Sehat dengan Murah dan Berkualitas Adalah Pilihan

Revitalisasi Penggunaan Obat Generik

Senin, 23/07/2012

NERACA

Jakarta – Orang miskin dilarang sakit, salah satu idiom yang nyaris terbilang klasik di Indonesia untuk menggambarkan ironi pelayanan kesehatan bagi masyarakat kebanyakan. Lalu bila si miskin sakit, maka obat yang diberikan adalah obat yang sesuai dengan koceknya dan biasanya diberikan obat generik lantaran murah. Oleh karena itu, obat generik selalu di indentikkan dengan obatnya orang miskin karena harganya murah dan kualitas tentu sesuai dengan harganya.

Dampak dari penilaian tersebut, masyarakat enggan menggunakan obat generik karena kualitasnya rendah, semurah harganya dan lebih memilih obat yang lebih mahal dengan jaminan kualitas yang tinggi. Tentunya, pandangan obat generik sebagai obatnya masyarakat kurang mampu, jelas salah dan menyesatkan. Pasalnya, masyarakat akan terjebak pada sikap tidak efisien saat membeli obat yang berkualitas dan harga terjangkau.

Perlu diakui, selama ini masyarakat masih berpandangan sempit tentang obat, dimana menilai kualitas obat dengan harganya. Produk obat memang berbeda dengan produk lainnya, yang umumnya menilai semakin tinggi harga produk maka semakin baik kualitasnya. Namun yang pasti obat generik sendiri memiliki kualitas yang sama dengan obat mahal lainnya.

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang pernah bilang, obat generik tidak kalah baiknya dengan obat bermerek karena sudah melalui standardisasi mutu sehingga masyarakat tidak perlu ragu mengkonsumsinya.

Tentang Obat Generik

Obat generik adalah sebutan bagi obat yang telah habis masa paten sehingga berhak diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa harus membayar royalti. Jenisnya ada dua yakni bermerek dagang dan berlogo. Nah dinamakan Obat Generik Berlogo atau OGB karena obat ini berciri sebuah logo lingkaran hijau bergaris putih dengan tulisan, GENERIK dibagian tengahnya.

Sedangkan obat paten adalah produk obat dari sebuah perusahaan farmasi yang telah menemukan kimiawi suatu jenis obat. Nah untuk melindungi kekayaan intelektual atas penemuan yang dilakukan, maka formulasi kimiawi tersebut dipatenkan dan jadilah obat paten. Umumnya paten berlaku selama 20 tahun, dimulai sejak obat ini diluncurkan ke pasar dan digunakan oleh manusia.

Dengan hak paten yang dimiliki, perusahaan farmasi yang memproduksi obat bermerek dapat meraup keuntungan besar dengan harga produk yang mahal. Padahal setelah hak atas paten berakhir, semua industri farmasi memiliki hak untuk memproduksi dan memasarkan produk sekelas kualitas hak paten. Obat yang diproduksi berdasarkan salinan kimiawi obat paten tersebut hadir dalam berbagai merek dagang dan dikenal dengan nama Obat Generik Berlogo (OGB).

Bagaimana soal kualitas? Tentu saja tak kalah dengan obat bermerek lainnya bahkan dijual dengan harga terjangkau. Artinya kualitas terbaik identik dengan harga yang mahal menjadi pandangan yang salah kaprah. Namun untuk memproduksi OGB tidak pula semudah membalikan telapak tangan. Karena semua perusahaan farmasi yang memproduksi OBG wajib mengikuti persyaratan dalam Cara Pembutan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia ( BPOM RI ) dan lulus uji bioavailabilitas/bioekivalensi (BA/BE) dalam menjaga mutu obat generik.

Diminati Masyarakat

Kampanyekan masyarakat untuk menggunakan obat generik bukanlah suatu hal yang mudah, karena perlu proses panjang meluruskan persepsi salah di masyarakat tentang obat generik yang kualitasnya rendah semurah harganya.

Menurut Direktur RS Persahabatan dr. Priyanti Z Soepandi Sp.P (K), salah satu cara yang terus dilakukan untuk meningkatkan penggunaan OGB di rumah sakit adalah dengan terus diadakannya edukasi dan sosialisasi mengenai keunggulan obat generik. “Selama ini beberapa golongan masyarakat masih memandang remeh obat generik, padahal obat generik sama ampuhnya dengan obat paten. Karenanya pengenalan mengenai keunggulan obat generik harus terus dilakukan, “ ujarnya.

Selain itu, dukungan dokter juga sangat penting untuk memberikan resep obat generik kepada pasien dalam setiap pengobatan. Pasalnya, tidak semua dokter dengan senang hati memberikan resep obat generik kepada pasien. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal tersebut, salah satunya adalah pandangan masyarakat yang menganggap remeh obat generik sehingga akhirnya akan mengurangi reputasi dokter.

Tentunya, tidak ada alasan terutama bagi konsumen yang berkantong tebal untuk ragu dan merasa bersalah, jika hendak memilih obat generik dengan alasan penghematan. Disamping itu, pasien perlu kritis dengan meminta obat generik karena kualitas terbukti sama dengan obat bermerek dan harganya jauh lebih murah serta membantu penggunanya.

Kini dengan penerapan Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/068/2010 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, saat ini penggunaan obat generik sudah banyak digunakan di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta.

Kepala Marketing dan Sales PT Dexa Medica Tarcisius T Randy mengatakan, dengan menggunakan obat generik berlogo akan membuat lebih banyak pasien yang bisa tertangani, dengan kata lain memakai obat generik berlogo merupakan cara hemat untuk sehat.

Selain itu, mahalnya harga obat paten membuat obat generik semakin diminati banyak orang disamping persepsi masyarakat, tenaga medis mengenai obat generik semakin positif dan masyarakat kini lebih mengenal apa itu obat generik berlogo, sehingga tidak kuatir lagi menggunakannya. Alhasil, berkah persepsi masyarakat terhadap OGB yang semakin membaik, meningkatkan penjualan OGB di Indonesia dan nilainya secara umum dalam setahun bisa mencapai Rp 1 triliun dari total nilai pasar obat sebesar Rp 37 triliun.

Pasar Obat Generik

Tarcisius T Randy mengungkapkan, potensi pertumbuhan pasar obat generik dan alat kesehatan diperkirakan mencapai Rp 9,2 triliun seiring peningkatan permintaan dengan adanya program pemerintah berupa sistem jaminan sosial nasional (SJSN). “Potensi pertumbuhan generik sebesar Rp 9,2 triliun itu didapat dari proyeksi pertambahan jumlah penduduk sebesar 119,2 juta jiwa yang akan dicover asuransi kesehatan," ungkapnya.

Menurutnya, dengan program SJSN yang akan dimulai pada awal 2014, masyarakat golongan menengah bawah dapat meningkatkan konsumsi obat terutama generik dengan bantuan pemerintah. Asal tahu saja, pasar obat generik berlogo terus tumbuh hingga mencapai 23% dan termasuk peningkatan penggunaan obat generik di rumah sakit sebesar 28%. Sedangkan volume penjualan obat generik terus membesar dan kini mencapai sekitar 40% dari penjualan obat nasional. Di negara-negara maju, volume penjualan obat generik mencapai 80%.

Kata Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) Kandrariadi Suhanda, pasar obat generik diperkirakan akan berkembang pesat dari sisi nilai dan volumenya. Pasalnya, dukungan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan produk berbiaya rendah dan mudah terjangkau oleh masyarakat, tentu mempermudah hal ini, “Bangsa Indonesia perlu obat yang terjamin khasiatnya, aman, efektif, dan bermutu, dengan harga yang terjangkau, serta mudah diakses,”tandasnya.

Jadi sudah saatnya hak masyarakat menggunakan obat murah berkualitas tinggi dan efisien, harus dibuka lebih lebar karena ini adalah pilihan dan dengan begitu revitalisasi penggunaan obat generik yang digalang pemerintah bisa berjalan sukses.