Terpukul Harga Batubara, Penjualan UNTR Anjlok 2,35% - Kinerja Semester Pertama

NERACA

Jakarta – Ketatnya bisnis persaingan industri alat berat, ditambah harga komoditas yang cenderung turun bersamaan industri pertambangan yang mengalami tekanan, memukul kinerja PT United Tracator Tbk (UNTR). Pasalnya, penjualan alat berat perseroan pada semester I-2012 mengalami penurunan 2,35% dari 4.333 unit tmenjadi 4.231 unit. Penjualan bulan Juni bahkan turun lebih dalam 35% menjadi 502 unit dari bulan sebelumnya 773 unit.

Direktur UNTR Gidion Hasan mengatakan, harga komoditas dunia tidak secemerlang periode sebelumnya menjadikan pelanggan mengurangi pemesanan alat berat, “Selain itu, ditambah kebijakan regulasi tentang pembatasan ekspor mineral juga menghambat penjualan alat berat," katanya di Jakarta, Jumat akhir pekan kemarin.

Selain itu, persaingan di industri alat berat juga makin tinggi. Semakin banyak pemain atau distributor alat berat yang mampu menawarkan harga yang bersaing. Khususnya pada alat berat dengan ukuran 20 ton. "Persaingan alat berat, utamanya untuk tipe kecil. Yang 20 ton, kontribusi terhadap penjualan cukup signifikan. Sekitar 40%," tegas Gidion.

Sebagaimana diketahui, hingga total penjualan Juni mencapai 502 unit. Sedangkan tren penjualan alat berat UNTR sepanjang Januari-Juni berada di kisaran 700 unit per bulannya. Menjelang akhir semester I-2012, penjualan alat berat UNTR hanya 502 unit. Penjualan Juni menjadi yang paling rendah setelah di Januari lalu berhasil berdagang alat berat sebanyak 617 unit. Namun jika memperhitungkan akumulasi selama semester I-2012, total penjualan alat berat UNTR mencapai 4.231 unit atau turun hanya 2,35% dari semester I-2011 sebanyak 4.333 unit.

Sementara analis saham AM Capital, Andre Mahardika menuturkan, United Tractors diperkirakan sulit untuk mencapai target penjualan alat berat komatsu hingga 8.500 unit di tahun ini. Sebab perseroan harus menjual sebanyak 712 unit per bulan di sisa akhir tahun ini. "Kami anggap cukup sulit untuk mencapai tingkat volume penjualan terebut," ungkapnya.

Dijelaskannya, penurunan penjualan alat berat karena sektor pertambangan batu bara yang menjadi pasar utamanya sedang tertekan dengan penurunan harga batu bara di pasar global. Harga batu bara di pasar Newcastle berada di US$83,1 per ton pada bulan Juni atau terandah sejak 31 bulan terakir atau Desember 2009.

Penjualan bulan Juni 2012 untuk sektor kehutanan mencapai 28 unit atau terndah sejak 6 bulan terakhir. Penjualan untuk proyek mencapai 57 unit atau terendah sejak Agustus 2011. Kontraktor pertambangan ini mencatat karena rendanya keterseidaan alat berat salah satu anak usahanya PT Prima Multi Mineral (PMM) di bulan Juni. Selain itu di salah satu klien PMM terjadi aksi masa menghadap lokasi pertambangan selama 7 hari. Namun saat ini telah beroperasi lagi.

Penjualan batu bara mencapai 441.000 ton. Saat ini perseroan menunggu kenaikan harga batu bara lagi untuk meningkatkan volume penjualan. Sebab perseroan tidak mengalami masalah dalam produksi batu bara. (bani)

BERITA TERKAIT

Pertamina EP Catatkan Kinerja Positif di Semester I

  NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2018.…

Laba Bersih Bank Pemata Anjlok 56,18%

Performance kinerja keuangan PT Bank Permata Tbk (BNLI) belum cukup memuaskan investor. Pasalnya, di paruh pertama tahun ini perseroan mencatatkan…

Sarana Menara Rencanakan Buyback Saham 5% - Jaga Pertumbuhan Harga Saham

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), emiten infrastruktur telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hasnur Group Bina Juara Dunia Karate

NERACA Jakarta - Keinginan Fauzan, karateka asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang belum lama ini berhasil memenangi Kejuaraan Dunia Karate Tradisional…

BNI Terbitkan MTN Subordinasi Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - Perkuat likuiditas dalam rangka rangka mendanai ekspansi bisnis, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada tanggal 10…

ADHI Kantungi Kontrak Baru Rp 7,45 Triliun

NERACA Jakarta — Sampai dengan Juli 2018, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengantongi kontrak baru Rp7,45 triliun dengan kontribusi…