Neraca Rumah Tangga Bisa Pengaruhi Perbankan

Jumat, 20/07/2012

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia mengungkapkan sektor rumah tangga dapat mempengaruhi kondisi perbankan dan ekonomi nasional. Alasanya salah satu sumber pembiayaan industri ini berasal dari lembaga keuangan. "Pada kondisi defisit sektor rumah tangga akan mencari sumber investasi melalui pinjaman lembaga keuangan, sehingga kesehatan rumah tangga dapat mempengaruhi sektor perbankan," kata Direktur Pengaturan dan Penelitian Bank Indonesia Mulya Siregar di Jakarta, Kamis.

Lebih jauh kata Mulya, perkembangan sektor rumah tangga menjadi penting. Untuk mengukur dan memonitor sektor ini perlu data untuk menggambarkan sektor rumah tangga. "Saat ini data mengenai sektor rumah tangga masih terbatas, maka sebagai langkah awal Bank Indonesia telah melakukan survei neraca keuangan rumah tangga sejak 2007. Hasil survei dapat digunakan untuk membangun neraca rumah tangga secara nasional khususnya rumah tangga yang memiliki pengaruh pada sektor keuangan nasional dan perbankan," tambahnya

Menurut Mulya, sektor rumah tangga memiliki pengaruh terhadap pencapaian stabilitas moneter dan sistem keuangan. Untuk mengetahui neraca keuangan pelaku rumah tangga dapat dilihat dari misalnya tabungan dan pengeluaran rumah tangga. "Survei juga bisa dilakukan terhadap deposito, saham dan surat berharga lain, atau aset lain seperti rumah dan tanah," ujarnya

Sementara Deputi Direktur Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Yunita Resmi Sari mengatakan di sisi lain potensi pembiayaan terhadap sektor rumah tangga saat ini masih sangat tinggi, sebab likuiditas rumah tangga masih tinggi, tingkat utang dalam membiayai aset-aset juga rendah, serta meningkatnya kemampuan sektor tersebut dalam membayar utang.

Lebih lanjut Yunita menambahkan hasil survei 2011 yang dilakukan BI terhadap 4.095 responden di 10 wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia, terjadi jumlah pergeseran jumlah responden kategori pendatapan menengah ke kategori pendapatan rendah dan tinggi.

Yunita mengatakan saat ini kategori masyarakat berpendapatan rendah kurang Rp20 juta setahun sebesar 22,1%, kelas pendapatan menengah antara Rp20 juta sampai Rp65 juta sebesar 60,9% dan pendapatan tinggi atau lebih Rp65 juta setahun. "Dari jumlah responden tersebut 51,8% tidak memiliki simpanan di lembaga keuangan. Sedangkan yang memiliki simpanan sebesar 48,11%," jelasnya

Dikatakan Yunita, dari sisi pinjaman, sebesar 54,9% responden belum memiliki pinjaman atau tidak meminjam ke bank. Sedangkan yang memiliki pinjaman sebesar 45,1%. "Dari yang meminjam itu sebagian besar melakukan pinjaman di non lembaga keuangan yakni sebesar 24,37%, di bank 19% dan lembaga keuangan non bank 16,04%. Ini bisa menjadi potensi bagi perbankan Indonesia," ungkapnya

Menurut Yunita, meskipun saat ini responden yang meminjam di lembaga keuangan masih lebih rendah dari pinjaman ke lembaga keuangan non bank, namun jumlahnya sudah meningkat sejak tahun lalu. **ria