Anggaran Gedung DPD Rp7,5 M Setiap Anggota - Marwan Kritik Laode Ida

Marwan Kritik Laode Ida

Anggaran Gedung DPD Rp7,5 M Setiap Anggota

Jakarta,

Pembangunan gedung baru DPR yang menelan dana sekitar Rp1,13 triliun, justru nilainya menjadi lebih dibanding dengan pembangunan gedung DPD di daerah yang nilainya mencapai Rp30 miliar setiap propinsi. “Gedung baru DPR untuk 550 anggota, dimana setiap ruanganya cuma bernilai Rp800 juta. Coba bandingkan dengan gedung DPD di daerah, artinya setiap anggota DPD mendapat Rp7,5 miliar,” kata Ketua F-PKB, Marwan Jakfar kepada wartawan di Jakarta,(6/4).

Menurut Marwan, justru pembangunan gedung DPD di daerah lebih tidak rasional lagi. Namun politisi muda PKB ini menegaskan dirinya bukan pihak yang ikut mendukung ataupun menolak pembangunan gedung baru DPR. “Saya bukan mendukung atau menolak pembangunan gedung, tapi ada yang lebih tidak rasional seperti pembangunan gedung DPD itu,” tambahnya.

Lebih jauh Marwan mengkritik Ketua DPD Laode Ida yang menyebutkan DPR tidak menjalankan fungsinya dengan benar. Justru lembaga yang dipimpin Laode lah yang lebih tidak kredibel. Karena sampai saat ini kinerjanya tidak terukur sama sekali. “Tapi apa Laode bicara dan menjelaskan itu pada masyarkat? Belum lagi kalau bicara kinerja DPD, apa yang telah mereka hasilkan?,” jelasnya

Yang jelas, mantan Wakil Ketua Komisi V DPR ini mengaku kecewa dengan sikap La Ode Ida. Karena La Ode dinilai tak konsisten menyoroti masalah pembangunan gedung DPD di daerah. “Laode itu tidak konsisten. Gedung baru DPR dia tentang, tapi dirinya menyetujui pembangunan gedung DPD diseluruh daerah yang menelan dana Rp30 miliar untuk satu provinsi di 33 provinsi,” paparnya.

Dikatakan Marwan, La Ode tak pernah mengeluarkan statemen yang menentang pembangunan gedung DPD. “Dan pembangunan gedung DPD itu juga sudah berjalan kok. Dia hanya bisa mencari-cari kesalahan orang lain tapi kesalahan dirinya sama sekali tidak bisa melihatnya,” tantanganya.

Marwan menambahkan sikap Laode selama ini lebih banyak menggambarkan seorang pengamat dan bukan pimpinan lembaga tinggi negara. “Dia jelas egois karena hanya memikirkan diri sendiri dan sama sekali tidak memikirkan lembaganya,”tuturnya.

Seharusnya, kata Marwan lagi, seorang pimpinan DPD lebih fokus memikirkan lembaganya. Misalnya saja DPD lebih aktif mendekati DPR dalam lobi-lobi, termasuk pemerintah agar DPD bisa mendapatkan kewenangan yang lebih besar. “Dengan caranya seperti ini tidak mungkin DPR dan pemerintah mau memberikan apa yang diperlukan lembaga DPD,” jelasnya.

Untuk itu Marwan menyarankan sebaaiknya La Ode fokus mengurus lembaganya. Sehingga berjalan di jalur yang benar dan jangan hanya mencari pencitraan diri.”Jangan banyak wacanalah,”ucapnya.

Selama ini, lanjut Marwan, masyarakat sudah mengetahui perilaku dan tindak tanduk senator asal Sulawesi tersebut yang dinilainya berorientasi pada kekuasaan semata. “Orang juga tahu kok bahwa dia hanya haus kekuasaan, merapat sana sini, tapi ujungnya minta dukungan. Masyarakat juga tahu bagaimana DPD, memangnya DPD bersih? Orientasi Laode jelas kekuasaan,” tegasnya.

Ditanyakan alasan pernyataannya apakah karena Laode bergabung dengan musuh-musuh PKB seperti Lily Wahid dan Effendy Choirie, Marwan pun sambil tertawa membatahnya. “Tidak lah, saya hanya melihat fakta saja. Memang Laode orientasinya hanya kekuasaan kok. Masyarakat juga tahu,” tandasnya. **cahyo

Related posts