Puasa dan Persatuan Umat

Oleh: A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pemerintah telah resmi menetapkan awal Ramadhan jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012. Namun demikian, ada beberapa ormas Islam yang tetap melaksanakan sesuai dengan keyakinan mereka, ada yang mulai hari ini (20/7). Bahkan, umat Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat sudah mulai puasa sejak 18 Juli. Juga dengan Jama'ah An-Nadzir di Gowa Sulawesi mulai puasa sejak 19 Juli.

Penggunaan metode rukyat atau penglihatan merupakan contoh pengamatan langsung yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ketika zaman Rasulullah saat bulan tidak nampak, misalnya saat mendung maka digenapkan menjadi 30 hari. Demikian pula dengan, penggunaan metode hisab yang terkenal selalu mendahului pemerintah, dimana pemerintah sering memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah.

Namun tantangan ke depan, para ulama sejatinya terus memperbaharui dan melengkapi lagi, dengan berbagai metode ilmu alam lainnya. Apalagi dunia astronomi terus berkembang dengan berbagai peralatannya.

Padahal ahli Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sudah menyebutkan hilal (bulan) ketika matahari terbenam pada Kamis 19 Juli, terlalu rendah sehingga tidak akan bisa terlihat. Artinya, Hilal kurang dari 1,5 derajat sehingga terlalu rendah untuk bisa diamati, cahayanya terlalu lemah.

Dengan demikian bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadhan 1433 Hijriyah jatuh pada keesokan harinya Sabtu, 21 Juli 2012. Tentulah sangat disayangkan, para ulama dari masing-masing ormas yang bertahan pada pendapatnya. Sehingga terjadi perbedaan awal puasa. Padahal sebenarnya persoalan perbedaan ini bisa dicairkan dan disatukan.

Boleh-boleh saja, masing-masing ormas memiliki ahli hisab dan rukyat. Namun sayangnya para ormas tersebut tak memahami kepakaran dan keahlian astronomi. Bukannya ahli astronomi yang sudah dilengkapi dengan berbagai kecanggihan teknologi, baik itu satelit, teropong maupun yang lainnya.

Bukankah dengan teknologi satelit, prediksi datangnya gerhana bulan dan matahari dapat dihitung, bersamaan dengan sejumlah daerah yang dapat melihatnya. Memang diakui, perbedaan awal puasa jangan dibesar-besarkan dan dipertentangkan. Boleh saja ada pendapat, perbedaan dalam Islam adalah rahmat.

Namun tak kalah pentingnya, adalah perlunya menjaga persatuan umat Islam di Indonesia. Karena pendapat para ulama selalu menjadi rujukan umat. Apalagi ulama adalah pewaris para nabi. Jadi sudah selayaknya ormas mengedepankan dan menjaga persatuan umat.

Mereka yang hidup di bumi nusantara semestinya menghormati dan menghargai keputusan pemerintah. Setidaknya ini untuk menjaga keutuhan antarumat di masa depan.

BERITA TERKAIT

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…

Layanan XL 4G LTE Masuk Sumatera dan Sulawesi - Perluas Jaringan di Luar Jawa

NERACA  Jakarta - PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus melakukan perluasan jaringan layanan data berkualitas di pulau Sumatra dan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kebijakan Harus Taat Azas

Pemerhati Industri dan Perdagangan, Fauzi Aziz   Definisi secara umum, kebijakan adalah suatu tindakan yang diambil melalui sebuah keputusan untuk…

Estimasi Risiko Proyek Infrastruktur

    Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pemerintah memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengejar ketinggalan infrastruktur kita.…

Keniscayaan Kompetisi dan Kolaborasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Tidak ada kompetisi, dunia akan sepi. Tanpa ada kompetisi ilmu pengetahuan…