Masyarakat Belum Mengakses Bank Capai 49 %

Jumat, 20/07/2012

NERACA

Jakarta---Penduduk Indonesia belum mempunyai akses terhadap lembaga keuangan diperkirakan mencapai 49%. Hal ini terlihat dari sisi rekening tabungan, alasan seseorang belum tersentuh perbankan karena tidak memiliki uang yang mencapai 79%. “Lalu tidak memiliki pekerjaan (9%) dan karena tidak merasakan manfaat dari menabung sebesar 4%,” Chief Economist Bank Mandiri Group Destry Damayanti dalam Seminar Potensi Keuangan Rumah Tangga Indonesia, di Jakarta, Kamis,19/7

Lebih jauh Destry menjelaskan dari sisi pemberian pinjaman, alasan seseorang belum dapat mengakses lembaga keuangan disebabkan belum layak mendapatkan pinjaman (60 %), tidak mau meminjam (20 %), serta sebesar empat % tidak memiliki jaminan. "Masyarakat juga ada yang belum dapat mengakses jasa asuransi, karena tidak memiliki uang, tidak mengetahui mengenai asuransi dan merasa tidak membutuhkan asuransi," tambahnya.

Karena itu, menurut Destry, potensi perbankan memperoleh simpanan dan permintaan pembiayaan dari masyarakat masih sangat cukup besar. Karena itu seluruh perbankan diharapkan dapat melakukan edukasi secara terus menerus untuk membuka akses masyarakat terhadap lembaga keuangan.

Destry mengatakan, kondisi serupa dialami negara berkembang lain, di mana akses finansial masih belum banyak dinikmati oleh masyarakat secara keseluruhan. Di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sebesar 59 % dari populasi penduduknya belum terjangkau layanan finansial.

Destry juga mengatakan, berdasarkan laporan Lembaga Penjamin Simpanan hingga Desember 2011 total simpanan masyarakat di 120 perbankan nasional sebesar Rp2.787 triliun, dengan komposisi kepemilikan dana sebesar 56,4 % di rekening perorangan atau sektor rumah tangga.

Dia mengatakan untuk total pinjaman masyarakat di perbankan pada 2011 sebesar Rp2.220 triliun, dengan kredit investasi sebesar Rp464 triliun, kredit modal kerja Rp 1.069 triliun, dan kredit konsumsi Rp667 triliun.

Beberapa hari lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah mengakui Bank Indonesia sedang mengkaji bcanchless banking. Sistem ini diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang selama ini belum mendapatkan akses ke lembaga keuangan bank. Branchless banking ini merupakan sistem perbankan yang tidak memerlukan keberadaan bank di satu tempat. Nasabah cukup melakukan transaksi keuangan melalui sambungan telepon. "Saat ini kami tengah kaji apakah ini bisa diterapkan di Indonesia," ujarnya

Saat ini diperkirakan nomor telepon genggam yang aktif di Indonesia mencapai 200 juta. BI ingin memanfaatkan hal ini untuk mengembangkan branchless banking. Selain untuk mempermudah transaksi, juga dapat menjangkau masyarakat yang daerahnya masih steril dengan lembaga keuangan. Dengan sistem ini nasabah dapat melakukan pembayaran, transfer, atau membayar tagihan melalui sambungan telepon tanpa harus datang ke cabang bank yang dimaksud.

Terkait dengan International Financial Inclusion Summit (IFIS), Halim mengungkapkan hal ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama yang belum tersentuh lembaga keuangan. BI akan menjadi sekretariat bersama dan diharapkan akan ada pencerahan mengenai inklusi keuangan melalui kegiatan ini.

Halim mengakui saat ini memang masyarakat Indonesia belum semua yang terakses dengan lembaga keuangan. Selain karena minimnya lembaga keuangan di satu wilayah juga karena minimnya kepercayaan masyarakat menggunakan jasa lembaga keuangan. Diharapkan kegiatan ini bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan lembaga keuangan sehingga pertumbuhan ekonomi bisa berjalan lebih baik lagi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat itu sendiri. **ria/cahyo