Dorong Ekspor Hortikultura, Kemendag Incar Pasar Eropa

Jumat, 20/07/2012

NERACA

Jakarta - Meskipun saat ini nilai perdagangan Indonesia untuk produk hortikultura masih negatif, namun potensi hortikultura, khususnya sayuran dan buah, masih cukup besar dan variatif. Walaupun beberapa negara-negara di Eropa tengah mengalami krisis, namun Kementerian Perdagangan tengah berupaya memperluas pasar ke Eropa dengan melakukan sosialisasi melalui Swiss Import Promotion Programme (SIPPO) untuk meningkatkan kemampuan para eksportir agar dapat menyesuaikan kualitas produknya di negara tujuan ekspor.

“Kami optimis bahwa produk hortikultura Indonesia mampu bersaing dengan produk hortikultura dari negara lain. Dari segi rasa, kita masih unggul, namun dari segi tampilan memang harus kita perbaiki agar lebih menarik konsumen. Oleh karena itu, ini merupakan salah satu PR (Pekerjaan Rumah) yang harus kita selesaikan bersama,” ungkap Direktur Pengembangan Produk Ekspor dan Ekonomi Kreatif Dody Edward melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Kamis (19/7).

Perkembangan ekspor sayuran dan buah Indonesia selama periode 2007-2011 menunjukan tren yang cenderung positif, yaitu sebesar 8,26%, dengan negara yang menjadi tujuan ekspor antara lain Singapura, Pakistan, India, China dan Bangladesh. Pada tahun 2007 nilai ekspor sayuran dan buah Indonesia mencapai US$335 juta, sementara pada tahun 2011 nilai ekspornya mencapai US$ 493 juta. Adapun nilai ekspor periode Januari-April 2012 telah mencapai US$ 152 juta atau terjadi peningkatan 10,88% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yaitu US$ 137 juta.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, dalam dua tahun ini ekspor hortikultura ke Singapura stagnan pada 6% atau setara 24.000 ton per tahun. Padahal, potensi pasarnya mencapai 400.000 ton per tahun. Dia menjelaskan, stagnasi ekspor hortikultura ke Singapura karena harganya tidak kompetitif dibandingkan dengan komoditas serupa dari negara lain. Harga buah dan sayur asal Indonesia terlalu mahal lantaran terlalu banyak perantara.

Oleh karena itu, Suswono menawarkan kepada Singapura agar bersedia menanam modal di Indonesia di bidang hortikultura. Mereka juga dapat membina petani Indonesia menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Saat panen tiba, produk tersebut dapat langsung dibawa ke Singapura tanpa perantara sehingga harganya lebih bersaing.