Kelas Menengah Punya Potensi Hancurkan Birokrasi

Jumat, 20/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah mengingatkan birokrasi di Indonesia agar menyiapkan diri menghadapi kelas menengah. Karena mereka punya potensi menghancurkan. "Kalau tak cepat-cepat merespons, akan ditinggalkan atau bahkan dihancurkan oleh kelas menengah," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan di Jakarta,19/7

Menurut Dahlan, kelas menengah itu bercirikan tuntutan untuk serba cepat, tidak mau lagi menderita dan bersuara vokal sehingga memiliki kekuatan menekan (pressure) lebih besar.

Terkait itu, Dahlan Iskan menilai kondisi birokrasi di Indonesia tidak lagi cocok dengan perkembangan kelas menengah yang memiliki tuntutan-tuntutan demikian. "Birokrasi masih lambat, kelas menengahnya ingin lebih cepat. Pilihannya, kelas menengah ikut birokrasi, atau birokrasi ikut kelas menangah," ujarnya

Jika kelas menengah mengikuti birokrasi, kata Dahlan, maka mereka jangan naik pesawat, jangan punya mobil, jangan punya handphone dan jangan pakai internet. Tapi situasinya sudah tidak seperti itu, masyarakat punya keinginan-keinginan seperti itu, maka yang berubah harus birokrasinya. "Pilihannya satu, birokrasinya harus berubah. Kalau birokrasi tak bisa meresponsnya, maka Indonesia akan gagal menjadi negara modern," jelasnya

Sebuah studi penelitian dan pengembangan oleh salah satu media massa dan dipublikasikan Kamis (19/7) menyebutkan Indonesia dewasa ini sudah dikuasai kelas menengah yang jumlahnya mencapai 50,3%. Sedangkan sisanya yakni banyak ditemukan kelas menengah bawah yang mencapai 39,6%. Kelas menengah atas hanya 3,6%, kelas atas satu persen dan kelas bawah atau kelas yang betul-betul miskin mencapai 5,6%.

Kelas menengah disebutkan sebagai strata sosial dengan anggota terbesar saat ini yang terbentuk oleh mobilitas ke atas yang cukup besar, yakni berupa naiknya status sosial sejumlah orang yang tadinya berasal dari kelas bawah menjadi kelas menengah.

Komposisinya dilengkapi turunnya sejumlah orang dari kalangan kelas atas dan kelas menengah atas ke kelompok menengah. Kelas menengah yang secara sosial ekonomi belum cukup kuat, bercirikan rata-rata pendidikan SMA berpenghasilan berkisar Rp1,9 juta dan pengeluaran Rp750.000 sampai Rp 1,9 juta per bulan.

Kelas menengah ini juga dicirikan oleh luasnya variasi pekerjaan, mulai dari wirausaha perseorangan, pegawai swasta setingkat supervisor dan karyawan biasa, serta mereka yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga, palajar/mahasiswa, dan pensiunan.

Kelas menengah juga bercirikan kaum mulai melek teknologi dibandingkan dengan kelas bawah. Mereka memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan dengan kelas menengah atas. Rata-rata pencari nafkah dari kelas ini bekerja delapan jam per hari, kelas menengah atas bekerja 10 jam sehari.

Meskipun memiliki kecenderungan mengejar materi demi mempertahankan identitas kelasnya, sesungguhnya kelas menengah lebih menampakkan gambaran psikologis tipe orang yang percaya, memiliki kepercayaan tebal pada tradisi dan nilai-nilai keluarga, agama, masyarakat, serta kehidupan bernegara.

Dari sisi pandangan politik, kelas menengah dan menengah atas cenderung konservatif, menghargai otoritas dan "status quo" terhadap permasalahan bangsa, kritis menilai baik atau buruknya keadaan, tetapi belum tergerak untuk mengorganisasi diri untuk mengubahnya. **cahyo