Indonesia Dinilai Masih Terhambat Infrastruktur

Jelang MEA 2015

Selasa, 24/07/2012

NERACA

Jakarta--- Indonesia dinilai masih terhambat oleh masalah infrastruktur menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Padahal industri "Kami dari pengusaha logistik siap saja. Namun, infrastruktur logistiknya yang harus diperkuat," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Anwar Sata di Jakarta, Senin (23/7).

Menurut Anwar, bidang logistik harus menjadi yang pertama dibenahi dalam menyambut MEA 2015 agar industri di Indonesia menjadi lebih efisien dan memiliki daya saing yang besar di antara barang-barang asal ASEAN non-Indonesia.

Anwar menambahkan pada tahun 2012, arus kontainer yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok sudah sekitar enam juta teus atau kontainer, sedangkan dalam rangka MEA 2015 ALFI memperkirakan jumlahnya akan bertambah menjadi sekitar 9--10 juta teus.

Jika tidak segera dibangun, menurut Anwar, arus barang, baik keluar maupun masuk, di Indonesia akan tersendat dan merugikan industri serta konsumen. "Itu butuh komitmen, bukan hanya dari Kemenperin saja, melainkan juga dari sisi pelaku usaha maupun seluruh kementerian terkait di bawah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian," jelasnya

Selain sejumlah kementerian, lanjut Anwar, pemerintah daerah juga diharap ALFI dapat turut menyesuaikan peraturan yang berkaitan dengan pengembangan industri di Indonesia melalui pembangunan infrastruktur logistik di daerah. "Itu karena pemda juga membuat peraturan sendiri dan peraturan itu juga harus mendukung suksesnya sistem logistik Indonesia," terangnya

Menurut Anwar, pelabuhan yang dipersiapkan untuk MEA 2015 dan integrasi logistik ASEAN pada tahun 2013 baru Pelabuhan Tanjung Priok saja. Selain perlengkapan dan infrastruktur di pelabuhan, Anwar menilai sistem pelayanan juga harus ditingkatkan, baik dari pengelola pelabuhan, sistem bongkar muat, maupun pelayanan Bea dan Cukai. "Hal demikian yang harus dibenahi. Jika Pelabuhan Tanjung Priok belum siap 100%, apalagi pelabuhan lain. Jadi, itu yang kami dorong dengan barometer adalah pelabuhan di Jakarta dahulu," tukasnya

Dikatakan Anwar, beberapa pelabuhan di ASEAN yang di antaranya telah dibangun oleh sejumlah negara terdiri atas Port Klang di Malaysia, Tanjung Pelepas di Singapura, serta pelabuhan di Thailand.

Selain itu, Anwar menjelaskan integrasi logistik ASEAN pada 2013 tidak akan memengaruhi usaha logistik di Indonesia dan negara mana pun di ASEAN.

Yang jelas, kata Anwar, persaingan tetap akan ada. Namun, ada patokan yang dianut asosiasi logistik di ASEAN yang sama dengan asosiasi logistik di Indonesia dimana keduanya saling mengirim barang ke Indonesia dan pengusaha logistik Indonesia ke luar negeri. "Itu tidak ada masalah, apalagi kalau 'ASEAN single window' yang semua dokumennya sama. Kalau terjadi 'ASEAN single window', berarti semua dokumen ekspor impor di ASEAN akan sama," imbuhnya.

Oleh karena itu, Anwar mendesak untuk dipercepatnya pembangunan sejumlah pelabuhan baru, baik di Tanjung Priok untuk koridor tengah, Pelabuhan Kuala Tanjung, Kuala Namu di koridor barat, Pelabuhan di Makassar, maupun Manado untuk koridor timur Indonesia.

Hingga saat ini, sambung Anwar, jumlah kontainer yang sanggup dimuat di Pelabuhan Tanjung Priok sekitar enam juta teus atau kontainer, sedangkan 60--70 persen pergerakan arus barang terjadi di wilayah tersebut.

Pemerintah sebelumnya juga berencana melakukan "ground breaking" Pelabuhan North Kalibaru, Tanjung Priok untuk menambah infrastruktur pelabuhan pada bulan Juli 2012 yang hingga saat ini belum dapat terealisasi. **cahyo/iwan