Bea Keluar Jadi Biang Keladi Penurunan Ekspor Kakao

Selasa, 24/07/2012

NERACA

Jakarta – Kinerja ekspor biji kakao kian memprihatinkan. Pasalnya ekspor biji kakao terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan pada semester I-2012, realisasi ekspor kakao hanya mencapai 66.120 ton, turun 44,2% dibanding semester I-2011 yang sebanyak 118.447 ton. Penyerapan di dalam negeri yang terus berkembang dan penerapan bea keluar (BK) kakao menjadi salah satu alasan penurunan ekspor ini.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Firman Bakrie, mengungkapkan, dengan menurunnya realisasi ekspor semester I-2012 maka diperkirakan tahun ini ekspor biji kakao hanya 150.000 ton-200.000 ton. "Lebih rendah dibanding 2011," kata Firman di Jakarta, Senin (23/7).

Data Askindo menunjukkan, realisasi ekspor biji kakao tahun lalu mencapai 210.000 ton dengan total produksi 450.000 ton. Sedangkan tahun ini dengan proyeksi ekspor 150.000 ton-200.000 ton, produksi kakao nasional diperkirakan meningkat 11% menjadi 500.000 ton.

Menurut Firman, masuknya investor baru di industri pengolahan kakao dan ekspansi perusahaan pengolahan kakao telah membuat penyerapan biji kakao di dalam negeri meningkat. Jika pada 2009 lalu kapasitas produksi kakao olahan dalam negeri hanya 130.000 ton, bertambah menjadi 280.000 ton pada 2011. Jumlah itu akan meningkat menjadi 400.000 ton pada 2014 jika rencana ekspansi sejumlah perusahaan terwujud.

Pabrik Bertambah

Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) mengatakan, banyak investor asing tertarik mengembangkan usaha pengolahan biji kakao di Indonesia. Selain perusahaan asing, tiga perusahaan kakao lokal juga akan meningkatkan produksi. "Cargill rencananya akan membangun di Makassar," katanya.

Selain Cargill dari Amerika Serikat dan JB Cocoa dari Malaysia, ada investor lain yang ingin masuk ke pengolahan kakao. Mereka adalah Archer Daniels Midland Cocoa (ADM Cocoa) asal Singapura. Bahkan pabrik pengolahan kakao asal Malaysia, Guan Chong Bhd, akan meningkatkan kapasitas pengolahan dari 65.000 ton menjadi 72.000 ton per tahun pada tahun ini.

Selain itu beberapa perusahaan pengolahan kakao lokal juga akan beroperasi kembali. Mereka adalah PT Effem Indonesia di Makassar berkapasitas 17.000 ton per tahun, PT Jaya Makmur Hasta di Tangerang dengan kapasitas 15.000 ton per tahun, dan PT Unicom Kakao Makmur Sulawesi di Makassar berkapasitas 10.000 ton per tahun.

Juga ada PT Davomas Abadi di Tangerang dengan kapasitas 140.000 ton per tahun dan PT Maju Bersama Cocoa Industries di Makassar dengan kapasitas 20.000 ton per tahun. Pabrik-pabrik itu akan beroperasi kembali setelah mati suri karena kekurangan bahan baku.

PT Comextra Majora juga berniat menjalin joint venture dengan perusahaan pengolahan kakao Swiss, Barry Callebout, senilai US$ 35 juta untuk membangun pabrik pengolahan kakao. Target operasinya pada Februari 2013, dan berdiri di Makassar, Sulawesi Selatan. "Pembangunan kita rencanakan selesai dalan waktu enam bulan," kata Jimmy Wisan, Presiden Direktur Comextra Majora.

Dengan investasi US$ 35 juta pada tahap awal, sebanyak 40% berasal dari Comextra Majora dan 60% dari Barry Callebout. Dana itu diperlukan untuk membangun empat lini pengolahan kakao dengan kebutuhan tiap lini 35 juta ton biji kakao per tahun. "Dua lini akan dibangun dulu, pembangunan selanjutnya tergantung suplai bahan baku dan konsistensi kebijakan pemerintah," katanya.

Tahap awal, pabrik ini menghasilkan cocoa powder dan cocoa butter. Ke depan akan ditingkatkan ke produk hilir yaitu cokelat.