua Tahun Lagi

NERACA

Jakarta –Prediksi Indonesia akan masuk dalam tunggu kelompok BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan) hanya tinggal 2 tahun lagi. Alasanya ekonomi Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. “Indonesia menggantikan India mungkin tidak tetapi mendekati mungkin iya menjadi BRICS country," kata Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan di Jakarta (23/07).

Adalah Goldman Sachs, pada tahun 2050 menyebut gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini. BRICS tersebut merupakan lima negara yang pertumbuhan ekonominya pesat. "Batasannya untuk masuk kesana adalah nominal GDP sudah diatas US$ 1 triliun. Tahun ini nominal GDP Indonesia sudah mencapai US$ 940 miliar. Maka dalam waktu 2 tahun kemudian sangat mungkin Indonesia masuk kesana," ujar Fauzi lagi.

Lebih jauh kata Fauzi, pertumbuhan ekonomi India memang masih tinggi. Tahun ini tercatat pertumbuhan ekonomi India adalah 6,2% masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi global, memang ada kekhawatiran peringkat resiko India diturunkan tetapi tidak menyurutkan minat investasi di India.

Dikatakan Fauzi, India adalah salah satu negara dengan pasar domestik terbesar di dunia dengan penduduk lebih dari 1,2 miliar orang. "Pertumbuhan ekonomi kita pesat, neraca ekonomi juga kita sehat, ini menjadi suatu term yang sudah diterima dengan baik oleh pasar, kita akan kesana dalam 2 tahun kedepan," imbuhnya

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Lin Che Wei juga sempat meramalkan kelompok negara yang tergabung dalam CIVETS tengah menunggu masuk ke dalam kelompok negara dengan pertumbuhan yang tinggi, yakni BRIC (Brazil, Rusia, India dan China). Sejauh ini anggota kelima dari kelompok negara bentukan Goldman Sachs ini disebut-sebut adalah Indonesia. "Apabila saat ini berbicara emerging markets, banyak orang mengatakan BRIC kelima itu seharusnya Indonesia. Tetapi, saat seminar BRIC beberapa waktu lalu diperkirakan South Africa yang masuk," ungkapnya

Saat ini, kata Che Wei, negara-negara yang tergabung di dalam kelompok CIVETS masuk ke dalam daftar tunggu anggota BRIC selanjutnya. "CIVETS itu terdiri dari, Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa. Jadi sekarang kita sedang menunggu the next BRIC," ucapnya.

Menurut Che Wei, sejauh ini masing-masing negara di CIVETS memiliki tiga karakteristik yang serupa, yakni pertumbuhan ekonominya yang kuat dan jumlah penduduk berusia muda yang besar. "Cuma saja, mereka juga memiliki karakter yang sama sebagai negara yang tingkat korupsinya tinggi," ujarnya.

Jika melihat dari sisi perbankan di dalam negeri, kata Che Wei, posisi Indonesia saat ini sangat menguntungkan dan kondisi perekonomian secara umum juga berada dalam situasi yang menarik. "Kami melakukan riset, ternyata bank di Indonesia merupakan salah satu industri perbankan dunia yang pertumbuhan ROE-nya paling tinggi dan growth-nya juga paling tinggi," kata pendiri lembaga riset Independent Research and Advisory Indonesia (IRAI) itu.

Namun demikian, kata Che Wei, industri perbankan dalam negeri terbilang masih kekurangan pemain yang diakibatkan trauma krisis 1998, sehingga tidak ada pihak swasta domestik yang serius menggarap industri ini. "Padahal di ASEAN, bank di Indonesia yang paling menguntungkan, jika dibandingkan dengan Malaysia atau Thailand. Banyak investor asing yang melirik bank di Indonesia, karena tingkat pengembalian modal yang cukup tinggi," paparnya.

BERITA TERKAIT

KPU Kota Sukabumi Lantik Anggota PAW PPK dan PPS

KPU Kota Sukabumi Lantik Anggota PAW PPK dan PPS NERACA Sukabumi - Ketua KPU Kota Sukabumi Hamzah melantik dua Panitia…

Dafam Properti Bakal Tambah Lima Hotel Baru - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Meskipun ada kekhawatiran pasar properti tahun ini masih melandai, namun hal tersebut tidak mengurungkan PT Dafam Property…

Banten Kaji Dua Lokasi Pembangunan Pasar Induk

Banten Kaji Dua Lokasi Pembangunan Pasar Induk NERACA Serang - Pemerintah Provinsi Banten sedang mengkaji salah satu dari dua lokasi…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Kemampuan Moneter Calon Gubernur BI Harus Teruji

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati,…

Mendes Sebut Penyerapan Dana Desa Terus Meningkat

    NERACA   Semarang - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo menyebutkan penyerapan dana…