WIKA Serius Garap Pembangkit Tenaga Listrik - Telan Investasi Capai US$ 110 Juta

NERACA

Jakarta - Emiten konstruksi pelat merah, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melalui anak usahanya yaitu WIKA Jabar Power, tengah giat menggenjot bisnis pembangkit listrik. WIKA sedang menggarap proyek pengadaan listrik panas bumi.

Sekretaris Perusahaan WIKA, Natal Argawan mengatakan, WIKA telah mengantongi izin pengelolaan wilayah kerja pertambangan (WKP) Gunung Tampomas di Sumedang, Jawa Barat. Setelah survei tuntas, WIKA akan mengebor (drilling) untuk mencari panas bumi yang bisa menghasilkan listrik. "Kami sudah melakukan survei," ujarnya akhir pekan kemarin.

Natal menambahkan, kegiatan pengeboran sumur eksplorasi panas bumi ini berisiko sangat besar. Untuk itu perlu pembuktian dengan menemukan satu reservoir aktif terlebih dahulu. "Kami harus mengebor dan mengetes sumur untuk mengidentifikasi area yang produktif dari WKP Tampomas," jelasnya.

Untuk tahap pertama, akan dibor dua sumur dari rencana tujuh sumur. Ongkos mengebor satu sumur mencapai US$ 5 juta. Setelah pengeboran selesai, WIKA akan membangun konstruksi pembangkit listrik geotermal. Namun, Natal belum bisa menargetkan penyelesaian pengeboran dan pembangunan konstruksi tersebut. "Yang jelas, prosesnya bertahap," ujarnya.

WIKA Jabar Power membutuhkan US$ 110 juta di proyek geotermal ini. Kapasitas pembangkit listrik ini ditargetkan sekitar 40 MW. Sekedar informasi, Jabar Power adalah perusahaan patungan. WIKA memegang saham mayoritas, yakni sebesar 55 %.

Sementara sisanya dipegang PT Jasa Sarana (40%) dan PT Resources Jaya Teknik Management (5%). Kalau sudah beroperasi, listrik dari WIKA ini untuk menyuplai kebutuhan listrik di Sumedang dan sekitarnya selama 30 tahun.

Selain proyek pembangkit listrik yang digarap secara patungan, WIKA juga melakukan investasi sendiri di pembangkit listrik. Menurut Direktur Utama WIKA Bintang Perbowo, upaya ini bertujuan menopang kinerja WIKA ke depan. "Perseroan harus memikirkan pemasukan lain berupa recurring income, di luar pendapatan dari pengerjaan proyek," ujarnya.

WIKA serius berbisnis pembangkit listrik karena kebutuhan listrik di Indonesia sangat besar. Sebagai gambaran, kebutuhan listrik di Sumatera saja mencapai 40.000 MW. "Ada potensi besar di situ," ujar Bintang.

Sementara Natal menuturkan, WIKA juga baru saja mendapatkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Rawa Minyak berkapasitas 1x25 MW dengan nilai investasinya sebesar Rp 170 miliar.

Pembangunan konstruksi pembangkit ini akan dimulai bulan depan dan selesai setahun kemudian. PLTG ini diperkirakan beroperasi pada pertengahan 2013. Dengan adanya PLTG Rawa Minyak ini, WIKA akan memiliki total lima investasi di pembangkit listrik. Dari keempat pembangkit ini akan berkontribusi sebesar 10% terhadap laba bersih WIKA di tahun ini. "Ekspektasi kami, laba bersih tahun ini sebesar Rp 430 miliar," pungkasnya. (didi)

BERITA TERKAIT

Ford Produksi Mobil Listrik di Jerman Setelah Masa Fiesta Habis

Produsen otomotif Amerika Serikat, Ford, baru bisa memproduksi kendaraan listrik di Jerman setelah tahun 2023, saat siklus produk Ford Fiesta…

Tahun Politik Diklaim Aman untuk Investasi

    NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan kondisi politik di Indonesia stabil dan…

Jabar Buka Delapan Peluang Investasi 2018

Jabar Buka Delapan Peluang Investasi 2018 NERACA Bekasi - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Jawa Barat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

IHSG Sepekan Tumbuh 1,07% - Kapitalisasi Pasar di BEI Capai Rp 7 Triliun

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin atau priode 16 hingga…

BEI Padang Ikut Gelar Tes Serentak CMP DP

Sebanyak 86 peserta mengikuti tes tertulis tenaga profesional pasar modal untuk mengikuti Capital Market Professional-Development Program (CMP-DP) 2018 yang diselenggarakan…

Indofarma Anggarkan Capex Rp 160 Miliar

Danai pengembangan bisnis, PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) tahun ini menganggarkan belanja modal atau (capital expenditure /capex) sebesar Rp160 miliar.…