Beban Subsidi Terus Bengkak, Naikkan Saja BBM - angan Terlalu Lama Dibiarkan

Jangan Terlalu Lama Dibiarkan

Beban Subsidi Terus Bengkak, Naikkan Saja BBM

Jakarta---Harga minyak dunia yang tak mau turun telah menyebabkan APBN makin tertekan. Karena beban subsidi yang makin tinggi. Oleh karena itu untuk mengurangi beban anggaran subsidi, maka pemerintah harus menaikkan harga BBM subsidi Rp 1.000 per liter dari saat ini Rp 4.500 per liter.

"Semakin lama dibiarkan, maka biaya anggaran subsidi yang harus ditanggung terus naik. Jadi harus secepatnya dinaikkan. Naikan saja Rp 1.000," kata Ekonom FEUI Muhammad Chatib Basri kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/4)

Mantan Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI ini mengungkapkan semakin lama pemerintah menunda kenaikan harga BBM maka alokasi dana yang lebih penting akan tergerus, seperti subsidi pendidikan dan subsidi untuk orang miskin. "Dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran US$ 120 (per barel) maka beban subsidi Rp 200 triliun. Ini 20% dari anggaran,” tambahnya.

Belum lagi, kata Chatib Basri, subsidi untuk dana pengentasan kemiskinan. Padahal dana subsidi tersebut tak boleh dipotong. “Bagaimana subsidi untuk orang miskin, PNPM dipotong?," terangnya.

Lebih jauh kata Chatib, pemerintah diminta tak panic dan khawatir timbulnya gejolak social di masyarakat. Alasanya saat kenaikan BBM subsidi 120% di 2005, pemerintah SBY tetap bertahan, dan bahkan kembali terpilih. "Harga naik, akan memacu inflasi juga ikut tinggi. Dengan goverment bond paling tinggi, maka harganya akan turun. Dan sebelum itu terjadi asing akan keluar," tuturnya.

Justru dengan semakin lambannya pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM subsidi, maka masyarakat bertindak spekulatif dengan menimbun BBM dan pasokan terganggu. "Inflation hangover, yang terjadi di beberapa daerah di pulau Jawa," paparnya.

Sebelumnya, mantan Wapres Jusuf Kalla juga ikut menyarankan sebaiknya pemerintah memutuskan saja kenaikkan BBM ketimbang melakukan pembatasan. Kaarena hak itu bisa menimbulkan persoalan pelik di lapangan. Karena itu demi menjaga situasi, maka tidak ada cara lain selain menaikkan harga Premium. “Untuk pembatasan premium subsidi, tidak ada cara lain selain menaikkan harga (BBM)," katanya.

Lebih jauh kata JK-panggilan akrabnya, pembatasan BBM bersubsidi ini sangat rawan menimbulkan perkelahian. Oleh karena itu ppsi menaikkan harga merupakan langkah yang paling mungkin karena semua orang yang mempunyai kendaraan bermotor adalah orang yang mampu. "Tidak ada cara lain, jadi sebaiknya naikkan saja, yang beli kan hanya orang mampu. Bisa beli motor kan berarti bisa beli bensin," terangnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, opsi pembatasan BBM tersebut juga bisa menimbulkan masalah baru. Seperti misalnya mobil plat kuning yang bisa saja menyalahgunakan keadaan tersebut. Karena, sangat mungkin mobil plat kuning tersebut memainkan pasokan BBM tersebut. "Itu mobil plat kuning bisa ambil di mana-mana. bisa ambil premium dari mana-mana, dan dijual lagi ke tempat lain," tambahnya. **cahyo

Related posts