Industri Kue Kering Meningkat Tajam

Sepanjang Ramadhan

Selasa, 24/07/2012

NERACA

Jakarta -Industri kue kering selama bulan Ramadhan ini semakin menunjukan tajinya. Pasalnya pemesanan kue kering ini bisa meningkat tajam di bulan ini. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengungkapkan, industri pembuatan kue kering di beberapa daerah sudah menunjukan peningkatan.

“Di Jawa Timur sudah naik sebesar 40% dan di Jawa Tengah naik 30%, sehingga rata -rata kenaikan bisa mencapai 50%. Namun yang menjadi kendala adalah, masih tingginya harga beberapa bahan dasar untuk membuat kue kering ini,” kata dia saat dihubungi Neraca, Senin (23/7).

Lebih jauh lagi Euis mengungkapkan, kue kering yang saat ini digemari masyarakat pada umumnya sangat beragam dan banyak sekali, antara kain Castengel, Nastar, Putih Salju, Choconut, Outmeal, Kelapa, Kacang Love, Lidah Kucing, Chococrunh.

Sementara itu, Ny Eko Marnuariani pemilik industri kue kering Lumintu di Baluwarti RT 01 RW XI Baluwarti Solo mengungkapkan, pesanan kue kering mulai ramai sejak Juni 2012 hingga bulan Ramadhan ini mencapai ribuan 3.000-4.000 toples atau paket.

Menurut dia, jumlah pesanan bulan Ramadhan ini akan terus meningkat hingga Lebaran. Pemesan pada hari biasa paling hanya sekitar 200 hingga 500 toples, dan Ramadhan ini sudah mencapi 4.000 toples. Harga kue kering produksinya, kata dia, juga bervariasi yang paling murah dijual Rp9.000,00 per toples dan paling mahal sekitar Rp38 ribu per toples.

Pesanan kue kering produksinya, kata dia, datang dari Jakarta, Semarang, Bandung, Solo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, Boyolali, dan Sragen. "Kami memang sampai menolak pesanan karena kami khawatir tidak mampu memenuhi permintaan mereka," katanya.

Dia mengatakan, tingginya pesanan kue kering pada bulan Ramadhan ini, omzetnya meningkat berkisar Rp60 juta hingga Rp70 juta. Padahal, omzet sebelumnya paling Rp2 juta hingga Rp4 juta per bulannya.

Muhammad Ubaidi salah satu pengrajin kue kering Kumintu, mengatakana, produksinya mampu sebanyak 50 kilogram dengan dibantu enam karyawannya.Proses pembuatan kue kering cukup memerlukan waktu sekitra dua hingga tiga jam yakni diawali mengadukan bahan baku gula, telur, dan margarine dengan alat mixer.

Setelah adunan tersebut tercampur rata kemudian dimasukan bahan tepung terigu atau sagun. Setelah itu, dicetak sesuai selera kemudian dimasukan alat pemasak open atau pengeringan. "Kue kering yang sudah jadi tingga dikemas dengan toples sesuai ukuran yakni mawar (kecil), Comelius (sedang), dan diamond (besar). Setelah itu, dikemas dengan dos atau tas sesuai pemesan," katanya.

Menurut dia, pihaknya kewalahan melayani para pesanan kue kering produksinya ketika menjelang bulan puasa hingga Lebaran. Sehingga,tenaga kerja pada hari biasa hany tiga orang kini menambah menjadi enama orang. "Industri rumah tangga kue kering di Baluwarti ini, hanya mampu menghabiskan sekitar 100 kg bahan baku tepung terigu per hari," jelasnya.

Target Penjualan

Di tempat berbeda, Manager Pemasaran PT Bonli Cipta Sejahtera Lucky D. Aria menargetkan dapat menjual hingga 40.000 lusin toples kue kering pada periode Ramadan hingga Idul Fitri tahun ini. Lucky menyatakan angka tersebut dapat dicapai melalui penjualan kue dari 3 merek yaitu Ina Cookies, J&C Cookies dan La Difa Cookies. “Masing-masing merek menunjukkan peningkatan penjualan yang lebih baik dari hari biasa,” katanya.

Menurutnya, pada periode Ramadan-Idulfitri, peningkatan penjualan masing-masing merek dapat mencapai 20 kali lipat dari hari biasa. Sedangkan peningkatan penjualan secara keseluruhan dari tahun ke tahun mencapai 20%. Kue-kue kering yang dihasilkan ketiga merek tersebut hampir sama. Perbedaan hanya pada modifikasi resepnya saja. Ina Cookies misalnya, memiliki kue-kue best seller yaitu skippy mede coklat, nastar keju, kaastengel, cheese kress, choco mede, sagu keju, almond green tea, almond cheese coklat, putri salju dan putri salju keju.