Bank Dunia Tengarai 4 Tantangan Atasi Kemiskinan

NERACA

Jakarta--Bank Dunia mengungkapkan 4 tantangan besar yang harus dihadapi berbagai pihak untuk secara bersama-sama mengatasi kemiskinan di berbagai belahan dunia. "Masih banyak hal besar yang mesti dilakukan untuk mempercepat perjuangan kita melawan kemiskinan global dan saya melihat empat tantangan utama," kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim di Jakarta, Kamis,19/7

Menurut Jim, tantangan pertama adalah memproteksi pertumbuhan ekonomi yang telah diperoleh berbagai negara melawan beragam risiko yang muncul akibat krisis ekonomi global.

Dikatakan Jim, di dunia yang saling terhubung seperti saat ini, krisis di satu kawasan akan dapat berdampak kepada semua negara seperti krisis besar di Eropa dinilai dapat mengurangi rata-rata empat persen lebih dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan oleh negara-negara berkembang.

Untuk itu, katanya lagi, Bank Dunia juga siap untuk membantu negara-negara berkembang melindungi pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, dan kaum miskin antara lain dengan membantu kualitas pengeluaran fiskal dan membantu negara-negaratersebut dalam membangun jaringan pengaman yang berbiaya efektif.

Menurut Jim lagi, pihaknya telah bekerja sama dengan beragam pemerintahan untuk memperluas jaring pengaman di sebanyak 40 negara untuk memastikan bahwa setiap negara berkembang memiliki jaring pengaman yang efektif dan berkelanjutan.

Sementara tantangan kedua adalah perlunya memperluas pembangunan di negara-negara yang kerap dilupakan terutama karena negara itu sedang dalam keadaan rapuh atau berkonflik.

Ia mengingatkan, masih terdapat sejumlah kawasan dan negara yang terus-menerus mengalami siklus konflik dan ketidakstabilan sehingga tidak dapat mencapai Millenium Development Goal (MDG).

Tantangan ketiga adalah memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai dapat berkelanjutan antara lain dengan memodernisasikan struktur ekonomi dan program pemerintah khususnya di negara-negara berpenghasilan menengah. “Mereka harus menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas yang selaras dengan ekspektasi dari warga negaranya," terangnya

Terakhir, tantangan keempat adalah menjaga agar pertumbuhan ekonomi dicapai secara inklusif yang bermakna tersebar secara luas dan merata.

Yang jelas kata Jim, hal tersebut penting karena masih terdapat negara-negara berkembang yang meningkatkan kesejahteraan kelas menengahnya tetapi meninggalkan bagian populasinya yang termiskin.

Karenanya, Jim Young Kim menegaskan bahwa penghormatan terhadap hak individu, aturan hukum, dan tata kelola yang berkeadilan harus sejalan dengan pembangunan yang inklusif, yang dapat dicapai antara lain dengan membuat lembaga-lembaga di suatu negara agar dapat lebih terbuka dan akuntabel. **

BERITA TERKAIT

ASEAN dan Kemiskinan

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo ASEAN yang kini menapaki 51 tahun ternyata…

Pemerintah Diminta Segera Atasi Defisit Transaksi Berjalan

    NERACA   Jakarta - Pemerintah diminta segera mengatasi defisit transaksi berjalan dalam neraca perdagangan untuk membantu menambah devisa…

Gubernur Optimis Aset Bank Jatim Tembus Rp100 Triliun

    NERACA   Jakarta - Gubernur Jawa Timur Soekarwo optimistis jika aset Bank Jatim akan mencapai lebih dari Rp100…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Rupiah dan Neraca Perdagangan Perlu Jadi Perhatian Capres

      NERACA   Jakarta - Kondisi ekonomi Indonesia yang naik turun belakangan ini wajib menjadi perhatian para Calon…

Pemerintah akan Sesuaikan Agenda Pertemuan IMF-Bank Dunia

      NERACA   Jakarta - Pascagempa beruntun yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pemerintah mengaku akan melakukan…

Bangun Infrastruktur, Jangan Bebani Devisa

    NERACA   Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Johnny G. Plate menginginkan pembangunan infrastruktur jangan sampai membuat defisit…