BI Perkirakan Inflasi Sekitar 0,7%

Sampai Pertengahan Agustus 2012

Senin, 23/07/2012

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia memperkirakan angka inflasi akan menyentuh 0,6%- 0,7% pada Juli-Agustus 2012 nanti. , setelah pada bulan sebelumnya masih di kisaran 0,51%. Namun setelah Agustus inflasi diperkirakan akan turun. “Di bulan Juli, inflasi diperkirakan menyentuh 0,6% – 0,7%. Kemarin itu Juni sekitar 0,51%. Dan Agustus biasanya akan turun lagi, kemungkinan di bawah 0,7%,” kata Hartadi A. Sarwono, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono di Jakarta.

Menurut Hartadi, kenaikan inflasi itu dipengaruhi Ramadhan dan Idul Fitri nanti. Karena harga barang kebutuhan naik melebihi hari-hari sebelumnya. Namun pasokan akan ditingkatkan, maka harga barang juga tidak terlalu mahal dan inflasi juga tidak ikut naik. “Karena pengaruh puasa Ramadhan dan hari raya pasti ada kenaikan. Tapi itu baru proses musiman, tipikal. Kalau kita nanti berhasil menyediakan pasokan dengan baik. Itu penting juga, sehingga inflasi tidak setinggi biasanya,” jelasnya

Hartadi menambahkan yang pentingkan adalah pasokan yang cukup dan distribusi yang tepat kepada konsumen. Pasokan itu bisa melalui impor atau pun tidak. “Saya tidak tahu kalau masalah impor, tapi yang penting adalah jumlah konsumen cukup apa tidak, pasokan beras, gula, dan lain sebagainya itu harus ada. Kalau kurang atau tidak mencukupi seharusnya kan diimpor, biar harganya tidak melonjak. Kalau soal jumlahnya saya tidak tahu,” ujarnya.

Dari sisi konsumsi, Hartadi berpendapat lonjakannya juga tidak akan terlalu drastis. “Konsumsi masyarakat sebenarnya tidak terlalu berubah selama bulan Ramadhan seperti tahun-tahun kemarin. Jadi tidak elastis banget. Jadi saya percaya tidak ada lonjakan yang tinggi sekali. Kita bisa menghitung paling tidak sama atau lebih besar dari tahun lalu,” paparnya.

Pada tahun 2011 sendiri, inflasi pada saat Ramadhan dan Idul Fitri tidak terlalu tinggi, akibat dari pasokan pemerintah yang memadai. “Inflasi pada bulan puasa tahun lalu tidak terlalu tinggi, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena pada tahun lalu, pengaruh konsumsi masyarakat tidak terlalu berpengaruh pada harga-harga pada saat Lebaran, karena usaha Pemerintah untuk memenuhi pasokan. Saya berharap tahun ini juga terjadi seperti itu,” jelas Hartadi.

Kemudian untuk pertumbuhan ekonomi, BI memprediksinya lebih rendah daripada yang diprediksi pemerintah. “Kami, BI, sudah membicarakan itu ketika rapat panitia anggaran (APBN) 2013. Apa yang disebut BI sedikit lebih rendah dari apa yang ditetapkan pemerintah. Kita pasang tahun depan maksimum 6,5%, dan Pemeritah 6,8%. Tahun ini masih di sekitar 6,1% - 6,2%,” ujar Hartadi.

Ia menambahkan pertumbuhan Indonesia diperkirakan takkan mencapai 4% walaupun keadaan ekonomi global semakin memburuk. “Mudah-mudahan kita tidak sampai mencapai 4%. Karena pertumbuhan ekonomi global tidak secepat itu membaiknya. Jadi tahun ini lebih lambat jadi bisa mempengaruhi tahun depannya,” tutupnya. **ria